arab-saudi-dan-mesirLiputanIslam.com –  “Keamanan negara-negara Arab Teluk adalah bagian dari keamanan Mesir,” “Kami tak akan membiarkan kekuatan manapun menjamah Dunia Arab.” Itulah antara lain kalimat yang mengemuka dalam berbagai statemen Abdel Fattah el-Sisi ketika baru menjabat sebagai presiden Mesir ke-6, menyusul kudeta terhadap presiden pendahulunya yang juga tokoh Ikhwanul Muslimin, Mohamed Morsi pada 3 Juli 2013. Namun, belakangan ini ungkapan demikian sudah kehilangan gaungnya di negara yang cukup berpengaruh di Timteng ini sehingga praktis mengundang perhatian dunia.

Di awal berkuasa di Mesir, el-Sisi yang mengkudeta Morsi dengan dalih demi memenuhi aspirasi rakyat yang berdemonstrasi anti-Morsi memang membutuhkan dukungan Dunia Arab. Karena itu, tak heran jika dia kerap mengampanyekan pentingnya hubungan Mesir dengan kubu Arab Saudi. Tapi dalam perkembangannya, penyesuaian diri Kairo dengan sepak terjang Riyadh ternyata jauh panggang dari api.

Saudi bersama negara-negara kaya Teluk lainnya yang kebetulan juga tak sefaham dengan Ikhwanul Muslimin cukup antusias mengawal pemerintahan el-Sisi. Tak kurang bantuan finansial mereka untuk membenahi kondisi perekonomian Mesir yang terdera krisis akibat berbagai faktor internal dan eksternal di masa kepresidenan Morsi. Mereka berharap bantuan itu dapat meredakan gejolak rakyat Mesir akibat himpitan ekonomi di era Morsi.

Dalam rangka ini mereka menyelenggarakan beberapa konferensi. Sekedar contoh, dalam konferensi tiga hari di kota Sharm al-Sheikh, Mesir, untuk membahas bantuan finansial kepada negara ini, disebutkan bahwa Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait mengalokasikan dana US$ 12 miliar sebagai bagian dari bantuan itu. Mereka juga memberikan pinjaman untuk cadangan devisa Central Bank of Egypt.

Tapi seberapa jauh Mesir bersedia membuntuti Saudi? Jawabannya terlihat dalam sikap Kairo terhadap berbagai gejolak yang melanda Timteng.

Di lain arah, Negeri Beruang Merah Rusia juga menyorot Mesir sebagai negara yang potensial untuk digandeng lebih jauh, menyusul pembekuan bantuan militer Amerika Serikat (AS) kepada pemerintahan el-Sisi sebagai sanksi Washington atas kudeta yang menggulingkan Morsi. Kremlin akhirnya berpikir untuk meningkatkan hubungan dengan Kairo dan membantu Mesir.

Dewasa ini, hubungan Kairo dengan Moskow berkembang drastis, seperti terlihat dalam kunjungan el-Sisi ke Rusia dan dibalas kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Mesir. Saling kunjung ini bahkan mengerucut pada perkembangan hubungan militer bilateral serta kerjasama di bidang energi nuklir. Moskow mengiming-imingi Kairo dengan janji Mesir akan menjadi negara maju di Timteng di bidang nuklir.

Uniknya lagi, menurut keterangan beberapa sumber yang disebutkan kantor berita mahasiswa Iran, ISNA, Mesir diam-diam juga memperbaiki hubungannya dengan Hizbullah Lebanon, kelompok pejuang yang didukung Iran dan paling dikutuk oleh rezim Saudi. Disebutkan bahwa telah terjadi proses pencairan gunung es yang selama ini menghalangi hubungan antara Mesir dan Hizbullah. Menurut ISNA, Mesir bahkan sedang menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang berbeda haluan dengan Saudi, sebagaimana tersinyalir dalam sikap Mesir terhadap krisis yang melanda beberapa negara, terutama Suriah.

Seperti diketahui, di tengah gejolak pemberontakan dan terorisme di Suriah, rezim Riyadh mati-matian mengkampanyekan penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dalam hal ini, pemerintahan el-Sisi sejak awal memang tak sejalan dengan Saudi. Ketika Riyadh ngotot supaya krisis Suriah diselesaikan dengan senjata, Kairo justru menyerukan solusi dialog antar komponen Suriah sendiri, menekankan keharusan menjaga integritas Suriah dan kesolidan angkatan bersenjata negara ini, dan tak pernah menyinggung ide penggulingan al-Assad.  Kairo mendukung upaya Rusia dan PBB di Suriah.

“Kami menghendaki solusi damai krisis Mesir. Menurut saya, cara militer justru akan membawa Suriah kepada kehancuran. Sebagaimana kita lihat pasca-misi NATO di Libya, negara ini justru berubah menjadi markas terorisme dan radikalisme. Saya berbicara mengenai persatuan Suriah. Kami meyakini disintegrasi Suriah tidak akan menguntungkan kami, dan tidaklah masuk akal jika teroris di Suriah kita biarkan,” ujar el-Sisi dalam sebuah statemennnya, seperti dikutip ISNA.

Mengenai ketegangan hubungan Saudi dengan Iran, Mesir juga tidak serta berpihak sepenuhnya kepada Saudi. Meski tak ada perkembangan hubungan signifikan dalam hubungan Kairo dengan Teheran yang dingin dan bahkan cenderung kritis terhadap peristiwa kudeta Morsi, tapi sebagaimana disebutkan majalah pemerintah Mesir, Rosael Youssef, Saudi telah menggadaikan Mesir sehingga Kairo melirik Teheran. Menurut majalah ini, media Saudi sudah menebar propaganda anti Mesir sehingga ada wartawan yang bahkan menyebut gelombang protes rakyat anti-Morsi pada 30 Juni 2013 yang berujung pada kekuasaan el-Sisi sebagai aksi kudeta.

Di pihak lain, Iran melalui wakil menlunya, Hossein Abdollahian, dalam acara pelantikan el-Sisi mengatakan, “Kuatnya Mesir adalah kuatnya Iran, keamanan Mesir adalah keamanan Iran, dan karena itu Iran siap membantu Mesir di semua bidang, termasuk di bidang ekonomi.” Dia juga menyampaikan harapan Iran agar kesalahan seperti yang terjadi di era Morsi tidak terulang lagi di Mesir.

Mengenai konflik Yaman, Mesir juga jauh dari target yang diharap Saudi yang terperangkap dalam perang melawan Ansarullah (Houthi) dan sekutunya tanpa ada kemampuan untuk menyudahinya. Partisipasi Mesir dalam koalisi pimpinan Saudi hanya bersifat simbolik dan tak terlibat langsung dalam perang. Alih-alih ikut bersumpah untuk menamatkan riwayat Ansarullah, Kairo malah menekankan solusi politik untuk menyudahi krisis Yaman.

Silang pendapat Kairo-Riyadh dalam berbagai persoalan, bahkan mengenai Ikhwanul Muslimin yang menjadi musuh nomor wahid Presiden el-Sisi, berdampak pada ide pembentukan pasukan kolektif Arab yang dicetuskan oleh el-Sisi sendiri. Sejauh ini ide tersebut masih berjalan di tempat, baru sebatas sidang-sidang protokoler, dan dibayangi perselisihan mengenai anggaran, letak markas besar, struktur komando dan berbagai persoalan lain.

Dari semua persoalan yang ada, perbedaan strategi antara Kairo dan Riyadh selaku dua aktor kunci di kancah dunia Arab terlihat jelas pada keengganan Kairo untuk bermakmum di belakang Saudi dalam isu Libya, Suriah, dan Yaman. Dan hubungan keduanya memang melemah sepeninggal mendiang Raja Abdullah bin Abdulaziz dari Arab Saudi yang disusul dengan naiknya Salman Bin Abdulziz ke tahta Kerajaan Saudi sebagai pengganti Abdullah.

Alhasil, ada perbedaan prinsip dan kepentingan yang cukup tajam antara Mesir dan Arab Saudi sehingga keduanya selalu bersimpangan dan menghadapi jalan terjal dalam menghadapi berbagai isu Dunia Arab. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL