Teheran, LiputanIslam.com –   Lokakarya ekonomi yang diprakarsai AS terkait isu Palestina-Israel telah berlangsung di Manama, ibu kota Bahrain, pada 25-26 Juni 2019. Sebagian besar negara Arab memboikot pertemuan ini, dan yang hadir adalah perwakilan negara-negara anggota aliansi “NATO Arab”, pertanda kuat penolakan Dunia Arab terhadap konferensi yang diadakan untuk mempromosikan prakarsa AS yang bertumpu pada penghinaan terhadap bangsa-bangsa Arab, dan indikasi akan adanya kebangkitan untuk menyudahi ketundukan dan kepasrahan.

Sosok yang menjadi bintang dalam lokakarya ini adalah Jared Kushner, menantu sekaligus penasehat senior Presiden AS Donald Trump. Dia telah menyampaikan presentasinya dan memaparkan keahliannya di bidang real estate, sementara hadirin tampak malu-malu menyimaknya sembari berusaha sedapat mungkin menghindari sorotan kamera agar tak terumbar aibnya.  Peristiwa ini menjadi momen bersejarah kehormatan negara-negara pemboikot pertemuan naif ini. Sejarah mencatat keterhindaran mereka dari noda.

Pernyataan Kushner paling spektakuler dalam pertemuan ini ialah bahwa prakarsa itu “bukanlah Perjanjian Abad Ini, melainkan kesempatan abad ini.” Memang, prakarsa itu adalah kesempatan untuk Arabisasi penghapusan berkas perkara Palestina sesuai pengarahan Kushner yang didukung Perdana Menteri Israel Benjamin Netayahu dan sekelompok kaum Zionis dan para pembesarnya yang telah menanamkan kepada mereka doktrin rasisme, penindasan, penjarahan, dan pembantaian.

Tak aneh ketika Kushner sama sekali tidak mengucapkan kata “negara Palestina”. Dia hanya mengucapkan kata “orang” dalam menyebut orang-orang Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Dia seolah mengatakan bahwa mereka bukanlah bangsa, melainkan sebatas angka-angka tanpa identitas dan nama, dan bahwa harus atas dasar ini saja mereka patut diperlakukan, karena yang bermartabat hanyalah orang-orang Israel. Uniknya, hadirin tak bertepuk tangan setelah mendengar “kalimat mutiara” Khusner itu.

Baru kali ini para jurnalis Israel terlihat bebas berkeliaran di sebuah ibu kota Arab. Mereka bahkan bangga memperlihatkan paspor Israel di depan kamera sesamanya, seolah memperolok masyarakat dan media Arab.

Saat menanggapi prakarsa damai Arab, dengan entengnya Kushner menyebutnya gagal dan tidak akan efektif untuk mewujudkan perdamaian. Menurutnya, harus ada format lain sebagai jalan tengah antara prakarsa itu dan pendirian Israel. Dia seolah menyalahkan pemrakasanya atas kegagalan itu, tapi tanpa menyebutkan faktor kerakusan Israel untuk menelan seluruh bagian Palestina, menghapusnya dari peta, dan mengusir penduduknya.

Entah mengapa para wakil Arab dalam pertemuan itu  masih dapat duduk tenang ketika Kushner mengatakan bahwa Israel merupakan negara berdaulat dan berhak menentukan sendiri mana ibu kotanya. Di mata sebagian besar delegasi Arab itu kota Quds (Yerussalem) menjadi seolah tak memiliki nilai religius, spiritual, ataupun kebangsaan. Tak jelas apakah mereka masih memiliki kehormatan, martabat, dan akidah?

Para peserta lokakarya Manama datang bukan demi Quds dan Palestina ataupun menangani urusan bangsa-bangsa Arab dan Islam, melainkan demi menunjukkan kepedulian dan loyalitas mereka kepada Trump dan menantunya, serta demi menandai dukungan mereka kepada perang yang kemungkinan akan segera dilancarkan AS terhadap Iran, yaitu perang yang justru akan menghancurkan mereka sendiri sebelum yang lain. Merekalah yang akan menjadi bahan bakar perang.

Hak Dunia Arab dan Islam tidaklah musnah akibat Perjanjian Balfour, Tragedi Nakba 1948,Tragedi Naksa 1976, maupun Perjanjian Abad Ini yang diinisiasi oleh Kushner dan didukung Trump serta para sekutunya yang telah bergegas ke Manama atas instruksi Trump.

Hak Palestina dan Arab tetap mengakar dan akan terus diperjuangkan oleh mayoritas bangsa-bangsa Arab dan Islam. Dan bangsa Palestina sendiri yang masih diblokade di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan berbagai kamp pengungsi di negara-negara sekitar tidak akan pernah menerima kekonyolan itu. Mereka akan terus beraksi di gelanggang resistensi dalam berbagai bentuk meski terus mengorbankan air mata dan darah sebagaimana yang telah dilakukan selama ini oleh para pejuang Palestina di Quds, Nablus, Jenin, dan Gaza.

Revolusi Palestina bergelora bukan demi mendapat stasiun pembangkit listrik, fasilitas penyulingan air, proyek penyediaan lapangan kerja, ataupun program penekanan angka kemiskinan seperti yang dijanjikan oleh Kushner. Melainkan demi prinsip dan hak mereka untuk pulang ke kampung halaman dan membebaskan seluruh bagian tanah air Palestina. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*