LiputanIslam.com – Kerajaan Arab Saudi kembali bertindak sewenang-wenang dengan korban yang sebagian besar adalah warga minoritas. Hanya dalam satu hari, yaitu pada Selasa lalu (23/4/2019), kerajaan itu mengeksekusi 37 warganya yang 80 persen di antaranya adalah warga Muslim Syiah dari pelbagai wilayah negara ini.

Kementerian Dalam Negeri Saudi dalam statemennya tentang ini mengklaim bahwa puluhan warganya yang berasal dari Qatif, Ahsa’, Jeddah, dan Madinah al-Munawwaroh itu dieksekusi karena “menganut faham terorisme, membentuk sel-sel teroris untuk menimbulkan kerusakan, kekacauan, dan anarkis, dan membangkitkan konflik sektarian.”

Namun demikian, sebagaimana dilaporkan al-Alam, Rabu (24/4/2019), sumber-sumber lokal yang mengetahui keluarga para korban menepis klaim itu dan memastikan bahwa 37 orang itu adalah para aktivis yang mengangkat tuntutan-tuntutan sosial.

Pengguna akun Twitter “Mu’taqili al-Karamah” mengungkapkan bahwa di antara tahanan Syiah yang tereksekusi terdapat ulama, dokter, aktivis, dan bahkan ada penyandang kebutuhan khusus.

Dia menyebutkan bahwa ulama yang dikenai hukuman itu adalah Syeikh Mohammad Abdul Ghani al-Atiyyah.

Sedangkan para korban lain adalah para aktivis yang beberapa di antaranya ialah:

– Mojtaba Nadir al-Suwaikat, mahasiswa Universitas Western Michigan, Amerika Serikat (AS), yang ditahan secara sewenang-wenang di Saudi sejak 12 Desember 2012.

-Hosein Qasim al-Abud yang ditangkap di depan adiknya di dalam mobil pada 17 Maret 2013.

– Munir Abdullah Ali Adam, warga yang sejak sebelum ditangkap mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran dan kemudian mengalami buta dan tuli total akibat penyiksaan setelah ditangkap pada 8 April 2012.

– Hosein Ali al-Humaidi, seorang tokoh masyarakat kota Saihat, provinsi Qatif, yang diringkus pada 17 Maret 2013.

– Muntazar Ali al-Subaiti, seorang aktivis yang telah membantah tuduhan-tuduhan rezim Saudi terkait dengan aktivitas sosialnya dan ditangkap pada Januari 2015.

– Hadi Yusuf al-Hazim, mahasiswa yang dikenal santun dan berbudi pekerti baik namun ditangkap pada 18 Maret 2014 karena menjadi aktivis kebebasan berpendapat.

– Abdullah Salman al-Sarih, aktivis yang dicokok pada 29 April 2013 lantaran dalam orasinya pada sebuah aksi demo menyatakan, “Kami melawan demi penduduk Riyahd, Al-Qasim, Riyadh, Jeddah, Buraidah, dan lain-lain.”

-Abdul Karim Mohammad al-Hawwaj, aktivis yang ditangkap pada 16 Januari 2014 dan kemudian disiksa antara lain dengan sengatan listrik.

-Abbas Haji al-Hasan, pengusaha dan tokoh yang ditangkap pada 2 Juli 2013 kemudian disiksa dan namanya dimasukkan dalam daftar mata-mata Iran.

– Salman Amin al-Quraisy, aktivis yang ditangkap pada 16 Januari 2013 kemudian dianiaya dengan sengatan listrik, pukulan dengan benda tumpul, sengatan api, dan lain-lain hingga mengalami sakit jantung, gangguan penglihatan dan tukak lambung.

-Hosein Hasan al-Rabi’, aktivis pergerakan yang diringkus pada 2 Desember 2012 dengan beberapa tuduhan terkait dengan aktivitas politik.

Aksi main eksekusi secara sewenang-wenang itu mengundang kecaman internasional serta para aktivis dan oposisi Saudi, antara lain  tokoh ternama Prof. Madawi al-Rasheed dari Theology and Religious Studies  King’s College London, Inggris.

Al-Rasheed berkomentar bahwa tindakan itu merupakan pesan keji dari Putra Mahkota Arab Mohamed bin Salman bahwa penguasa Saudi tak mengenal batas dalam menjalankan penindasan dan kebiadaban.

Amnesti Internasional menyatakan bahwa eksekusi itu menandakan bahwa rezim Saudi sama sekali tidak menghargai nyawa manusia, dan menjadikan pembunuhan sebagai alat politik untuk menumpas gerakan oposisi warga minoritas Syiah.

Lembaga ini menegaskan bahwa eksekusi itu melanggar hukum internasional dan merupakan cara yang lazim dilakukan oleh rezim despotik.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif juga mengutuk kezaliman tersebut sembari mengecam kebungkaman Presiden AS Donald Trump terkait dengan masalah ini.

Para pengamat menyatakan bahwa hukuman mati massal itu merupakan kejahatan bermotif sektarian yang dilakukan oleh rezim yang justru mensponsori terorisme, mengekang kebebasan, dan membasmi oposisi.

European-Saudi Organisation for Human Rights (ESOHR) menyebut eksekusi itu sebagai pembantaian yang sangat zalim sehingga lembaga ini menyerukan penyelidikan internasional untuk menindak semua pejabat yang terlibat dalam pelanggaran ini.

ESOHR mengingatkan bahwa semua korban eksekusi itu sangat memerlukan syarat persidangan secara fair dan adil, sementara mereka telah diadili secara tertutup tanpa melibatkan satupun orang dari pihak keluarga.

ESOHR juga menyebutkan bahwa tuduhan yang dialamatkan kepada sebagian besar korban bahkan bukan tergolong terorisme maupun kejahatan yang sangat berbahaya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*