LiputanIslam.com –  Sudah genap satu tahun perjanjian nuklir Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Amerika Serikat [AS], Rusia, Inggris, Perancis, dan Cina) plus Jerman selaku wakil Uni Eropa. Sekarang, prospek perjanjian ini seakan suram dan terancam oleh melenggangnya Donald Trump ke Gedung Putih. Dia adalah orang yang getol menentang perjanjian yang menjadi salah satu prestasi Presiden Iran Hassan Rouhani ini.

Pada  16 Januari 2015, sebagian besar embargo internasional terhadap Iran dicabut sebagai konsensi atas kesediaan Iran membatasi program nuklirnya, dan sesuai dengan kesepakatan yang telah dieteken enam bulan sebelumnya oleh Iran dan enam negara terkemuka tersebut.

Peringatan tahun pertama kesepakatan ini pada Senin lalu (16/1/2017) jatuh nyaris bersamaan dengan pelantikan Donald Trump sebagai presiden ke-45 AS, menggantikan Barack Obama, pada Jumat (20/1/2017).

Pada masa kampanye pilpresnya, Trump berjanji akan mencabik perjanjian nuklir yang disebutnya “mengerikan” itu. Tak hanya itu, dia mengangkat tokoh-tokoh yang dikenal sangat anti-Iran di posisi penting pemerintahnnya, termasuk Rex Tillerson sebagai menteri luar negerinya. Tillerson adalah orang yang menghendaki “revisi total” perjanjian nuklir Iran.

Perunding senior Iran Abbas Araghchi Ahad lalu mengatakan bahwa dalam satu tahun sejak perjanjian nuklir itu diteken, permusuhan AS terhadap Iran “kian meningkat dari hari ke hari.”

Araghchi yang juga wakil menlu Iran dalam jumpa pers di Teheran mengatakan, “AS melakukan segala cara yang dapat ia lakukan untuk menghambat kemajuan Iran” pasca kesepakatan nuklir.

Mengenai Trump yang akan segera dilantik dia mengatakan, “Obama maupun Trump sama saja, presiden AS dituntut untuk membatalkan pengesahan-pengesahan yang menyalahi kesepakatan ini.”

Fouad Azadi, dosen studi global Univesitas Teheran mengatakan, “Para pejabat (AS) itu memiliki rekam jejak yang panjang dalam memusuhi Iran. Karena itu kita tentu akan melihat lagi kerasnya pendirian mereka.”

Tapi para pakar memperkirakan tidak akan terjadi pembatalan perjanjian yang dicapai melalui proses yang rumit dan menelan waktu bertahun-tahun tersebut, walaupun hubungan AS dengan Iran akan lebih buruk setelah relatif membaik dalam arti sudah terbuka pintu dialog antara keduanya.

Nasser Hadiyan dosen hubungan internasional Universitas Teheran mengatakan, “Kalaupun ada kegusaran, pengoyakan perjanjian tidak akan terjadi, karena akan menjadi tindakan yang bodoh. Bahkan Perdana Menteri Israel (Benjamin Netanyahi) dan ‘para elang’ AS mengatakan jangan sampai hal itu dilakukan.”

Pakar ini kemudian menduga akan terjadi pengetatan sanksi AS yang sampai sekarang masih berlaku terhadap Iran dengan dalih kondisi HAM di Iran,  dukungan Iran kepada “terorisme” di Timteng, dan program rudal balistiknya.

Resistensi Eropa

Penolakan Trump terhadap perjanjian nuklir Iran akan mendapat perlawanan dari negara-negara Eropa, Rusia, dan Cina yang merasa puas terhadap mekanisme implementasi perjanjian itu. Dalam konteks ini, wakil tetap Rusia di markas PBB di Wina, Austria, di sela-sela sidang organisasi ini, 10 Januari lalu, mengatakan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA), “Segala sesuatunya akan berjalan seperti yang telah diputuskan.”

Fouad Azadi menyoal, “Jika Eropa tidak melawan tekanan AS, lantas apa untungnya (Teheran) konsisten pada (penerapan) kesepakatan nuklir?”

Menteri Perminyakan Iran Amir Hossein Zamaninia mengingatkan bahwa kalaupun kesepakatan ini menelorkan “hasil-hasil signifikan bagi negara ini” maka tidak lantas berarti akan “membuat AS menjadi sahabat bagi Iran.”

Di Teheran sendiri bukannya tidak ada orang-orang yang menentang perjanjian itu, terutama kalangan konservatif yang menilai perjanjian itu tidak membuahkan hasil-hasil signifikan yang dapat dinikmati oleh rakyat negara ini. Sementara Presiden Rouhani yang berasal dari kubu moderat bertaruh dengan hasil perjanjian itu agar bisa terpilih lagi dalam pemilu presiden yang dijadwalkan berlangsung Mei 2017.

Menteri perminyakan Iran menyatakan bahwa dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir ini berhasil mendongkrak volume ekspornya menjadi 2,5 juta barel/hari dengan pemasukan sebesar US$ 28 miliar.

Iran juga berhasil mendatangkan perusahaan-perusahaan raksasa dunia semisal Total Perancis dan Shell Inggris-Belanda serta perusahaan-perusaan Rusia, Cina dan Jepang.

Pencabutan embargo Iran juga telah menghasilkan penekenan dua kontrak besar untuk pembelian 180 unit pesawat Airbus dan Boeing serta kembalinya Peugeot dan Renault ke sektor perusahaan otomotif Iran. (mm/afp/alyoum7)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL