عاصفة الحزم تتحول إلى عاصفة إحباط عبر تويتر+صورLiputanIslam.com —Setelah menggempur Yaman selama kurang lebih 27 hari atau hampir satu bulan, pemerintah Arab Saudi akhirnya mengumumkan penghentian serangan udara bersandi “Decisive Storm” (Badai Mematikan) yang dimulai pada 26 Maret tersebut.

Juru bicara resmi operasi pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, Brigjen Ahmad Assiri, dalam konferensi per di Riyadh Selasa malam (21/4/2015) mengatakan bahwa dengan berakhirnya Badai Mematikan maka dimulailah operasi “Pemulihan Harapan”. Menurutnya, dalam 27 operasi Badai Mematikan telah dilakukan serangan udara sebanyak 2,415 kali ke Yaman.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa serangan udara itu telah menewaskan 944 orang dan melukai 3,478 orang, sementara layanan kesehatan dan medis di negara miskin ini tak dapat bekerja dengan baik.

Setidaknya 185 unit jet tempur telah dikerahkan dalam operasi itu. 100 unit di antaranya milik Arab Saudi, 30 milik Uni Emirat Arab, 15 milik Bahrain, 15 lainnya milik Kuwait, 10 milik Qatar, dan enam milik Maroko. Beberapa negara lain seperti Mesir juga disebut-sebut ikut mengerahkan pesawat tempurnya.

Semua jet tempur yang dikerahkan tergolong paling mutakhir dan canggih, yaitu F-15, F-16, dan F-18 buatan Amerika Serikat (AS), Tornado buatan Inggris, dan Mirage 2000 buatan Perancis. Semua jet terkini buatan AS dikerahkan, kecuali F-35 karena AS memang belum bersedia menjualnya kepada negara-negara Arab Teluk Persia.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa meskipun serangan koalisi 10 negara Arab itu secara resmi sudah diumumkan berhenti, namun kenyataannya serangan Saudi masih berlanjut di berbagai kota Yaman, termasuk Sanaa dan Taiz.

Menurut Rai al-Youm, rudal, roket dan bom yang dijatuhkan oleh burung-burung besi raksasa itu menghasil ledakan yang hampir setara dengan seperempat ledakan bom atom yang membumi hanguskan kota Hiroshima, Jepang, dalam Perang Dunia II 1945. Meski demikian sebagaimana diungkap Arabi Press, tak ada tujuan dan target apapun yang dapat dicapai oleh dinasti al-Saudi selaku juru kampanye dan pemimpin perang koalisi terhadap Yaman.

“Kekandasan Arab Saudi dalam perang Yaman adalah kesimpulan yang sangat jelas dan tak dapat ditafsirkan lagi,” tulis Arabi Press.

Apa saja sebenarnya tujuan yang hendak dicapai oleh Arab Saudi dari serangan yang merenggut banyak nyawa warga sipil dan menghancurkan infrastruktur negara miskin Yaman tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini tujuan Riyadh di dua kancah, yaitu diplomatik dan operasional, patut mendapat sorotan.

Tujuan Diplomatik

Di kancah politik Saudi tampaknya memburu dua tujuan penting dalam menggalang koalisi Arab;
Pertama, meningkatkan kekuatan militer Saudi dan potensi keberhasilan operasi. Dalam konteks ini berulanghkali mengemuka pembicaraan mengenai opsi serangan darat ke Yaman, dan ini menjadi semakin signifikan ketika Saudi bermaksud melibatkan Mesir, Yordania dan Pakistan ke dalam koalisi dengan tujuan membagi peran dalam perang. Bersamaan dengan serangan udara, Saudi berusaha agar serangan darat yang melibatkan Mesir, Pakistan dan Yordania dapat dilancarkan jika diperlukan. Dengan kata lain, Saudi dan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), kecuali Oman, bertanggungjawab di bidang dana dan persenjataan, sementara Yordania, Mesir dan Pakistan bertanggungjawab menyediakan pasukan.

Kedua, membangun opini dunia Arab. Saudi tahu persis bahwa serangan terhadap sebuah negara Arab dapat memecah belah dunia Arab sehingga juga dapat menjatuhkan kredibilitas Saudi di bangsa-bangsa Arab. Karena itu, Saudi lantas menggalang koalisi Arab agar serangan ke Yaman mendapatkan sebentuk legitimasi trans-nasional dan seolah opini publik Arab mendukung sepak terjang Saudi. Keterlibatan Sudan dan Maroko yang tidak memiliki banyak kepentingan di Yaman dalam koalisi sangatlah membantu ekspektasi Saudi ini.

Kecuali itu, keberhasilan Saudi dalam Badai Mematikan bersama sembilan negara sekutunya juga akan menjadi investasi besar bagi Riyadh dalam upaya mewujudkan poros Saudi di depan poros Iran.

Tujuan Operasional

Di lapangan atau di kancah operasional, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai Saudi. Ahmad Assiri di awal konferensi persnya setelah Badai Mematikan dimulai menyatakan bahwa tujuan utama operasi ini ialah membasmi “pemberontak” Houthi dan memulihkan pemerintahan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansur Hadi.

Dengan mengandalkan kekuatan koalisinya, Saudi tak hanya sekedar bermaksud menumpas gerakan Ansarullah (Houthi) dan menghancurkan kredibilitasnya, tetapi juga berambisi menggenggam masa depan struktur kekuasaan di Yaman dengan mengembalikan Hadi ke tampuk kekuasaan. Dalam rangka ini Saudi gencar menebar propaganda untuk menjustifikasi agresinya ke Yaman sekaligus membangun opini mengenai ilegalitas Ansarullah selaku motor gerakan revolusi rakyat Yaman yang berujung bubarnya pemerintahan Hadi di Sanaa.

Seberapa berhasilkah Saudi mencapai semua tujuannya itu? Ataukah negara kerajaan yang kaya raya dan absolut di Timteng ini justru kembali dengan tangan hampa, baik di arena politik maupun di gelanggang operasional? Sebagaimana dijawab Arabi Press tadi, tak ada yang patut diragukan bahwa apa yang diharapkan Saudi itu hanyalah isapan jempol belaka.

Kegagalan di Kancah Diplomatik

Sebagaimana disinggung tadi, tujuan Saudi membentuk pasukan koalisi anti Yaman ialah “mempekerjakan” tentara Mesir, Yordania dan Pakistan dalam serangan darat ke Yaman. Namun dalam perkembangan yang terjadi ternyata pertimbangan Saudi luput dari sasaran.
Pemerintah Pakistan yang paling diandalkan Saudi ternyata melimpahkan harapan Saudi kepada parlemen, dan parlemen tidak merestui keterlibatan tentara Pakistan dalam penumpahan darah orang-orang Yaman. Mesir dan Yordaniapun, akibat problematika internal masing-masing, juga tak dapat memenuhi komitmennya kepada Arab Saudi. Dengan berbagai cara, dua negara ini telah menunjukkan keengganannya mengirim pasukan untuk serangan darat ke Yaman.

Dengan demikian, secara diplomatik Saudi jelas gagal, dan kegagalan ini tentu akan mempengaruhi kondisi di kancah operasional.

Kegagalan di Kancah Operasional

Di kancah operasional, perkembangan yang terjadi ternyata juga tidak mengarah kepada interes Saudi. Memang, tak sedikit posisi, markas dan gudang amunisi milisi Ansarullah yang luluh lantak dihajar rudal pasukan koalisi. Betapapun demikian, milisi Ansarullah terbukti masih prima dan terus melakukan pergerakan militer tanpa ada kekuatan yang dapat menghentikannya.

Dalam konteks ini statemen Ahmad Hamid, kepala dinas penerangan Ansarullah, tentu layak diperhatikan. Dia menepis anggapan bahwa telah terjadi kesepakatan Ansarullah dengan negara-negara Teluk pimpinan Saudi. Dengan kata lain, Ansarullah tetap pantang tunduk terhadap agenda politik Arab Saudi, dan ini tentu saja menjadi indikasi kuat kekandasan agenda Saudi di kancah operasional.

Di pihak lain Mansur Hadi juga masih tertahan di luar negeri dan banyak kendala bagi kepulangannya ke Aden yang sempat dia sebut sebagai ibu kota sementara Yaman, apalagi kepulangannya ke Sanaa.

Bersamaan dengan ini, gencarnya upaya diplomatik Iran di kancah regional dan global juga menjadi tantangan besar bagi upaya Saudi melegitimasi serangannya ke Yaman dengan payung regional dan internasional. Dalam hal ini Iran antara lain mengajukan kepada Sekjen PBB prakarsa empat pasal untuk mengakhiri krisis Yaman melalui jalur damai dan kanal dialog.

Pengumuman secara mendadak mengenai penghentian serangan ke Yaman tentu saja tidak lepas dari foktor perkembangan ini. Riyadh memilih memulai operasi “Pemulihan Harapan” daripada harus menghamburkan dana lebih besar tanpa hasil yang jelas. Serangan udara ke Yaman memang masih ada, namun pada akhirnya akan tetap dihentikan oleh Saudi dengan tangan hampa.

Satu hal lagi yang patut dicatat ialah pentingnya jalur dialog dan damai bagi krisis Yaman pasca operasi Badai Mematikan. Kanal politik sudah pasti buntu ketika serangan terhadap Yaman tetap berlanjut. Karena itu, jika serangan itu memang dihentikan sepenuhnya seperti yang telah diumumkan Riyadh maka peluang tentu terbuka bagi semua pihak yang bertikai di Yaman untuk mengatasi krisis negaranya melalui jalur damai dan rekonsiliasi. Dan inilah yang diharapkan oleh khalayak internasional, terlebih umat Islam yang tentunya sangat prihatin menyaksikan pertumpahan darah di Yaman yang juga dikenal sebagai Negeri Sejuta Wali. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL