LiputanIslam.com –  Progam terselubung dinas rahasia Amerika Serikat (AS), CIA, dalam menyokong kelompok-kelompok bersenjata di Suriah dilaporkan berhenti.  Jika kabar ini benar maka tak pelak menandai perubahan kebijakan pemerintah Washington dalam penyelisaian krisis Suriah sekaligus bukti kekandasan obsesi AS menggulingkan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad sehingga kemudian memilih bekerjasama dengan Rusia dalam pengelolaan krisis ini.

Para pejabat AS belum lama ini mengklaim bahwa Presiden Donald Trump telah mengambil keputusan penghentian suplai senjata dan pelatihan untuk kelompok-kelompok pemberontak yang bergerilya melawan pemerintahan al-Assad. Komandan Komando Operasi Khusus AS, Jenderal Raymod Thomas III dalam sebuah rapat keamanan mengonfirmasi penghentian program rahasia CIA dalam menyokong kubu oposisi atau pemberontak Suriah.

Trump sendiri melalui Twitter secara tidak langsung mengakui adanya program rahasia CIA di Suriah dan menilai dukungan yang diberikan AS selama ini kepada gerilyawan di Suriah sebagai pemborosan. Di pihak lain, senator Linsey Graham mencuit bahwa jika kabar itu benar maka tak ubahnya dengan pengakuan kalah perang di Suriah melawan Rusia dan Iran.

Mempersenjatai kubu oposisi Suriah merupakan satu program utama pemerintahan AS sebelumnya dalam krisis Suriah yang berkobar sejak 2011 untuk menekan Bashar al-Assad. Setelah sekian tahun waktu berjalan AS dan sekutunya di kawasan Timteng baru sekarang berkesimpulan bahwa solusi krisis Suriah tidak bisa dicapai dengan mencampuri urusan internal negara ini, melainkan harus dengan menyokong proses perundingan damai antarpihak yang bermain di pentas Suriah.

Intervensi AS dan sejumlah negara sekutunya dalam dinamika gejolak Suriah telah berdampak pada menggilanya terorisme kelompok-kelompok radikal dan ganas semisal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Jabhat al-Nusra yang berasal dari rahim yang sama, jaringan teroris al-Qaeda.  Hanya dalam tempo yang singkat, campurtangan mereka berhasil menyulap kemelut politik di Suriah menjadi sebuah krisis besar yang mengerikan dan berlarut-larut. Dan terbukti, krisis ini berkurang secara signifikan ketika proses damai dan dialog antara pemerintah dan oposisi Suriah berjalan dalam beberapa bulan terakhir dengan prakarsa segi tiga Rusia, Iran, dan Turki.

Kecamuk perang jauh berkurang di berbagai kota Suriah setelah proses itu berjalan. Pasukan Arab Suriah (SAA) di provinsi Tartus, Latakia, dan Damaskus mengendalikan inisiasi , sementara di provinsi Aleppo SAA dan sekutunya juga berada kondisi relatif nyaman dan tidak mendapat ancaman tersendiri dari kawanan bersenjata.

Namun, di provinsi strategis Homs tentara Suriah dan sekutunya itu berhasil mencetak prestasi besar, termasuk pengamanan penuh kota kuno Palmyra dan sekitarnya serta bergerak lancar ke arah kawasan Arak dan al-Sukhnah. Keberhasilan SAA yang tak kalah pentingnya lagi ialah bahwa setelah kota Mosul di Irak berhasil dibebaskan dari cengkraman ISIS, tentara Suriah juga mulai fokus pada pembebasan provinsi Raqqa, dan di provinsi ini beberapa prestasi signifikan juga telah mereka raih.

Perimbangan di lapangan Suriah memang sudah berubah drastis dan pesat sejak dua bulan lalu.  Dan terlepas dari perlawanan sengit rakyat dan tentara Suriah terhadap kelompok-kelompok radikal dan teroris dinamika itu juga tak lepas dari percaturan dan interaksi para pemain asing.

Empat kawasan de-eskalasi antara pemerintah dan oposisi Suriah telah ditetapkan dalam perundingan di Astana, Kazakhstan, babak ke-4 bebarapa bulan lalu dan pelaksanaannya dijamin oleh Rusia, Iran, dan Turki. Keputusan ini sangat membantu mengurangi konfrontasi di lapangan sehingga pemerintah Damaskus dapat lebih berkonsentrasi pada penumpasan kelompok teroris takfiri ISIS, dan inilah yang menyebabkan tentara Suriah berhasil menempuh banyak kemajuan dalam penumpasan ISIS, terutama di provinsi-provinsi barat laut negara ini.

Di sisi lain, kesepakatan antara AS dan Rusia di sela-sela pertemuan puncak G20 pada 9 Juli 2017 juga telah menghasilkan zona gencatan senjata atau de-eskalasi di bagian barat daya Suriah.

Selama sekian tahun krisis Suriah kelompok-kelompok radikal takfiri berusaha mengembangkan pengaruhnya dengan memanfaatkan kevakuman yang terjadi akibat pergesekan antarpermain asing di Suriah. Namun upaya itu mendapat perlawanan hebat dari rakyat dan pasukan resistensi.

Jika kabar mengenai keputusan pemerintah AS menghentikan pelatihan dan suplai senjata kepada oposisi Suriah itu terlaksana maka dapat dibayangkan betapa melemahkan posisi kubu oposisi di depan pemerintah Suriah, dan pada gilirannya tingkat kekerasan di negara ini juga akan turun drastis. Pada kenyataannya, dukungan AS kepada oposisi selama enam tahun krisis Suriah itu terbukti tidak efektif menekan Damaskus dan tak menghasilkan apapun kecuali keterbunuhan ratusan ribu warga sipil dan pengungsian jutaan orang.

Seperti disebutkan Washington Post, keputusan Trump itu tak ubahnya dengan pengakuan Washington atas ketiadaan piramida pengaruh untuk mendepak al-Assad dari kekuasaan.  Washington pada akhirnya percaya bahwa untuk menyudahi krisis Suriah tak ada jalan lain kecuali menempuh jalur-jalur kerjasama dengan Rusia dan fokus pada kesepakatan gencatan dengan Rusia meskipun masih dalam skala terbatas. (mm)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL