LiputanIslam.com –  Perundingan damai Suriah di Astana, Kazakhstan, telah berakhir pada Selasa (24/1/2017) dan berlangsung dengan tatap muka untuk pertama kalinya antara delegasi pemerintah Suriah dan delegasi oposisi bersenjata negara ini.  Memang, pertemuan ini cenderung membisu dan ditutup hanya dengan pernyataan dari tiga negara yang menjamin pemberlakuan gencatan senjata di Suriah, yaitu Rusia, Turki dan Iran, tapi setidaknya telah memecah kebekuan selama ini dan membuka babak baru proses penyelesaian krisis Suriah.

Ada empat poin penting yang menampak dari pertanyaan para pejabat yang terlibat dalam pertemuan Astana berkenaan dengan fakta-fakta pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini. Empat poin yang patut diperhatikan oleh setiap pengamat dan analis ini secara garis besar ialah sebagai berikut;

Pertama, pertemuan ini diawali oleh gagasan dua negara Rusia dan Turki, tapi kemudian berakhir dengan keputusan segi tiga -dengan tambahan Iran- sebagai pihak yang menjamin pelaksanaan pasal-pasal perjanjian gencatan senjata. Di pihak lain, negara-negara Arab, Eropa, dan Amerika Serikat (AS) tersisihkan, padahal dua di antara mereka merupakan negara yang paling getol menyuplai dana dan senjata kepada kelompok-kelompok oposisi di Suriah. Bagaimana dan mengapa marginalisasi ini terjadi? Perjalanan waktu akan segera menjawabnya.

Kedua, terjadi pemisahan total – seperti yang selalu dikehendaki Rusia sejak awal- antara kelompok-kelompok oposisi bersenjata di satu pihak dan kelompok-kelompok yang tercantum dalam daftar organisasi teroris di pihak lain. Kemudian, kubu oposisi itu juga terpisah dari kelompok-kelompok oposisi lain yang sebagian besarnya terdiri atas tokoh-tokoh yang tinggal di pengasingan. Kubu oposisi yang hadir di Astana berjanji untuk berpartisipasi dalam penumpasan kelompok-kelompok teroris ISIS, Jabhat al-Nusra dan bisa jadi –pada tahap selanjutnya- Ahrar Sham.

Ketiga, Rusia yang semula menjadi negara yang “menduduki” Suriah dan menyokong pemerintah Suriah kini berperan sebagai “mediator netral” yang menjamin pelaksanaan gencatan senjata dan solusi diplomatik. Mohammad Alwash, pemimpin kelompok Jaish al-Islam, yang mengetuai delegasi oposisi bahkan berbicara tentang Rusia dengan nada akrab, merasa senang bertemu dengan delegasi Moskow, dan menyatakan percaya kepada mereka.

Keempat, ketua delegasi Rusia dalam pertemuan Astana, Alexander Lavrentiev, menyatakan Moskow telah menyerahkan draf konstitusi baru Suriah kepada delegasi oposisi Suriah. Dia mengatakan bahwa draf ini telah dipersiapkan oleh sejumlah pakar Rusia. Tak jelas apakah delegasi pemerintah Suriah juga menerima draf itu, bagaimana reaksinya, dan apa saja materi utama yang tertuang di dalamnya?

Dari empat poin ini boleh dikata bahwa perundingan Astana telah menghasilkan terobosan-terobosan besar dan panorama baru untuk Suriah, terutama mengenai dua pemain utama; satu pemain internal Suriah (pemerintah dan oposisi), dan yang lain pemain regional Turki dan Iran sebagai dua kekuatan besar. Dengan segala perselisihan yang ada pada mereka, semua pihak itu seolah sudah terhimpun dalam satu kubu dalam menghadapi “musuh bersama” berupa kelompok-kelompok ekstrimis Islam.

Perang antara kubu oposisi bersenjata yang bernaung di bawah tenda Turki di satu pihak dan pemerintah Suriah di pihak lain bisa jadi sudah mendekati batas akhirnya, untuk kemudian masuk dalam perang lain yang mungkin tak kalah serunya antara kubu itu dengan organisasi-organisasi teroris ISIS dan Jabhat al-Nusra alias Fateh al-Sham.

Bukan tak mungkin pihak Arab dan internasional yang tersisihkan dari dapur Astana akan berusaha menggagalkannya dengan cara menyokong langsung atau tidak langsung kelompok-kelompok teroris yang menjadi target operasi, atau kelompok-kelompok lain lagi yang memiliki ribuan kombatan seperti Kurdi, sebagai reaksi atas penyisihan itu. Mereka yang tersisih itu akan menjalankan agenda-agenda tertentu yang menyalahi agenda asalnya berupa perlawanan terhadap menguatnya pengaruh Iran dan penggagalan solusi diplomatik bagi krisis Suriah tanpa pelengseran Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Satu ungkapan yang sangat penting meluncur dari Bashar Jaafari, ketua delegasi pemerintah Suriah, pada penutupan perundingan Astana. Dia mengatakan, “Kami menantikan kesediaan kubu oposisi bersenjata bergabung dengan Pasukan Arab Suriah (SAA) dalam perang melawan al-Nusra dan ISIS.” Pernyataan ini patut dicermati karena bisa jadi mencerminkan tujuan sejati pertemuan Astana dan peta pergerakan yang akan datang.

Ketika Jaafari duduk bertatap muka dengan Alwash di satu meja dan di satu atap maka segala kemungkinan bisa saja akan terjadi pada beberapa hari atau beberapa minggu mendatang, termasuk keterlibatan kubu oposisi dalam perang di bawah komandan SAA melawan kubu teroris.

Jaafari dan Alwash memang telah saling melontarkan ucapan pedas, tapi ini dapat dianggap sekedar “pengundang selera” dan “pendahuluan” yang sudah lazim adanya dalam kamus negosiasi umumnya.

Sumber: Rai al-Youm

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL