LiputanIslam.com –  Untuk mengetahui sejauhmana krusialitas operasi pembebasan kawasan Ghouta Timur di dekat Damaskus oleh tentara Suriah cukuplah kiranya melihat tingginya ketegangan dunia Barat, terlebih Amerika Serikat (AS), sehingga di Dewan Keamanan PBB terjadi upaya intensif Barat untuk menghadang operasi itu. Namun demikian, pemerintah Suriah yang didukung oleh Rusia tampak tetap bertekad dan pantang mundur untuk menuntaskan pembebasan Ghouta Timur dan memulihkan keamanannya.

Operasi militer di Ghouta Timur merupakan bagian dari babak-babak akhir dari perubahan peta militer di Suriah yang bermula sejak awal tahun 2016 dalam bentuk yang fatal bagi mimpi Barat dan sekutunya di Timteng. Mereka praktis kehilangan kesempatan untuk menjatuhkan pemerintah Suriah secara militer melalui intervensi asing.

Kehancuran kelompok teroris besar Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan terbebaskannya semua kota dan daerah utama dari pendudukan ISIS tidak menyisakan alasan lagi bagi Barat untuk bertahan eksis di Suriah. Hanya saja, Barat tampak masih tak sudi menyerah begitu saja. Mereka masih memiliki satu kartu untuk melakukan intervensi, mengubah skenario operasi Pasukan Arab Suriah (SAA), dan menunda kemenangan tuntas SAA di sebagian wilayah. Kartu itu tak lain adalah klaim penggunaan senjata kimia oleh SAA.

Menlu Rusia Sergay Lavrov dalam jumpa pers bersama sejawatnya dari Turki, Mevlut Cavusoglu, di Moskow, Rabu (14/3/2018), menyebutkan adanya “tindakan provokatif telah dipersiapkan, mengenai penggunaan senjata kimia terutama di Ghouta Timur, sebagai pembenaran untuk penggunaan kekuatan oleh pasukan koalisi internasional, termasuk terhadap ibu kota Suriah.”

Sehari sebelumnya, kepala staf militer Rusia Jenderal Valery Gerasimov mengaku “memiliki informasi akurat bahwa kelompok-kelompok oposisi telah menyiapkan skenario serangan kimia oleh pasukan pemerintah terhadap warga sipil.”

Dia menambahkan bahwa hal ini diperkuat oleh adanya “temuan laboratorium pembuatan senjata kimia di distrik Aftaris yang telah berhasil dibebaskan dari para teroris.”

Menurut Gerasimov, di beberapa distrik Ghouta Timur “sudah ada para aktor laki-laki, anak kecil, dan lansia untuk diperankan sebagai korban serangan kimia”, dan “sebuah tim televisi dengan sarana siaran via satelit” juga sudah ada di tempat.

Tuduhan anti Suriah ini sebenarnya kerap mengemuka dalam setiap beberapa waktu, meskipun senjata terlarang ini sudah dimusnahkan di bawah pengawasan PBB pada tahun 2013. Hanya saja, tuduhan itu tak pernah didukung bukti faktual, dan hanya berorientasi politik semata. Serangan rudal AS terhadap pangkalan udara Shayrat di provinsi Homs, Suriah, tak lain adalah upaya Presiden AS Donald Trump membungkam para pengkritiknya.

Pada prinsipnya, di mata Barat, mati dengan senjata kimia tak berbeda dengan mati dengan rudal atau bahkan senjata laras panjang. Barat sebenarnya tak peduli pada soal penggunaan senjata kimia atau bukan. Bagi mereka, yang terpenting ialah pembenaran untuk kelanjutan campurtangannya di Suriah. Semua orang mengetahui bahwa berkat isu senjata kimialah diktator Saddam Hossein jatuh ditangan pasukan koalisi pimpinan AS. Dan berkat isu senjata terkutuk ini pula mereka dapat memblokade Libya selama puluhan tahun.

Sekarang, isu ini masih hendak diandalkan untuk mengintimidasi Suriah dengan cara yang jelas-jelas menyalahi prosedur dan hukum internasional. Barat dalam hal ini mengabaikan logika sederhana yang menutup kemungkinan SAA menggunakan senjata kimia dalam berbagai pertempurannya melawan kawanan bersenjata.

Sebab, SAA memerangi mereka di darat, sedangkan serangan udara hanyalah untuk mendukungnya. Dengan posisi di darat dan di kawasan yang sama tidak mungkin SAA berusaha menghabisi musuhnya dengan bom kimia karena juga akan menimpa mereka sendiri karena zat beracun akan cepat menyebar luas tertiup angin.

Lagi pula, SAA berperang di negerinya sendiri sehingga petaka yang diakibatkan oleh senjata itu juga praktis juga petaka bagi mereka sendiri. Semua orang mengetahui bahwa senjata kimia yang digunakan AS terhadap Irak juga berdampak pada wilayah Suriah, termasuk area pertaniannya, dan bahkan berdampak pula wilayah Saudi dan Kuwait. Karena itu, tidak mungkin SAA menggunakan senjata demikian.

Isu penggunaan senjata kimia menjadi andalan Barat karena berhasil mengundang kepedulian publik Barat, mengingat benua Eropa pernah mengenyam petaka senjata ini dalam Perang Dunia II. Pertanyaannya sekarang ialah sampai kapan isu menjadi andalan bagi Barat dalam upaya melampiaskan dendamnya terhadap Suriah? (mm)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL