LiputanIslam.com –  Fenomena pergerakan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/DAESH/IS) telah mengundang banyak pertanyaan mengenai misinya, pembuatnya, donaturnya, dan supplier senjatanya. Pertanyaan yang juga mengemuka ialah apakah ISIS menjalin hubungan terselubung dengan negara Zionis Israel? Mengapa ISIS terfokus pada pengobaran api konflik di tengah umat Islam?

Mengapa mereka menggunakan cara-cara sadis dan barbar dalam memperlakukan musuhnya? Mengapa mereka berusaha mengoyak jalinan sosial di berbagai kawasan yang didudukinya? Mengapa mereka menghancurkan berbagai kota, desa, bangunan infrastruktur, dan peninggalan sejarah di berbagai kawasan yang didudukinya? Mengapa mereka berbuat kejam termasuk terhadap warga sipil di mana-mana?

Masih banyak lagi pertanyaan seputar tujuan dan motif aksi-aksi ISIS, tapi yang jelas ialah bahwa atraksi barbar mereka sama sekali tidak menguntungkan siapapun kecuali musuh bangsa-bangsa Arab dan umat Islam, terutama Israel dan Amerika Serikat (AS).

Pasukan Irak telah berhasil merebut kembali dan membebaskan berbagai kawasannya dari pendudukan ISIS, sementara pasukan pemerintah Suriah juga telah mencetak banyak kemenangan telak atas ISIS, dan tak lama lagi akan dapat membebaskan berbagai kawasan yang telah diduduki ISIS sejak beberapa tahun silam.

Hanya saja, tumbangnya “kekhalifahan” ISIS, kehancuran senjata dan peralatan tempurnya, dan kaburnya para gembong mereka ke berbagai kawasan tidak lantas berarti aksi teror mereka pasti terhenti dan bahwa mereka akan sepenuhnya musnah dari muka bumi. Mereka sendiri sejak setahun lalu sudah memperkirakan akan kalah sehingga mencoba memainkan kartu baru dan mempersiapkan diri untuk melakukan gerakan bawah tanah terhadap musuh-musuhnya.

Tersingkirnya ISIS dari berbagai kota yang didudukinya tidak berarti bahwa kota-kota itu akan segera aman dan damai sepenuhnya. New York Times pada 28 Mei 2017 menyebutkan bahwa ISIS tercatat telah melancarkan 1,483 serangan di 16 kota di Irak dan Suriah yang telah dibebaskan dari pendudukan mereka. Berbagai kota dan daerah di Irak dan Suriah yang sudah berhasil dibebaskan ternyata masih saja menjadi sasaran aksi peledakan bom ISIS.

ISIS tidak berhenti melakukan aksi terornya semudah apa yang dibayangkan oleh sebagian orang. Sebabnya antara lain ialah bahwa mereka masih memiliki ribuan loyalis dan banyak senjata, masih dapat mempertahankan banyak kadernya untuk melancarkan aksi serangan di berbagai kawasan yang semula mereka duduki maupun di berbagai kawasan lain di dunia, dan masih ada pihak-pihak yang berkepentingan dengan keberadaan ISIS sehingga diam-diam mendanainya dan menyuplainya dengan senjata.

Organisasi-organisasi teroris tak mudah ditumpas habis karena mereka mengandalkan sel-sel kecil yang mereka tanam di berbagai kota dan di desa secara tersembunyi agar tak dapat dibongkar total, dan mereka juga mendapat dukungan dari berbagai pihak lokal dan asing.

Al-Qaida dan Taliban adalah contohnya. Keduanya masih dapat melancarkan berbagai serangan teror di Afghanistan ketika al-Qaida sudah memasuki usia 35 tahun dan setelah 16 tahun kekuasaan Taliban  di negara ini berhasil digulingkan.

Di sisi lain kondisi negara-negara Arab yang serba tertekan praktis menyuburkan militansi di tengah kalangan pemuda pengangguran, frustasi, dan gamang dalam melihat masa depan sehingga mudah menjadi sasaran rekrutmen ISIS maupun kelompok-kelompok radikal lain.

Karena itu tidak kecil kemungkinan eksistensi ISIS akan tetap bertahan di tengah polarisasi para “jihadis” Arab dan Muslim, dan para petempur yang berhasil keluar dari Suriah dan Irak akan tersebar ke negara-negara lain. Bisa jadi pula mereka akan bermutasi menjadi organisasi bawah tanah yang bertumpu pada sel-sel kecil dan terfokus pada upaya mengacaukan stabilitas negara-negara Arab di bagian timur dunia Arab dan bagian utara Benua Afrika.

ISIS berpotensi mengubah nama dan metode serangannya dalam berinteraksi dengan warga dan berkemungkinan berbalik menyerang pihak-pihak yang membidani kelahiran kelompok bengis ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa al-Qaida  adalah produk Amerika Serikat (AS) yang kemudian berbalik menyerang AS dan bermusuhan dengan negara adidaya ini.

Saudipun juga turut mendanai dan membesarkan al-Qaeda namun akhirnya juga bemusuhan dengan al-Qaeda. Pakistan menghasilkan Taliban, tapi kemudian terlibat konflik dengannya. Anehnya, meskipun Israel juga ikut mengasuh ISIS dengan dana, senjata dan para agen dinas rahasianya, MOSSAD, tapi sampai sekarang tak ada tanda-tanda akan berbalik menyerang Israel. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL