LiputanIslam.com –  Sejak Suriah menerima sistem pertahanan udara S-300 dari Suriah, jet tempur Israel tidak lagi menjalankan misi tempurnya terhadap Suriah.  Demikian dinyatakan oleh Ksenia Svetlova, anggota komisi politik luar negeri dan pertahanan parlemen Israel, Knesset.

Pernyataan ini penting karena menepis klaim Israel sebelumnya yang mengesankan bahwa jet tempur Israel masih menjalankan misi serangan di dalam wilayah Suriah meskipun Damaskus sudah menerima S-300.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah beberapa kali mengajukan permohonan untuk berkunjung ke Moskow dan menemui Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memberikan penjelasan mengenai dampak arogansi Israel yang telah menyebabkan tertembak jatuhnya pesawat Ilyushin Il-30 oleh sistem pertahanan udara Suriah di dekat pangkalan udara Hmeimim, provinsi Latakia, Suriah, pada September lalu.

Namun, permohonan Netanyahu itu ditolak oleh Rusia, dan belakangan ini dia beberapa kali mencoba mengesankan bahwa pemerintahannya sanggup menghancurkan S-300 yang telah mengubah keseimbangan strategis di kawasan. Dia juga menyebut bahwa Israel memiliki jet tempur siluman F-35 buatan AS yang dia klaim dapat melanjutkan misi serangan tanpa terdeteksi oleh radar S-300.

Padahal, di AS sendiri jet tempur ini telah ditarik untuk sementara waktu karena diketahui memiliki banyak masalah teknis yang parah. Militer AS telah mengandangkan seluruh armada jet tempur terbarunya itu menyusul kecelakaan yang terjadi di South Carolina pada September lalu. Laporan resmi yang mencatat bahwa kesiapan tempur F-35 yang dirilis pada awal tahun ini dipertanyakan setelah ditemukan puluhan kerusakan pada jet yang diklaim sebagai yang tercanggih di generasinya itu.

Terlepas dari itu, Netanyahu gagal memahami betapa Putin ternyata adalah sosok yang tak mempan dipedaya. Putin sejak awal memang tak nyaman dalam bersahabat dengan Israel karena persahabatan ini selalu membebani secara sepihak sehingga Rusia bahkan terpaksa menutup mata di depan serangan Israel ke Suriah dengan dalih melawan eksistensi Iran.

Sekarang bisa jadi Putin merasa menemukan kesempatan emas untuk menyudahi pola perhasabatan dengan segala konsekuensinya itu pasca insiden jatuhnya pesawat pengintai Ilyushin Il-30, apalagi setelah Perdana Menteri Israel melanggar semua garis merah, yaitu ketika dia melangkahi pamor Rusia dengan cara menggempur posisi-posisi Suriah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pangkalan udara Hmeimim yang menjadi basis militer Rusia di dekat Latakia hingga kemudian berujung pada jatuhnya Ilyushin Il-30 dan tewasnya sejumlah pakar Rusia yang ada di dalamnya.

Netanyahu yang pernah melancarkan lebih dari 200 serangan udara di kedalaman wilayah Suriah kini terlihat sudah jera dan tak berani mengulanginya lagi. Sebab Netanyahu mengetahui bahwa jika dia mengulanginya lagi maka reaksi bersama Suriah dan Rusia akan fatal dan bahkan dapat menjatuhkan pemerintahan Netanyahu. Karena itu, dia terpaksa bungkam, dan tak menemukan opsi apapun.

Suriah telah keluar dari perang sebagai pemenang dengan kondisi yang lebih tangguh dan matang, bukan saja karena telah tujuh tahun solid menghadapi konspirasi besar yang didalangi oleh kekuatan raksasa AS dan negara-negara sekutunya di Timteng, terutama Israel, melainkan juga karena kemampuannya menahan diri di depan provokasi Israel di saat Damaskus masih berkonsentrasi melawan terorisme. Dan meskipun Suriah menahan diri, Netanyahu pada akhirnya tak berani menyerang Suriah lagi, setidaknya dalam waktu dekat ini. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*