LiputanIslam.com – Rezim Zionis Israel memperbanyak rambu larangannya terhadap Iran dan kaum terhormat Arab. Belakangan ini, Perdana Menteri Israel menetapkan rambu baru dan mengancam akan melancarkan serangan hebat untuk mencegah pengembangan senjata inkonvensional oleh Hizbullah atau pengiriman senjata ini dari Iran ke Hizbullah di Lebanon melalui Suriah.

Sebelumnya, Netanyahu bersumpah tidak akan membiarkan eksistensi Iran di Suriah, sebagaimana dia dulu bersumpah untuk berbuat apapun demi mencegah Iran memiliki bom nuklir.  Alasannya, senjata itu pasti ditujukan ke Israel sehingga negara Zionis ini berhak membela diri. Padahal, Arab dan Iranpun juga berhak membela diri di depan senjata konvensional dan nuklir Israel.

Semua rambu larangan Israel tak lain menandakan kelemahan dan kepanikan Israel, sebab sejak Perang Yom Kippur tahun 1973 baru sekarang Israel merasa benar-benar terancam oleh Iran, Hizbullah dan para pejuang Palestina setelah Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) selaku pihak utama dalam krisis Palestina dan semua negara Arab lawannya, kecuali Suriah, meneken perjanjian damai.

Ancaman Israel untuk menyerang pabrik-pabrik rudal canggih Hizbullah merupakan pertama kalinya sejak Israel kewalahan melawan Hizbullah dalam perang pada tahun 2006. Sejak itu Israel tak berani melancarkan serangan ke Hizbullah karena sadar bahwa balasannya akan sangat telak.

Sebelum krisis Suriah pecah pada tahun 2011 tak ada satupun pasukan Iran di Suriah, dan sekarang pihak yang menuntut kepergian pasukan Iran dari Suriah adalah pihak yang justru telah menyebabkan kedatangan pasukan Iran ke Suriah.

Iran sendiri tidak akan beranjak dari Suriah kecuali jika terjadi dua skenario sebagai berikut;

Pertama, Israel menyerang Suriah dengan sasaran pasukan Iran lalu berkobar perang dan pasukan Iran kalah telak.

Kedua, jika tentara Suriah benar-benar pulih secara militer dan semua pasukan asing, terutama Amerika Serikat (AS), yang datang secara ilegal ke Suriah keluar sepenuhnya dari Suriah, lalu kedaulatan pemerintah Suriah atas seluruh wilayah negara ini juga pulih.

Skenario pertama lebih kuat, sebab skenario kedua membutuhkan waktu lama, terlebih ketika pasukan AS masih berada di Suriah dan AS tetap berobsesi memecah Suriah menjadi beberapa bagian dan membuatnya lemah sehingga terpaksa menjadi seperti negara-negara Arab Teluk Persia yang menjalin perjanjian pertahanan dengan AS. Hanya saja, skenario perang itu hasilnya sangat tidak pasti bagi Israel.

Bayang-bayang perang Iran-Israel di Suriah tampak semakin menguat di tengah eskalasi pasca keluarnya AS dari perjanjian nuklir Iran dan kemungkinan Iran kembali memperkaya uranium akibat tindakan sepihak AS tersebut beserta eksesnya berupa sanksi-sanksi ekonomi AS terhadap Iran.

Ada tiga front yang berpotensi berkobar pasca ancaman Netanyahu tadi;

Pertama, front Suriah selatan serta kawasan Daraa dan sekitarnya. Dalam rangka ini sedang terjadi pengerahan pasukan Suriah dan Rusia setelah Damaskus dan sekitar berhasil dibebaskan dari bahaya teroris, dan setelah ada rencana strategis pembukaan perbatasan Suriah-Yordania.

Kedua, front Lebanon Selatan. Tentang ini Israel sejak beberapa bulan lalu telah berbicara mengenai adanya pabrik-pabrik rudal dengan berbagai ukuran di Lebanon selatan yang dikelola secara bersama oleh para pakar Hizbullah dan Iran. Perkembangan ini terjadi setelah ada peristiwa-peristiwa serangan udara Israel di Suriah sebanyak lebih dari 100 kali terhadap truk-truk yang datang dari Iran sepanjang lima tahun terakhir.

Ketiga, front Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel. Dalam hal ini tekanan Israel terhadap AS meningkat supaya Washington mengakui kedaulatan Israel atas Golan, terutama setelah AS tak segan-segan mengakui Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) sebagai ibu kota Israel dan lalu AS memindah Kedubesnya dari Tel Aviv ke Al-Quds.

Tak jelas dari front mana ledakan perang akan bermula. Tapi yang pasti, serangan besar Israel ke Suriah maupun Lebanon selatan akan mendapat reaksi dan balasan telak.

Mengenai sejauh mana kesiapan Israel menanggung resiko perang, Amir Peretz, Menhan Israel di masa perang Hizbullah-Israel pada tahun 2006,  mengatakan kepada koran Israel Yedioth Ahronoth bahwa negaranya belum siap menghadapi ratusan ribu rudal dari Iran dan Hizbullah yang akan menyasar semua bagian Israel, sementara juga banyak kekurangan pada tempat-tempat perlindungan di Israel.

Dia juga mengatakan bahwa dalam perang 33 hari pada tahun 2006 Hizbullah telah melesatkan sekira 4000 rudal perhari sehingga terbayang seberapa banyak sekarang rudal yang dapat dihujankan Hizbullah yang kekuatan rudalnya sudah meningkat beberapa kali lipat, dan sulit terbayang Kubah Besi akan dapat menghadapi rudal sebanyak itu dalam satu waktu sekaligus.

Dengan demikian, semua rambu demi rambu larangan yang ditetapkan Netanyahu itu hanyalah pertanda kepanikan Israel manakala melihat perang Suriah justru berubah menjadi bumerang bagi AS dan sekutunya di Timteng, terutama Israel.  (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*