LiputanIslam.com –  Statemen-statemen Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrallah, tak pernah luput dari aneka informasi baru sehingga menarik bagi khalayak, terlebih pengamat dan politisi, yang ingin mengetahui perkembangan situasi kemelut dan konflik yang terjadi di Timteng, terutama berkenaan dengan Rezim Zionis Israel.

Belum lama ini presenter  TV Al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon, Sami Kleib, mengadakan wawancara eksklusif dengan Nasrallah dan menyiarkannya pada Rabu malam (3/1/2018). Pernyataan Nasrallah dalam wawancara ini sarat kejutan, terlebih ketika dia mengungkapkan bahwa gajinya tidak lebih dari US$ 1300 atau sekira Rp. 17.500.000.

Masalah gaji ini, meski sepele namun mengundang perhatian publik, dan dia mengungkapnya bukan dalam rangka tawadhu’ atau merendah, melainkan berkata apa adanya, sebab untuk apa sosok rohaniwan pejuang seperti dia menimbun harta, membeli kapal pesiar dan mengoleksi mobil mewah, menghabiskan masa liburan di French Riviera, dan memboyong karya lukis tersohor di dunia, misalnya.

Sayyid Hassan Nasrallah adalah sosok pejuang yang tinggal di dalam bunker bawah tanah selama lebih 20 tahun, bukan di istana megah dan mewah. Anak dan istrinyapun hidup dengan sangat bersahaya. Dalam perjuangan dia bahkan juga telah mempersembahkan satu puteranya sebagai syahid dalam perang melawan Israel. Dengan kondisi demikian jelas tak mungkin terbayang dia berada di jalanan Beirut di dalam mobil Rolls-Royce atau Ferrari. Dia adalah figur yang sangat kontras dengan banyak pemimpin Arab lain.

Terlepas dari itu, ada empat isu politik dan militer yang layak digaris bawahi dari pernyataannya pada wawancara tersebut;

Pertama, pengakuannya bahwa dia telah mengadakan pertemuan dengan gerakan Fatah dalam serangkaian pertemuannya dengan berbagai faksi pejuang Palestina. Menurutnya, dalam pertemuan itu delegasi Fatah menekankan eskalasi intifada dan bahwa intifada merupakan bagian utama dari misi Fatah. Dia juga mengatakan bahwa semua faksi Palestina lainnya menyambut baik partisipasi Fatah dalam intifada.

Kedua, penegasannya bahwa perang yang akan terjadi di masa mendatang melawan Israel akan sarat kejutan, dan bahwa kawasan Galilee di bagian utara Palestina pendudukan akan menjadi target gempuran Poros Resistensi (muqawamah). Ini berarti bahwa Hizbullah tidak akan berada dalam posisi defensif, melainkan juga ofensif.

Ketiga, pernyataannya bahwa aturan main di setiap pertempuran akan mengacu pada situasi dan peristiwa. Salah satu unsur utama pertempuran melawan musuh adalah unsur kejutan, dan Poros Resistensi sudah menyiapkan diri untuk menghasilkan kejutan-kejutan di lapangan. Dalam rangka ini mereka bekerja siang malam untuk meraih segala jenis senjata untuk memenangi perang mendatang.

Keempat, penegasannya bahwa orang yang dapat mengalahkan kelompok teroris sangat berpeluang untuk mengalahkan pasukan Zionis Israel, sebab para ekstremis ISIS terbukti gencar, mati-matian, dan tak kenal rasa takut dalam bertempur sehingga bahkan rela meledakkan diri.

Adanya pertemuan Nasrallah dengan delegasi Fatah merupakan satu perkembangan strategis dan signifikan karena menambah kekuatan politik dan militer untuk Poros Resistensi serta gerakan intifada di dalam dan di luar Palestina.

Pertemuan Fatah dengan panglima besar kelompok pejuang Islam Lebanon menandakan bahwa Fatah bertekad untuk membongkar semua wahana perdamaiannya selama ini, memilih bergabung dengan Poros Resistensi, merobohkan semua jembatan penghubungnya dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di kawasan, dan pada gilirannya berhijrah dari proses perdamaian dan Perjanjian Oslo.

Ini jelas merupakan perpindahan yang sangat strategis dan bisa jadi mempercepat keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan bantuan finansialnya kepada otoritas Palestina, sebagaimana juga mungkin akan melengserkan Mahmoud Abbas dari kedudukannya sebagai ketua orotitas Palestina di Ramallah, Tepi Barat.

Adapun mengenai poin strategis lain yang disebut Nasrallah berkenaan dengan unsur “kejutan” dan upaya Hizbullah memiliki segala jenis senjata untuk menundukkan lawan, pernyataan ini mengingatkan orang pada rudal canggihnya yang telah menenggelamkan kapal perang Israel di kawasan lepas pantai Lebanon pada Juli 2006.

Ini juga mengingatkan kepada pernyataan seorang komandan Angkatan Laut (AL) Israel dalam artikelnya di sebuah majalah militer bahwa Hizbullah berhasil membuat armada yang tergolong terhebat di dunia yang sulit tenggelam dan dapat membawa banyak rudal. Dia mengatakan bahwa AL Israel telah memasang sistem pertahanan anti rudal “Kubah Besi” di kapal perang  Sa’ar 5-Class Corvette miliknya untuk mengantisipasi ancaman Hizbullah.

Bersamaan dengan ini, komandan AL Israel di Pelabuhan Ahsdod menyatakan bahwa rudal bukan satu-satu ancaman sehingga pasukan Israel juga harus mewaspadai ancaman dari dalam air berupa serangan bunuh diri dan lain-lain.

Alhasil, Nasrallah diakui bukan sembarang orang, sebab apa yang dia katakan selama ini selalu terbukti di lapangan, karena memang bertolak dari data-data akurat.  Israel dan sekutu Arabnya berada dalam posisi terjepit, dan pengakuan Nasrallah bahwa di Suriah terdapat para jawara muqawamah di perbatasan timur dan utara merupakan salah satu faktor keterhimpitan mereka.

Sudah sekian lama dunia Arab dan Islam dirundung nestapa keterhinaan, namun sekarang masa itu tampak sudah mendekati ujung penghabisannya untuk berganti lembaran baru, era kehormatan dan kemenangan. (mm)

Sumber: Ray Al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*