LiputanIslam.com-Berlawanan dengan yang dibayangkan Riyadh, pengucilan Qatar justru tidak membuahkan hasil. Riyadh gagal menyatukan negara-negara Arab di kawasan, dan di pihak lain, negara-negara Eropa juga memisahkan diri dari Saudi.

Sudah beberapa pekan berlalu sejak Saudi melakukan ‘perbuatan tidak menyenangkan’ terhadap tetangganya. Dalam jangka waktu ini, Riyadh telah menggunakan beragam cara untuk membuat Qatar terasing. Namun, bukan hanya mereka gagal mewujudkan tujuan, mendekati targetnya pun tidak.

Para pengamat berkeyakinan, sejumlah peristiwa terakhir, termasuk kunjungan Donald Trump ke Timur Tengah, adalah pembuka jalan bagi tindakan-tindakan represif Riyadh terhadap negara-negara jirannya di Teluk.

Kunjungan Pembawa Bencana Regional

Kemelut regional terbaru diawali dengan kunjungan pertama kali presiden baru Amerika ke Timur Tengah, yang memilih Riyadh sebagai destinasi pertamanya.

Tarian pedang para petinggi Riyadh dengan presiden Amerika, yang disusul dengan pemberian hadiah-hadiah mahal kepada Trump, membuat Saudi merasa bahwa mereka adalah negara terunggul di kawasan. Ditandatanganinya transaksi persenjataan senilai 110 milyar dolar antara Saudi dan Amerika kian mendorong Riyadh untuk membayangkan bahwa kebijakan mereka mampu memengaruhi perkembangan politik regional.

Oleh karena itu, dengan dibarengi Mesir, Bahrain, dan UEA, Saudi secara tidak terduga memutus hubungan diplomatiknya dengan Qatar. Negara-negara ini kompak menutup jalur darat, laut, dan udara mereka terhadap Qatar. Sejumlah negara kecil di kawasan pun ‘membeo’ dan turut memboikot Doha. Mereka mengklaim, Qatar mendukung kelompok-kelompok teroris dan mengacaukan stabilitas di Timur Tengah.

Upaya Doha untuk keluar dari kemelut ini menemui tembok tebal berupa daftar 13 syarat yang diajukan Riyadh dan para sekutunya. Di antara syarat-syarat tersebut adalah menutup stasiun al-Jazeera, menghentikan dukungan terhadap Hamas dan Ikhwanul Muslimin, memutus hubungan dengan Iran, serta mengakhiri keberadaan militer Turki di Qatar.

Sejak awal sudah terlihat jelas bahwa para petinggi Doha tak akan menerima kehendak-kehendak tak lazim Saudi cs ini. Doha memandang hal ini sebagai intervensi langsung dalam urusan internal Qatar dan berlawanan dengan kepentingan nasional serta kedaulatannya.

Tentu trend semacam ini sudah dilakukan Saudi pasca meninggalnya Raja Abdullah dan penobatan Salman bin Abdul Aziz sebagai penggantinya; pengangkatan para pejabat muda nan ambisius yang membuat Saudi menjauh dari sikap-sikap konservatif terdahulunya dan membawanya ke petualangan-petualangan baru di kawasan. Hingga kini, perubahan pola pandang dan tindakan ini hanya menghasilkan kegagalan bagi orang-orang Saudi sendiri.

Kekhawatiran Eropa atas Kebijakan Riyadh

Berlawanan dengan Amerika, yang diyakini banyak pihak sebagai pemicu, langsung atau tidak langsung, kemelut antara Saudi dan Qatar, negara-negara Eropa justru tidak mendampingi negara-negara Arab pemboikot Qatar. Eropa lebih menekankan penyelesaian masalah dan konflik ini melalui jalur dialog.

Beberapa waktu lalu, Federica Mogherini, Komisioner Tinggi UE untuk kebijakan luar negeri, menyatakan bahwa langkah sepihak tidak boleh diambil. Dia berkata,”Kami menyeru semua pihak untuk mengurangi ketegangan dan mengadakan perundingan secara langsung.”

Pernyataan Mogherini bahwa “semua negara-negara ini adalah sekutu kami dalam memerangi terorisme dan sekutu ekonomi Eropa” menyiratkan sebuah pesan, yaitu Brussel, demi kepentingannya sendiri, tak akan bersedia menyingkirkan Qatar demi kemaslahatan Saudi. Percakapan telepon dan pertemuan langsung antara para pejabat Jerman, Inggris, Prancis, dan Italia dengan para petinggi Doha menunjukkan pentingnya peran Qatar bagi Benua Biru.

Tampaknya Saudi dalam perhitungan politisnya ‘lupa’ bahwa Qatar telah berinvestasi cukup besar di Eropa dan Amerika. Salah satu pangkalan militer terbesar Amerika (al-Adid) ada di Qatar. Kedua negara juga telah menyepakati sejumlah perjanjian di bidang persenjataan dan jet tempur.

Jika kemelut antara Qatar dan negara-negara jirannya berlanjut, maka itu akan berdampak terhadap keberadaan pangkalan itu, juga kerjasama Washington dan Doha di berbagai sektor. Oleh karena itu, para petinggi Gedung Putih menyeru kedua belah pihak untuk berdialog guna mengakhiri konflik.

Pernyataan menteri keuangan Qatar “jika kami kehilangan satu dolar, mereka juga akan kehilangan satu dolar” berkaitan dengan para pemain dan negara-negara yang berkepentingan sama dengan Doha. Sejumlah pengamat berpendapat, pemutusan hubungan diplomatik Saudi dan sekutunya dengan Qatar akan berdampak buruk bagi negara-negara Eropa, termasuk Italia. Ekonomi Italia bisa menjadi limbung, sebab Qatar telah menanamkan investasi senilai milyaran dolar di Negeri Pizza.

Hal serupa juga berlaku bagi Inggris. Qatar telah berinvestasi senilai 35 hingga 40 milyar dolar di Britania. Rencananya, investasi ini akan ditambah lima milyar dolar lagi dalam beberapa tahun ke depan. Jelas bahwa setelah musim semi 2019 dan terlaksananya proses Brexit secara utuh, London akan sangat membutuhkan investasi luar negeri, termasuk Qatar.

Secara keseluruhan, kita melihat kebijakan Saudi untuk mengucilkan Qatar justru berlawanan dengan harapan mereka. Saudi yang bermimpi membentuk dan mengepalai koalisi militer yang terdiri dari 41 negara, kini justru melihat jumlah negara-negara pendukungnya hanya hitungan jari.

Di sisi lain, strategi keliru Riyadh menyebabkan Doha tergiring menuju negara-negara yang menentang kebijakan regional Saudi, seperti Iran dan Turki. Keretakan yang terjadi di tengah negara-negara Arab Teluk juga merupakan salah satu dari dampak langkah semborono klan Saud. (af/alalam/irna)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL