LiputanIslam.com –  Turki menggelar operasi militer bersandi “Tangkai Zaitun” di kawasan Afrin, provinsi Aleppo, Suriah Utara, sejak Sabtu 20 Januari 2018, dengan melancarkan serangan artileri dan udara terhadap posisi-posisi milisi Kurdi Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) yang menguasai kawasan itu.

Banyak pengamat memandang Turki tidak mungkin dapat mengobarkan perang di Afrin di Suriah tanpa persetujan Rusia yang mengasai zona udara Suriah utara dan secara militer juga eksis di Afrin serta menjalin hubungan baik dengan YPG, namun pekan lalu Rusia menarik pasukannya yang tersebar di Afrin dengan alasan demi menghindari “provokasi”.

Ankara menuding YPG sebagai cabang Partai Pekerja Kurdi Turki (PKK) yang melakukan pemberontakan bersenjata di wilayah Turki sejak 1984, sementara Amerika Serikat (AS) mendukung YPG yang menjadi elemen utama Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang disebut-sebut sebagai pasukan koalisi Kurdi dan Arab Suriah dalam perang melawan kelompok teroris ISIS di Suriah utara.

Perang Afrin tidak lepas dari keterlibatan AS, baik langsung maupun tidak, yang mendukung milisi Kurdi dan menjadikannya sebagai batu pijakan bagi eksistensi pasukannya di Suriah utara dan bahkan bagi apa yang disebut Menhan AS Norman Mattis sebagai strategi antisipasi era Rusia dan Cina di Timteng sekaligus pencegahan ekspansi pengaruh Iran di kawasan ini.

Afrin adalah kawasan vital bagi Kurdi Suriah sebagaimana juga strategis bagi Turki.  AS mengaku tidak terlalu berkepentingan karena kawasan itu berada di luar wilayah operasi pasukannya. Namun, AS tak dapat menyepelekan dampak perang ini terhadap pasukan Kurdi di satu sisi, dan pasukan AS yang mendukungnya di sisi lain.

Perang ini menjurus pada pertaruhan antara hidup dan mati bagi Kurdi dan Turki sehingga hasilnya praktis akan berpengaruh eksistensi AS di Suriah utara, walaupun seandainya AS dapat menahan diri agar tak terjebak ikut kontak senjata. Dengan demikian, AS boleh dikata terlibat dalam perang ini, dan kita tempatkan di sini sebagai pihak pertama.

Pihak kedua adalah kelompok-kelompok militan bersenjata yang eksis di Suriah utara dengan dukungan Turki. Mereka terdiri atas ribuan orang bersenjata atas nama Islam dan “jihad” di bawah bendera Jabhat Al-Nusra, Failaq al-Rahman, Ahrar Sham, dan Jaish Al-Hur. Nama-nama ini sering muncul bergantian.

Sepak terjang Turki di darat bertumpu pada mereka, dan mereka mengklaim bahwa konsentrasi mereka untuk berpartisipasi dalam perang Afrin telah berdampak pada hilangnya banyak posisi mereka di provinsi Idlib dalam waktu yang relatif singkat dalam perang melawan pasukan pemerintah Suriah, dan dampak ini akan berkelanjutan dalam perang di Idlib.

Di sisi lain, mereka di Afrin berhadapan dengan kekuatan yang cukup tangguh, sebab kelompok-kelompok Kurdi juga dikenal sangat militan, terlatih, dan belakangan berbekal berbagai jenis senjata istimewa.  Perang Afrin akan menggerogoti kekuatan kelompok-kelompok “jihadis” yang dijadikan oleh Turki sebagai mesin yang menggantikan posisi militernya di lapangan. Karena itu, Turki beresiko melemah atau bahkan kehilangan sekutunya di Suriah yang semula siap masuk dalam perimbangan politik Suriah melalui mediasinya.

Pihak ketiga adalah kelompok-kelompok milisi Kurdi sendiri. Para pemimpin Kurdi menyadari bahwa perangnya melawan Turki inilah yang akan menjadi faktor determinan bagi masa depan impiannya untuk eksistensi negara atau otonomi Kurdi. Karena itu mereka akan bertahan mati-matian di Afrin. Mereka tidak akan angkat tangan atau mundur kecuali jika keadaan memang benar-benar sudah sangat kritis bagi mereka sehingga mereka terpaksa menyerah, dan jika menyerah maka mereka kehilangan impiannya tersebut, baik dalam konteks kesefahamannya dengan pemerintah Suriah maupun dalam konteks penarikan dirinya dari perang secara keseluruhan.

Pihak keempat adalah negara yang memulai perang, yaitu Turki yang belakangan merasa tertekan oleh kalahnya ISIS dan kemajuan tentara Suriah di Idlib dengan dukungan Rusia dan Iran. Turki merasa harus berbuat sesuatu untuk menciptakan perimbangan baru dengan cara mengintimidasi Kurdi yang didukung oleh AS dan menjalin kesefahaman dengan Rusia.  Karena itu Turki mati-matian berusaha mendongkrak status perang Afrin dan mengerahkan segenap kapasitas politik, diplomatik dan militernya untuk memenangi perang ini. Namun Turki berhadapan dengan yang cukup tangguh untuk melawan. Turki juga akan membentur dinding politik yang sulit ditembusnya sehingga perang akan total dan habis-habisan secara militer dan politik.

Empat pihak yang terlibat dalam perang Afrin ini bagaimanapun juga sama-sama melancangi kedaulatan dan integritas Suriah, dan sejarah seakan mencatatnya sebagai karma bagi mereka yang selama ini telah berlomba mengacaukan keamanan Suriah.  Pihak Suriah sendiri cukup mengandalkan haknya yang paling dasar sehingga keamanan di perbatasan dan semua wilayah secara keseluruhan pada akhirnya akan jatuh ke tangan negara ini sendiri. (mm)

Sumber: Al-Binaa

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*