intifada palestinaLiputanIslam.com- Setelah Jalur Gaza, kini giliran Tepi Barat dan bahkan wilayah Israel (Palestina pendudukan 1948) yang setiap hari dilaporkan penuh gejolak dan bentrokan antara warga Palestina dan kaum Zionis Israel. Beberapa korban jiwa bahkan telah jatuh dari kedua belah pihak dalam berbagai kerusuhan, bentrok dan kekerasan yang dipicu oleh aksi-aksi yang terindikasi kuat sebagai konspirasi kaum Zionis untuk menguasai Masjid al-Aqsa yang notabene tanah suci ketiga bagi umat Islam dan pernah menjadi kiblat pertama mereka.

Pihak Palestina di Tepi Barat dan wilayah Israel yang tak memiliki senjata telah melakukan perlawanan dengan berbagai cara yang memungkinkan. Jika dulu mereka hanya bergerak secara massal dengan membakar ban bekas, melempar batu dan bom molotov, sekarang mereka tak segan-segan melancarkan aksi secara perorangan dengan membawa senjata tajam dan bahkan mengendarai mobil untuk menabrak kaum Zionis, meskipun mereka tahu persis bahwa resikonya adalah maut. Beberapa orang Zionis, termasuk polisi dan tentara, tewas di tangan mereka.

Di tengah situasi demikian, terbetik kabar dari pihak Israel bahwa beberapa negara Arab mulai turun tangan untuk meredakan amuk warga Palestina agar aksi jalanan mereda dan tak mengarah kepada intifada Palestina jilid 3.

Sebagaimana dilaporkan Palestinian Information Center (PIC), Kepala Hubungan Keamanan Dengan Mitra Regional dan Strategis Kementerian Pertahanan Israel, Amos Gilad, Selasa (11/11) mengatakan bahwa sejumlah negara Arab serta pemimpin otoritas Palestina sendiri, Mahmoud Abbas, telah berlaku kooperatif dengan upaya politik dan diplomatik Israel untuk membendung intifada dan aksi jalanan warga Palestina. Dia mengklaim bahwa perkembangan ini berhasil mengurangi intensitas unjuk rasa di Baitul Maqdis (Jerussalem).

Hingga kini belum ada komentar dari pihak-pihak Arab terkait pernyataan Gilad tersebut. Yang jelas, terkait berbagai aksi lancang Zionis terhadap Masjid al-Aqsa, Mahmoud Abbas sempat bereaksi keras dan menyebut aksi itu tak ubahnya dengan “pernyataan perang” terhadap Palestina. Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh Juru Bicara Otoritas Palestina Nabil Abu Rudeineh. (Baca juga: Palestina Memanas, Israel Dianggap Umumkan Perang)

Dalam perkembangan terbaru, sebuah konferensi bertema “Solidaritas Masjid al-Aqsa” telah berlangsung di Beirut, ibu kota Lebanon, Selasa (11/11) atas prakarsa Forum Ulama Islam Lebanon dan dihadiri oleh para tokoh agama dan politik. Semua pembicara para peserta konferensi ini mengarah pada intifada dan menyerukan kontinyuitas aksi jalanan, walaupun aksi demikian cenderung dipandang sebagai aksi teror oleh para sekutu Israel. (Baca pula: Konferensi Solidaritas Masjid al-Aqsa: Bangsa Palestina Menyongsong Intifada Baru)

Terlepas dari itu, sebagaimana dinyatakan PIC, para analis dan pengamat menilai situasi di Palestina kian menjurus pada intifada jilid 3.

Kata “intifada” sendiri berarti “kebangkitan”, dan istilah ini popular berkenaan dengan kebangkitan rakyat Palestina melawan Israel dalam dua periode terpisah. Intifada jilid 1 terjadi pada tahun 1987 hingga 1993, sedangkan intidafa jilid 2 berlangsung pada tahun 2000.

Melihat intensitas aksi jalanan yang dilakukan secara kolektif maupun perorangan dengan berbagai cara seperti disebutkan di atas tak urung segera mengingatkan orang pada kata “intifada”, apalagi aksi itu meluas dan terjadi di banyak tempat.

Ada beberapa faktor yang membuat para pemerhati dan analis menilai situasi kontemporer Palestina menjurus pada intifada. Faktor paling krusial tentunya adalah kelancangan kelompok-kelompok ekstrimis Yahudi Zionis terhadap Masjid al-Aqsa yang cenderung dibiarkan oleh rezim Tel Aviv.

Faktor lain ialah kobaran yang terjadi begitu cepat setelah selama ini seluruh wilayah Palestina berada dalam kondisi yang cenderung tenang dan stagnan, yaitu kondisi yang ternyata malah mendorong kaum Zionis untuk menggalakkan praktik-praktik penindasan secara lebih menggila dari sebelumnya. Hal ini juga ini terjadi ketika rakyat Palestina tidak melihat adanya cakrawala yang jelas dan kongkret untuk merealisasikan strategi pendirian negara Palestina yang merdeka dan beribu kotakan tanah suci Baitul Maqdis, sementara Israel terus menebar kanker dalam bentuk permukiman Zionis di banyak kawasan Tepi Barat dan Baitul Maqdis.

Jurnalis senior dan analis politik Palestina Khalid Amayreh mengatakan bahwa wilayah Palestina sedang menyongsong intifada jilid 3. Menurutnya, kondisi inilah yang ditekankan oleh para analis militer serta penulis Israel, serta menjadi faktor utama mengapa pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi sasaran kritikan.

“Tidak ada kasus yang dapat menghimpun massa Palestina seperti kasus al-Quds dan Masjid al-Aqsa. Dengan demikian, berlanjutnya intifada ini terdorong kuat oleh kontinyutas provokasi rezim pendudukan terhadap orang-orang Palestina melalui praktik-praktik penindasan di al-Quds dan Masjid al-Aqsa di satu sisi, dan di sisi lain ketidak mampuan rezim ini dalam mengendalikan aksi para pemukim (Zionis) juga telah menimbulkan peningkatan dukungan dan dana kepada mereka,” ungkap Amayreh.

Dia menambahkan, “Suasana yang mewarnai Tepi Barat sangat pessimistik. Hal ini mendorong orang-orang Palestina untuk menempuh cara-cara tradisional dan personal yang tersedia bagi mereka untuk melawan pendudukan, termasuk menikam, menabrak, dan melempar batu. Ini merupakan akibat langsung dari dominasi rezim pendudukan serta kegagalan otoritas Palestina merealisasikan tujuan-tujuan nasional, terutama pendirian negara Palestina.”

Penulis dan analis politik Palestina lainnya, Ala’a al-Rimawi berpendapat bahwa yang dapat digalang dewasa ini ialah muqawamah (perlawanan) dalam bentuk yang nyata, bukan menahan diri sebagaimana pilihan politik yang direpresentasikan oleh otoritas Palestina.

“Pasca Perang Gaza sudah menjadi keyakinan bagi seluruh masyarakat Palestina dengan semua komponennya bahwa hanya muqawamah sajalah yang dapat membendung rencana-rencana Zionis. Dengan keyakinan ini Hamas mengubah anak-anak muda Palestina menjadi mesin konfrontasi yang nyata di lapangan,” papar al-Rimawi.

“Gelombang revolusi akan terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk operasi perorangan, operasi terorganisir, dan operasi semi terorganisir, terutama karena situasi yang ada memungkinkan gerakan-gerakan Islam untuk menggalang organisasi untuk melakukan tindakan seperti yang terlihat jelas dalam Perang Gaza,” lanjutnya.

Pada kesimpulannya, gejolak yang terjadi dewasa ini di Tepi Barat merupakan letupan akumulasi berbagai faktor di mana problematika Palestina dipastikan tidak mungkin akan dapat terselesaikan kecuali melalui jalur intifada. Dan intifada kali ini tidak mesti seperti jilid-jilid sebelumnya, melainkan bisa jadi akan berlangsung dengan pola, metode dan sarana yang lebih variatif dan baru. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL