LiputanIslam.com –  Tanggal 12 Mei mendatang adalah tanggal yang telah ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS)dalam ancamannya untuk keluar dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA). Mendekati tanggal itu, aksi saling ancam kian meningkat antara AS dan Israel di satu pihak dan Iran di pihak lain, sementara Suriah berpotensi kuat menjadi ajang konfrontasi antara kedua pihak.

Trump dalam cuitan panasnya di Twitter menyatakan, “Iran akan menghadapi masalah yang lebih besar daripada waktu-waktu sebelumnya jika memulai lagi program senjata nuklirnya, dan akan menjadi penyebab semua persoalan di Timteng.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga membuat pernyataan yang bahkan tak kalah tajamnya. “Kami tidak akan membiarkan negara-negara yang menghendaki kebinasaan kami memiliki senjata nuklir. Perjanjian (nuklir Iran) itu harus dirombak secara total atau dibatalkan secara total.”

Semua pernyataan ini dapat dipastikan tidak membuat Iran gentar dan mengendurkan sikap hingga kemudian menyudahi ujicoba rudal-rudal balistiknya yang menjadi sumber keresahan Rezim Zionis Israel dan militer AS di kawasan Teluk Persia. Iran tetap akan teguh pada pendiriannya selama ini, terlebih karena Iran tahu persis, termasuk dari pengalaman berbagai pihak lain di kawasan, bahwa mundur selangkah hanya akan mengundang serangkaian langkah mundur selanjutnya tanpa ada batas. Jadi, sikap pantang tunduk kepada tekanan AS resikonya justru lebih lebih ringan daripada tunduk.

Realitas ini telah disinggung oleh Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran dalam pernyataannya di televisi bahwa negara repuplik Islam ini tidak akan pernah sudi membayar “upeti” kepada AS untuk mempertahankan JCPOA. Dia juga menegaskan kepada Israel bahwa balasan Iran atas serangan Israel ke Lanud T-4 yang mengugurkan tujuh penasehat militer Iran di Suriah adalah perkara pasti, dan bahwa Iran sendirilah yang akan menentukan waktu, tempat, dan bentuk balasan itu.

Sumber-sumber yang dekat Hizbullah juga memastikan Iran akan membalas Israel dengan serangan yang volume dan dampaknya akan mengejutkan. Menurut mereka, Iran “tidak mungkin mundur dari masalah stategis ini, karena menyangkut wibawa negara Iran.”

Koran Israel Yedioth Ahronoth mengutip pernyataan seorang pejabat Israel bahwa militer Zionis memandang ancaman Iran itu serius dan bersiaga menghadapinya. Sedangkan Menhan Israel Avigdor Lieberman juga melontarkan pernyataan keras yang membidik Suriah.

“Tentara Israel akan bereaksi jika Suriah menggunakan rudal-rudal pertahanan Suriah terhadap jet-jet tempur kami, karena senjata-senjata pertahanan ini tidak seharusnya digunakan terhadap kami, sebab kami tidak mencampuri urusan internal Suriah,” katanya.

Sebagaimana diakui oleh mantan kepala staf Angkatan Udara Israel, dalam lima tahun terakhir rezim penjajah Palestina ini telah ratusan kali melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah. Karena itu, aneh sekali ketika Lieberman menyatakan Israel tidak mencampuri urusan internal Suriah. Dia bahkan sudah sangat berlebihan ketika mengancam akan menyerang Suriah jika Suriah menggunakan sistem pertahanan udara buatan Rusia, padahal penggunaan sistem ini oleh Suriah semata untuk membela diri.

Ketua Dewan Kebijakan Iran Laksamana Ali Shamkhani mengingatkan bahwa Israel pasti akan mendapat “hukuman”, dan tak bisa tidak. Ini menandakan bahwa balasan Iran sudah dekat, dan bisa jadi akan dilakukan usai pemilu parlemen Lebanon pada 6 Mei mendatang, sebab Hizbullah berharap pemilu ini berlangsung sukses tanpa ada penundaan sama sekali, dan seminggu menjelang keputusan final Trump terkait JCPOA.

Sebagian besar perang Timteng, demikian pula revolusi dan aksi-aksi kudetanya, berkobar di musim panas. Karena itu, musim panas kali ini juga berpotensi berkobar, mengingat terjadinya eskalasi ancaman kedua pihak, dan terutama membengkaknya kerisauan Israel.

Bangsa-bangsa Timteng sudah banyak teruji oleh peperangan yang melanda wilayah mereka sehingga mereka lebih siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Sebaliknya, wilayah Israel belum pernah tersentuh kobaran api pertempuran langsung. Namun, dalam perang yang akan datang Israel tampak tidak akan dapat selamanya demikian. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*