hoax-asharq-al-awsatLiputanIslam.com – Koran berbahasa Arab Asharq al-Awsat (AA) yang terbit di London, Inggris, dan dikenal sebagai corong rezim Arab Saudi Minggu lalu membuat kehebohan dengan memuat berita palsu mengenai perilaku para peziarah asal Iran di kota suci Karbala, Irak, tempat cucu Rasulullah saw, Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib ra dimakamkan.

Berita hoax itu menyatakan bahwa menurut sumber Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, ada ratusan gadis hamil akibat berhubungan dengan kaum pria dari Iran yang datang untuk berziarah ke makam Imam Husain ra, dan akibat pergaulan bebas itu terjadi epidemi yang mengundang kekuatiran WHO. Tak cukup dengan ini, AA juga menebar fitnah bahwa para peziarah Iran di Irak mengedarkan uang palsu dan berbisnis narkoba.  (Baca: Media Saudi Sebar Hoax Soal Karbala )

Media independen Bahrain Mirror, Senin (21/11/2016), menyebut berita hoax AA itu bukan kesalahan biasa, melainkan sangat kental dengan unsur kesengajaan untuk memperparah isu sektarianisme di Timteng yang sudah sekian lama diproyeksikan dan dikembangkan secara masif oleh rezim al-Saud melalui berbagai kanal media dan institusi keagamaan.

Juru bicara WHO Rana Sidani mengecam keras perilaku kotor AA yang menurutnya, “sudah diperingatkan sebelum dipublikasi” oleh lembaga yang bernaung dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini, tapi peringatan itu ternyata tak digubris. Ini menunjukkan bahwa AA sebagai sebuah media ternyata tidak bekerja secara profesional.

Kasus ini bermula dari tindakan situs Aswat Hurra (Free Voices) pada Kamis pekan lalu memuat laporan hoax dengan mencatut nama WHO bahwa  di kota Karbala terdapat fenomena “kehamilan ilegal”. Esok harinya, WHO menepis secara total laporan itu.

Rana Sidani menjelaskan bahwa WHO terkejut melihat laporan hoax itu beredar lagi, dan kali ini dimuat oleh AA pada Minggu (20/11/2016).

“Kami sudah melupakannya sejak Jumat, tapi kemudian kami terpaksa merilis siaran pers yang menepisnya dengan pernyataan yang paling tegas atas pencatutan nama kami dalam laporan palsu sedemikian rupa,” ujarnya, seperti dikutip Bahrain Mirror.

Kecerobohan AA mengundang kecaman luas dari berbagai kalangan dan bukan hanya dari kaum Muslim Syiah yang berdatangan ke Karbala untuk menandai peringatan Arbain, hari ke-40 kesyahidan Imam Husain ra, imam ketiga mereka. Para penulis dan aktivis dari kalangan non-Syiah juga menyebut laporan palsu itu sebagai ujaran kebencian.

Sebagai penyambung lidah rezim Riyadh, AA memang sudah dikenal sebagai media yang getol mendukung kelompok-kelompok teroris yang menebar angkara murka di Irak dan Suriah. AA menentang sepak terjang perjuangan pemerintah Irak yang dipimpin oleh kaum Syiah menegakkan perdamaian di Irak dengan menumpas kelompok-kelompok teroris, terutama di kota-kota besar.

“Kebencian tak bermoral memang tak mengenal batas, sayang sekali,” tulis Tawfiq al-Saif, cendikiawan Muslim Arab Saudi anggota Pusat Kajian Persatuan Arab, Beirut, Lebanon, dan anggota organisasi Amnesti Internasional, London.

Mohammad Ali al-Mahmoud, penulis surat kabar al-Riyadh, menyatakan, “Dengan adanya berita palsu itu, jelas bahwa redaksi AA tak ubahnya dengan channel Wisal.” Wisal adalah  channel TV milik kaum Salafi/Wahabi Arab Saudi yang gencar menyerukan perang terhadap kaum Muslim Syiah.

Di Bahrain yang, menurut data Kedutaan Besar Irak di Manama, jumlah peziarahnya di Karbala mencapai 80,000 orang, para aktivisnya juga menunjukkan kemarahannya atas hoax AA.

“Ini merupakan contoh baru penyiaran berita asal comot yang menistakan kepercayaan orang,” tulis Ibrahim Sharif, tokoh oposisi terkemuka Bahrain di halaman Twitternya.

Sedangkan Jakfar al-Jamari, kolumnis al-Wasat, menyatakan, “Tentu, orang yang berjulukan Said al-Hamad menemukan kesempatan untuk membuktikan kebenciannya, dan segera mendapat reaksi. Bukalah matamu, wahai orang yang buta hatinya.” Said al-Hamad adalah penulis Bahrain anti Syiah.

Di Irak sendiri, kecaman mengalir dari berbagai pihak, termasuk Perdana Menteri Irak Haeder Abadi. Kemlu Negeri 1001 Malam melalui Kedubesnya di London bahkan mengajukan tuntutan hukum terhadap AA. (Baca: Kemlu Irak Perkarakan Hoax Asharq al-Awsat Tentang Peziarah Karbala )

Anggota parlemen Hanan al-Fatlawi membawa kasus ini ke ranah hukum, dan beberapa lama kemudian dia mengatakan bahwa pengadilan telah menginstruksikan penahan awak media AA di kantornya di Baghdad.

Pada puncaknya, pemimpin redaksi koran berskala internasional itu, Salman al-Dosary, dan reporter yang bersangkutan dicopot atas instruksi pemerintah Saudi.  Tak hanya itu, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 25 tahun, jabatan pemimpin redaksi AA akan diserahkan kepada orang lain yang bukan berdarah Saudi, yaitu kepada Ghassan Charbel, pria berdarah Lebanon dan mantan pemimpin redaksi al-Hayat yang juga merupakan media Saudi. (Baca: Pemerintah Saudi Copot Pemimpin Redaksi Asharq al-Awsat)

Peristiwa ini tentu patut dijadikan pelajaran terutama bagi media untuk lebih berhati-hati dan tidak  terjerumus pada tindakan mempermainkan keyakinan dan tradisi keagamaan masyarakat.

Firman Allah SWT dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 8 sangat layak untuk dicamkan kembali:

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL