LiputanIslam.com –  Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan situasi di Suriah mengingatkan orang pada peristiwa yang dulu terjadi di Irak. Dalam jumpa pers dengan sejawatnya dari Italia, Sergio Mattarella, di Moskow, dia mengatakan, “Situasi di Suriah mengingatkan kita kepada apa yang terjadi di Irak ketika AS memulai serangannya ke Baghdad setelah pernyataannya di Dewan Keamanan.”

Apa yang dikatakan Putin ini bukan omong kosong. Hanya saja, dia tidak menyebutkan perbedaan utamanya, yaitu bahwa saat itu Irak terblokade  selama lebih dari 13 tahun, sementara Uni Soviet sekutunya runtuh, dan sebagian besar negara Barat diperalat oleh pemerintahan Presiden AS George W. Bush yang didominasi oleh Israel melalui para agen neo-konservatifnya yang sebagian besar adalah Yahudi Zionis.

Ada dua perkembangan utama yang dapat disorot terkait situasi Suriah, atau panorama lain yang berkaitan dengannya secara langsung maupun tak langsung;

Pertama, statemen Putin bahwa dia memiliki informasi akurat mengenai adanya rencana militer AS untuk menyerang sisi selatan Damaskus, ibu kota Suriah, dan bahwa di kawasan ini terjadi upaya penyelundupan “bahan beracun” lagi supaya pemerintah Suriah bisa dijadikan kambing hitam lalu diserang.

Kedua, pernyataan Wakil Ketua Komisi Pertahanan Rusia  Yury Shvytkin bahwa kecil kemungkinan Rusia akan bereaksi langsung terhadap serangan yang mungkin dilakukan lagi oleh AS terhadap Suriah. Menurutnya, sistem pertahanan udara Suriah sendiri bisa menangkis ancaman apapun dari AS.

Dari dua pernyataan ini dapat dipetik dua kesimpulan. Pertama, AS masih berpotensi menembakkan rudal ke Suriah. Kedua, tentara Suriah sudah mampu mengatasi sendiri serangan ini, meskipun jelas berkoordinasi dengan Rusia.

Kesimpulan ini didukung oleh pernyatan petinggi Pentagon bahwa pemerintah Suriah telah menyiagakan dan meningkatkan sistem pertahanan udaranya di wilayah yang dikuasainya di bagian barat Suriah. Di situ tentara Suriah menambah jumlah radar-radar aktif sehingga mereka dapat memantau dari dekat pergerakan di angkasa.

AS hanya berpotensi menyerang Suriah dengan cara seperti yang dilakukan Jumat pekan lalu, meluncurkan rudal Tomahawk. Hampir tidak mungkin AS akan mengirim jet tempur untuk menghancurkan target-target militer Suriah, mengingat sudah dijalin kesepakatan Moskow dengan Damaskus untuk perlindungan udara Suriah dari serangan pesawat musuh.

Tapi Suriah dipastikan sudah punya kesiapan untuk menangkis serangan baru. Pernyataan petinggi Duma bahwa Suriah sendiri berkemampuan mengatasi serangan rudal mengisyaratkan pada kenyataan bahwa Suriah sudah berbekal sistem pertahanan canggih S-300 atau S-400 anti rudal dan pesawat.

Jauh hari sebelumnya, sistem pertahanan udara Suriah di pangkalan militer Shayrat pernah melepaskan tembakan rudalnya terhadap serbuan jet-tet tempur Israel hingga semuanya kabur dan masuk ke kedalaman wilayah Palestina pendudukan. Saat itu terdengar pula ledakan-ledakan di Lembah Jordan dan kota Baitul Maqdis (Jerussalem).

Peristiwa ini sontak menimbulkan ketakutan pada orang-orang Israel, baik militer maupun sipilnya. Dan penembakan rudal Suriah ini dipastikan mendapat lampu hijau dari Rusia.

Karena itu, tampaknya juga bukan omong kosong pernyataan Yury Shvytkin bahwa berbagai tindakan telah diambil pasca serangan rudal Tomahawk AS terhadap bandara militer Shayrat, dan bahwa semua tindakan ini cukup bagi Suriah untuk melakukan perlawanan sendiri. Dia juga menegaskan bahwa hak Suriah membela diri dijamin oleh undang-undang internasional. Pernyataan ini tak ubahnya dengan lampu hijau kedua bagi Suriah untuk melakukan perlawanan terhadap serangan susulan yang mungkin akan terjadi.

Suhu militer memang sedang memuncak, tapi pengalaman selama ini menunjukkan bahwa di saat demikian semua pihak terkait cenderung melakukan upaya-upaya diplomatik untuk menyeimbangkan keadaan.

Indikasinya sekarang bisa jadi kunjungan Menlu AS Rex Tillerson ke Moskow, yang akan disusul dengan kedatangan Menlu Suriah Walid Moallem dan Menlu Iran Javad Zarif ke Suriah, Jumat (14/4/2017). Ini membuka kemungkinan keluarnya keputusan-keputusan penting kolektif segi tiga.

Deal-deal politik dapat meredakan keadaan, meskipun juga terjadi deal-deal militer yang bisa menjadi bom waktu. Segala keadaan bisa saja terjadi terkait dua jenis deal ini, namun tampaknya deal politiklah yang akan lebih besar pengaruhnya. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL