kelompok friends of syriaLiputanIslam.com – Menjelang pemilu presiden Suriah tanggal 3 Juni mendatang, gerilya diplomatik berbagai kelompok oposisi dan negara-negara suporternya terlihat intensif dan mengundang perhatian pengamat Timur Tengah.

Sami Kleib, misalnya, dalam artikelnya di Harian al-Akhbar menyorot gerilya Ahmad Jarba pemimpin Koalisi Opisisi Suriah di Washington, Amerika Serikat (AS). Jurnalis Lebanon berkebangsaan Perancis ini menyebut kepergian Jarba ke negeri Paman Sam itu adalah dalam rangka melobi para pejabat Washington agar mengubah sikap dan berkenan membekali gerilyawan oposisi Suriah dengan senjata anti serangan udara, namun dia gagal meyakinkan AS.

Menurut Kleib, hal yang masih bisa diharapkan Jarba paling banter ialah kesediaan Gedung Putih membukakan pintu arsenal Arab Saudi dan Turki agar dapat menyuplai senjata anti tank dan berbagai senjata semi ringan lainnya kepada gerilyawan oposisi Suriah, itupun masih harus dibawah pengawasan ketat AS agar senjata tidak jatuh ke tangan ekstrimis semisal al-Nusra dan Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIL).

Kemajuan operasi militer pasukan pemerintah Suriah (SAA) dan milisi Hizbullah yang mendukungnya di berbagai titik strategis serta pergerakannya untuk menguasai kembali semua kota yang masih tersisa praktis telah menjatuhkan mental pihak oposisi. Karena itu, mereka dinilai perlu mendapat suntikan nyali agar tidak menjurus pada frustasi. Dalam rangka ini, negara-negara Barat pendukung mereka lantas memfasilitasi pembukaan “kantor diplomatik” oposisi Suriah di Washington, London dan lain-lain. Namun, apakah arti semua ini? Jawabannya ada di Washington dan telah didengar oleh Jarba dari para pejabat AS sendiri.

Kleib menyebutkan bahwa institusi militer AS sudah kehilangan seleranya untuk kemenangan gerilyawan atas SAA. Bahkan, sebagaimana tentara negara-negara lain seperti Irak, Mesir, Lebanon, Jordania dan Yaman, SAA pada akhirnya justru dibutuhkan untuk apa yang disebut perang melawan terorisme. Dalam konteks ini, pihak oposisi Suriah tidak cukup kompeten untuk meyakinkan pemerintah dan militer AS bahwa mereka akan dapat mengatasi kelompok ekstrimis ISIL dan al-Nusra. Karena itu, Washington maksimal hanya akan meningkatkan bantuan kepada “kelompok moderat” sebatas untuk menciptakan keseimbangan militer demi mengondisikan perundingan pemerintah Damaskus dengan Koalisi Oposisi Suriah dan kelompok-kelompok oposisi lainnya.

Barat mengakui SAA dan sekutunya berhasil mengubah sebagian besar peta pertempuran. Mereka juga meyakini gerilyawan oposisi tidak akan sanggup mengubah keadaan di berbagai wialayah, khususnya di kawasan utara Suriah. Tapi di saat yang sama, Barat juga pantang menyaksikan kehancuran gerilyawan di wilayah utara, karena akibatnya terlampau fatal bagi oposisi serta peran yang selama ini dimainkan Turki. Karena itu Barat tetap akan konsisten menyuplai bantuan kepada pemberontak Suriah.

Dagelan Jelang Pemilu

Dari apa yang terjadi di Washington maupun dalam pertemuan 11 negara yang tergabung dalam kelompok “Sahabat Suriah” di London belum lama ini, para suporter oposisi Suriah itu terlihat gamang menyaksikan perkembangan situasi Suriah, bukan saja karena kemajuan operasi militer SAA dan sekutunya, melainkan juga karena tersiarnya gambar dan rekaman-rekaman video kembalinya penduduk ke kota Homs pasca keluarnya gerilyawan pemberontak dari kota tersebut.

Kondisi ini kemudian diperparah oleh kemungkinan kesuksesan pemilu presiden Suriah di sebagian besar kota sehingga Barat termobilisasi untuk mencibir pemilu tersebut.

Kelompok Sahabat Suriah dalam pertemuan di London mengecam rencana pemilu itu dan menyebutnya pergelaran “yang tidak sah” dan “dagelan demokrasi”. Mereka mendesak masyarakat internasional supaya menolak apapun hasilnya. 11 negara yang tergabung dalam kelompok itu adalah AS, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Turki, Mesir, Arab Saudi, Yordania, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Usai pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mengatakan, “Rencana pemilu tersebut adalah lelucon yang menghina dan palsu.”

Editorial media online Rai al-Youm menilai aksi Kelompok Sahabat Suriah itu justru mencerminkan kegusaran dan kepanikan mereka menghadapi pemilu Suriah, sehingga yang menjadi lelucon sama sekali bukan pemilu Suriah, melainkan tingkah “kesebelasan” anti pemerintah Suriah itu sendiri.

Abdul Bari Atwan, penulis editorial tersebut, menyoal mengapa Kerry dan komplotannya itu sedemikian peduli kepada pemilu Suriah dan bahkan menjadikannya sebagai materi utama komunike bersama mereka di London. Menurut Atwan, semua ini jelas karena kesuksesan pemilu Suriah di tengah badai tekanan dari oposisi Suriah dan negara-negara pendukungnya sangat menyakitkan bagi mereka.

Atwan mengingatkan standar ganda AS dalam kasus Suriah dan Mesir. Menurutnya, AS memilih aksi bungkam total ketika Mesir di era diktator Hosni Mubarak menyelenggarakan pemilu parlemen yang hasilnya bahkan sama sekali tidak menyisakan satupun kursi untuk kelompok-kelompok Islamis yang beroposisi. Rezim Washington tutup mulut tak lain karena Mubarak jelas-jelas sekutu mereka, sedangkan untuk pemilu Suriah mereka berkoar sedemikian rupa. Di samping itu, mengapa baru sekarang AS dan sekutunya berteriak soal pemilu Suriah, sedangkan terkait pemilu-pemilu sebelumnya mereka rutin mengirim ucapan selamat kepada pemerintah Suriah.

Atwan juga menegaskan bahwa yang menjadi dagelan bukan pemilu presiden Suriah, melainkan kekecelean AS dan sekutunya dalam krisis Suriah. Dulu mereka mensponsori pemberontakan di Suriah sambil mengumbar janji akan menyokong mereka, bahkan kalau perlu mereka akan melakukan intevensi militer langsung sebagaimana yang mereka lakukan di Libya. Tapi kenyataannya, mereka tak berani menepati janji itu. Sebab, selain takut gagal juga karena ada resiko krisis Suriah akan menjurus pada keadaan yang sangat merugikan Israel. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL