LiputanIslam.com –  Sebagian besar pengamat masalah strategi pada 1 Mei lalu menyatakan bahwa “pertunjukan” yang dilakukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sehari sebelumnya sama sekali tidak mengajukan bukti dan keterangan baru bahwa Iran melanggar perjanjian nuklir yang diterapkan sejak awal tahun 2016.

Hanya saja, apa yang dilakukan Netanyahu merupakan bagian dari pengkondisian untuk serangan terhadap Iran, baik serangan ke “pangkalan-pangkalannya” di Suriah maupun ke wilayah Iran sendiri, dan bertujuan menggerakkan sebagian negara Arab dan Eropa agar berpihak kepada Amerika Serikat (AS) dalam menekan Iran.

Ada beberapa perkembangan situasi Timteng yang mengindikasikan kuatnya kemungkinan akan terjadinya gejolak militer besar dalam beberapa pekan mendatang;

Pertama, berbagai statemen AS yang dilansir channel NBC bahwa seorang petinggi AS mengatakan, “Israel kemungkinan kuat siap melancarkan serangan militer dalam menghadapi Iran.”

Dia menambahkan bahwa Israel berusaha mendapat dukungan dari Washington, dan kemungkinan besar perang Iran-Israel akan berkobar di wilayah Suriah. Menurutnya, jet-jet tempur F-15 Israel telah menyerang pangkalan Iran dekat kota  Hama setelah Iran memasok senjata kepada para anggota Brigade  47 miliknya, termasuk rudal darat ke udara.

Kedua, pernyataan Menlu Maroko Nasser Bourita bahwa negaranya memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, mengusir Dubes Iran dan menutup Kedubes Iran untuk Maroko di Rabat dengan tuduhan bahwa Iran dan sekutunya Hizbullah mendukung Front Polisario, gerakan yang sudah berumur puluhan tahun dan bercita-cita mengakhiri eksistensi Maroko di kawasan Sahara Barat. Menurut Bourita, Hizbullah telah mengirim para petinggi militer kepada Polisario, menyediakan untuk front ini senjata serta melatih mereka perang kota.

Tindakan Maroko ini bisa jadi merupakan pendahuluan supaya negara-negara lain sekutu AS melakukan tindakan yang sama. Memang, Perdana Menteri Maroko Saadeddine Othmani di halaman Twitternya menyatakan bahwa pemutusan hubungan dengan Iran itu murni keputusan Maroko sendiri. Namun, momen pengambilan keputusan ini membuatnya sulit dipisahkan dari pengaruh perkembangan situasi Timteng.

Ketiga, miliarder Mesir Naguib Sawiris telah menginvestasikan separuh kekayaannya yang diperkirakan mencapai US$ 6 miliar ke dalam emas. Dia juga mengatakan, “Emas adalah tempat berlindung yang aman bagi kebanyakan orang di tengah situasi krisis.” Namun, dia tidak mengatakan bahwa naluri pengusaha adalah ibarat insting burung atau hewan yang dapat merasakan pertanda buruk menjelang terjadinya bencana alam.

Kekuatiran pengusaha akan terjadinya ledakan perang umumnya sangat beralasan, apalagi pengusaha sekelas Sawiris yang memiliki banyak koneksi dengan para pengambil keputusan di dunia sehingga media sebesar Bloomberg mengutip pernyataannya tersebut di tengah memanasnya situasi di Timteng dewasa ini.

Keempat, desakan Menlu AS Mike Pompeo kepada negara-negara Arab agar menyudahi perselisihan mereka satu sama lain demi terfokusnya mereka kepada Iran. Sebelumnya, media Israel mengungkap bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman dalam pertemuan dengan para pemimpin Yahudi di AS mengatakan bahwa isu yang prioritas bagi pemerintah dan rakyat Saudi bukanlah konflik Palestina-Israel, melainkan upaya membendung pengaruh Iran di kawasan.

Di Eropa dewasa ini berkembang kekuatiran bahwa Netanyahu akan dapat menggiring Timteng dan terlebih AS kepada perang menyusul kemungkinan keluarnya AS dari perjanjian nuklir Iran.

Menariknya lagi, Presiden Rusia Vladimir Putin memilih bungkam terkait kabar adanya serangan Israel ke sebuah pangkalan militer di dekat kota Hama dan tewasnya lebih dari 20 penasehat militer Iran, demikian pula terhadap klaim-klaim Netanyahu bahwa Iran melanggar perjanjian nuklir, sementara pertanyaan yang mengemuka ialah bagaimana reaksi atas penghinaan Israel terhadap Rusia dan para sekutunya di Suriah yang notabene sangat dipengaruhi Rusia.

Netanyahu tentu sudah dikenal sebagai sosok pendusta dan provokator yang kebetulan juga terbelit kasus korupsi di Israel sendiri. Namun, orang seperti dialah yang justru diterima oleh Presiden AS Donald Trump sehingga militer AS bahkan rela terlibat dalam perang demi memenuhi titah Israel.

Alhasil, bayang-bayang perang besar tampak semakin menghantui Timteng, dan jika perang Israel melawan Poros Resistensi ini berkobar maka sulit bagi Israel untuk keluar darinya dalam kondisi  bugar seperti dalam beberapa peperangan sebelumnya. Israel kali ini bahkan berpotensi menjadi seperti Jerman dalam Perang Dunia I dan II. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*