LiputanIslam.com –  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah satu-satunya orang yang dua kali menyerukan Konferensi Tinggi Tinggi (KTT) luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Pertama ialah ketika di akhir tahun 2017 Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niatnya memindah Kedubesnya untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem).

Kedua ialah ketika Jalur Gaza membara dan jatuh korban jiwa lebih dari 60 orang Palestina dan korban luka lebih dari 3000 orang lainnya akibat serangan pasukan Zionis.  Erdogan Selasa lalu mengumumkan bahwa OKI akan menyelenggarakan KTT di Istanbul pada hari Jumat.   Dia segera menghubungi para pemimpin Arab dan Islam, termasuk Raja Arab Saudi, Raja Yordania, Emir Kuwait, dan Presiden Iran.

Di pihak lain, Liga Arab terlihat naif ketika dalam bereaksi atas kejahatan itu hanya menggelar pertemuan level delegasi di markasnya di Kairo, Mesir, sebelum kemudian meningkat ke level menlu. Ini tak ubahnya dengan merendahkan status kota al-Quds dan meremehkan kemarahan bangsa-bangsa Arab sendiri atas Judaisasi al-Quds dan dijadikannya kota ini sebagai ibu kota Israel. Dengan demikian pertemuan Liga Arab tingkat menlu menandakan ketidak seriusan organisasi ini dan tidak akan menghasilkan apa-apa.

Karena itu, sekarang tinggal KTT OKI yang lebih bisa diharapkan menghasilkan sesuatu yang berarti. OKI yang menjadi tempat untuk menguji nasionalisme, Arabisme, dan Islamisme para pemimpin Dunia Islam. Sayangnya, kecil kemungkinan mereka semua akan menghadirinya, lalu akan berhasil dalam ujian ini. Kecil kemungkinan mereka akan menghasilkan keputusan yang tegas terhadap Israel dan AS. Sebab isu Al-Quds dan Palestina bukanlah prioritas para pemimpin Arab, apalagi Saudi dan sekutunya di Teluk Persia bahkan jelas-jelas mempromosikan normalisasi hubungan dengan Israel.

Negara-negara Arab yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tidak memulangkan para dubes masing-masing dari Israel. Padahal negara-negara lain semisal Turki, Afrika Selatan, Irlandia dan Norwegia telah memulangkan dubes masing-masing dari Israel sebagai reaksi protes atas pembantaian warga Palestina dan peresmian pemindahan Kedubes AS ke Al-Quds. Negara-negara Arab itu seharusnya terdepan dalam pemulangan dubes serta dalam penyelenggaraan KTT OKI. Celakanya lagi, negara-negara itu malah mencurigai niat Erdogan di balik penyelenggaraan KTT OKI.

Erdogan berhasil menarik simpati banyak publik Arab setelah menunjukkan kepeduliannya kepada resistensi Palestina serta menyatakan siap mengirim beberapa pesawat untuk membawa dan merawat lebih dari 3000 korban luka Palestina ke Turki. Sedangkan Presiden Mesir Abdel Fattal El-Sisi malah tetap bersikukuh menutup pintu perbatasan negaranya dengan Jalur Gaza.

Erdogan bisa jadi bertindak demikian demi menunjang posisi diri dan kelompoknya dalam pemilu presiden dan parlemen mendatang, tapi itupun masih jauh lebih patut daripada sebagian pemimpin negara Arab yang sama sekali tidak mengindahkan aspirasi publiknya, tidak mengakui eksistensi rakyat, dan tak mengenal demokrasi.

Erdogan masih jauh lebih baik daripada sebagian pemimpin Arab. Hanya saja, betapapun lantangnya suara Erdogan, dia sendiri masih jauh dari apa yang seharusnya. Sebab seandainya memang benar-benar gusar atas perkembangan situasi di Palestina, dia seharusnya mengusir semua diplomat AS dan Israel serta menutup kedubes negara arogan ini di Turki. Dia juga seharusnya mengundang Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk KTT OKI, dan menarik pasukannya dari Suriah serta berdamai dengan Suriah sebagai wujud nyata upaya melawan konspirasi besar yang melanda bangsa Arab dan umat Islam. Jika Turki memenuhi keharusan ini maka tak pelak akan terbentuk front yang tangguh untuk melawan kebiadan AS dan Israel yang telah melanggar semua garis merah.

Berharap demikian memang terlihat terlampau berlebihan dan tak realitis di saat kondisi Dunia Arab dan Islam jelas carut marut. Tapi ini tidak berarti akan memupus segala harapan, karena setiap kebijakan dan aliansi tetap terbuka untuk perubahan sesuai kebutuhan. Apalagi,bagaimanapun juga umat ini harus keluar dan lolos dari lingkaran setan dan bangkit untuk menegakkan kehormatannya. (mm)

Disadur dari Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*