LiputanIslam.com –  Dua tahun silam Arab Saudi yang dibantu beberapa negara Arab sekutunya di Teluk Persia mulai mengerahkan lebih dari 200 jet tempur canggih F-16 buatan Amerika Serikat (AS) miliknya untuk membombardir Yaman dalam sebuah operasi militer besar bersandi “Ashifah al-Hazm” (Badai Mematikan/Menentukan). Maka terpajanglah panorama perang tak seimbang, negara paling kaya dan kuat dari segi perlengkapan militer melawan negara yang tergolong paling miskin dunia sehingga praktis peralatan tempurnya pun apa adanya. Hanya saja, Yaman sebagai sebuah bangsa tergolong paling kaya peradaban dan martabat sehingga wajar apabila terlihat pantang menyerah sampai sekarang.

Pada kenyataannya, “Badai Mematikan” yang maksudnya adalah serangan yang akan sangat determinan bagi jalannya Perang Yaman sesuai keinginan rezim Riyadh ternyata lebih menyerupai angin sepoi-sepoi, karena tak ada satupun targetnya tercapai.

Sandi operasi kemudian diubah menjadi “I’adah al-Amal” (Pemulihan Harapan). Tapi sandi inipun tak lebih dari sekedar nama, karena kemenangan nan gemilang yang diharapkan Saudi tak jua tercapai, sementara alat penebar maut yang digunakan juga sama. Apa yang dilakukan oleh jubir militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi Mayjen Ahmad Asiri hanyalah mendistorsi banyak fakta demi fakta sebagai bentuk perang urat saraf, seperti biasa terjadi pada semua atau banyak peristiwa perang.

Di awal operasi Badai Mematikan, gelanggang politik, militer dan media diriuhkan oleh gempita propaganda dan slogan kemenangan Saudi dan sekutunya. Semua media cetak dan elektronik Arab saat itu bahkan memperlihatkan bagaimana Saudi Cs mengumbar intimidasi dan ancaman bahkan terhadap Iran yang mereka anggap beking “milisi” Ansarullah (Houthi).

“Banyak orang mengira bahwa jet-jet tempur Badai Mematikan bahkan akan melesat ke arah timur, ke Teheran, ibu kota ‘Persia Majusi penyembah api’, untuk menghancurkannya kemudian menawan perempuan-perempuannya yang cantik jelita,” tulis Rai al-Youm.

Badai mematikan dihembuskan dengan tujuan mengembalikan “presiden yang sah” Abd Rabbuh Mansour Hadi ke Sanaa, ibu kota Yaman, setelah tersingkir oleh revolusi rakyat yang digerakkan oleh Ansarullah, tapi tujuan ini tak kunjung tercapai. Dalam wawancara dengan surat kabar al-Riyadh dia mengatakan, “Penyelesaian di Yaman akan berupa militer untuk mencapai penyelesaian politik.”

Statemen demikian agaknya wajar meluncur dari seorang militer yang pernah memimpin perang untuk melumpuhkan gerakan separatisme pada tahun 1994. Namun demikian, opsi militer yang sudah ditempuh selama dua tahun malah menambah pelik persoalan, sementara proses negosiasi politikpun lumpuh dan mati suri, dan beban negara-negara jiran yang menyerangnya tak kalah beratnya dengan derita rakyat Yaman sendiri, karena negara-negara kaya minyak itu selama ini terbiasa hidup nyaman serta jauh dari perang dan pola hidup hemat.

Di pihak lain, aliansi Ansarullah-Saleh tidak menghendaki solusi militer karena opsi ini memang di luar kemampuan mereka yang jelas jauh di bawah kekuatan militer Saudi. Melawan solusi politik sama tidak menghasilkan pengakuan atas kekuasaan mereka.  Hanya saja, karena pihak lawan bersikukuh pada solusi militer, maka aliansi ini tentu saja berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan, termasuk dengan menyeret koalisi pimpinan Saudi kepada perang atrisi yang menguras dana dan membawanya kepada perpecahan koalisi akibat banyaknya korban jiwa di pihak koalisi. Strategi ini mulai menampakkan hasilnya, dan semakin efektif dengan hadirnya rudal-rudal balistik ke medan pertempuran maupun kejutan-kejutan lain.

Pada momen peringatan dua tahun invasi Saudi Cs ke Yaman Minggu lalu, Ali Abdullah Saleh yang bersekutu dengan Ansarullah dan dijuluki “kucing bernyawa tujuh” berani pasang badan di Al-Sab’in Square. Dia ikut merayakan “kesolidan” yang sudah berjalan dua tahun bersama lautan massa yang jumlahnya diperkirakan mencapai 1.5 juta orang.

Dia mengatakan, “Orang-orang merdeka Yaman akan terus berkomitmen pada opsi resistensi dan pertahanan selagi musuh yang dipimpin Saudi masih arogan, angkuh, mengagresi negara kita, dan bersikukuh pada opsi perang.”

Senada dengan ini, pemimpin Ansarullah Abdul Malik al-Houthi dalam pidatonya menyatakan, “Musuh hidup dalam ilusi dan mengatakan akan dapat memenangi pertempuran dalam minggu ini, atau bulan ini. Nyatanya kita terus bangkit menghadang selagi masih ada musuh.”

Menurut Ray al-Youm, sebagian orang Yaman yang semula menggantungkan harapannya kepada solusi militer Saudi Cs secepatnya belakangan ini balik bergabung dengan kubu yang melawan agresi asing sehingga obsesi kubu Saudi semakin jauh api dari panggang.

Yaman sekarang menjadi ajang krisis kemanusiaan terbesar di dunia. Tak kurang dari tujuh juta orang menderita kelaparan dalam arti yang sebenarnya akibat blokade Saudi Cs. Selain itu, tiga juta anak kecil terancam buta huruf karena sekolah-sekolah mereka hancur atau ditutup. Dab jangan lupa, sedikitnya 10,000 orang terbunuh dan 40,000 orang luka-luka.

Banyak orang tak menduga “Badai Mematikan” berkelanjutan sampai dua tahun, tapi bagi orang yang mengerti sejarah bangsa Yaman tentunya tidak akan heran menyaksikan kesolidan resistensi ini sehingga perang bahkan masuk ke dalam wilayah penyerangnya. Menyerah memang tak ada dalam kamus bangsa Yaman. Mereka dapat diibaratkan dengan unta yang bawaannya adalah diam, sabar, dan sabar, tapi ketika sudah marah maka amuknya tidak akan pernah berhenti sebelum dapat menerjang dan membalas musuhnya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL