hillary clinton dan saudiLiputanIslam.com –  Aktivis Amerika Serikat (AS) dari Workers World Party (WWP) Calep Maupin dalam artikelnya yang dimuat di situs Mint Press News, Senin (11/7), mengungkap komunikasi terbuka maupun terselubung Hillary Clinton dengan kubu intoleran Salafi/Wahabi untuk memusuhi Syiah di dunia.

Maupin mengawali artikelnya dengan menyebutkan peristiwa unjuk rasa damai peringatan Hari al-Quds Internasional oleh ribuan warga Nigeria di hari Jumat terakhir bulan suci Ramadhan.

“Jumat 1 Juli (2016) ribuan orang menggelar demonstrasi damai di jalanan Zaria, sebuah kota di bagian utara Nigeria. Para demonstran membawa spanduk bergambar Dome of Rock (Kubah al-Sakhrah) di Yerussalem (Baitul Maqdis) serta plakat dengan bendera-bendera mengutuk Israel. Pada Jumat terakhir Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia juga turun ke jalan-jalan untuk Hari al-Quds guna memrotes Israel dan menuntut supaya al-Quds yang juga disebut Yerussalem dikembalikan kepada orang-orang Palestina,” tulisnya.

Lebih lanjut, Maupin mencatat bahwa selang beberapa hari setelah peringatan itu kaum Syiah di beberapa negara, dari Arab Saudi, Irak, hingga Lebanon dan Iran, menjadi sasaran serangan teroris, dan belakangan kelompok teroris Jindallah yang dana operasionalnya didapat dari hasil penyelundupan heroin bermaksud melancarkan serangan teror ke Iran. Polisi perbatasan AS (US Port Authority Police) mengantongi informasi tentang rencana serangan kelompok itu terhadap warga sipil, tapi tak sudi memberikan informasi kepada Iran.

Menyinggung skandal bocornya surat-surat elektronik Hillary Clinton mengenai isu Irak, Maupin menyebutkan bahwa dalam surat-surat itu terungkap jelas bagaimana sosok Hillary Clinton dan para petinggi Kementerian Luar Negeri AS lainnya telah menginstruksikan penjagaan Kamp Ashraf atau Kamp Liberty milik kelompok Mujahidin Khalq yang bermaksud menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran.  Dari kamp inilah kelompok yang menyebut dirinya “Marxis Islam” ini melancarkan banyak serangan teror bom, termasuk aksi pembunuhan para ilmuwan Iran  yang dilakukan dengan kerjasama dinas rahasia Israel Mossad.

“Email Hillary Clinton yang baru terungkap menunjukkan bagaimana pemerintah Irak terpilih enggan menampung kelompok teroris pembunuh yang telah menggunakan tanah Irak sebagai markas operasi mereka.  Clinton dan pejabat departemen luar negeri lainnya yang bernegosiasi  dengan pemerintah Irak melakukan segala cara untuk memastikan supaya teroris Mujahidin Khalq yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil tak berdosa selama tiga dekade terakhir tidak ditahan dan (sebaliknya) dapat dievakuasi dengan aman ke lokasi baru,” terang Maupin.

Dia menambahkan bahwa sekarang telah terbentuk aliansi AS, Israel dan Arab Saudi yang aktif mendukung langsung maupun tak langsung aksi-aksi pembunuhan orang-orang Syiah di dunia, termasuk yang dilakukan oleh pemerintah Nigeria yang didukung AS dan oleh kelompok-kelompok teroris di Yaman, Irak, dan Suriah untuk menghabisi apa yang mereka sebut “Khawarij Syiah”.

“Salah satu bocoran email Hillary Clinton menunjukkan para pemimpin AS mempertimbangkan manfaat yang mungkin bisa didapat dari perang sektarian Sunni dan Syiah di Timur Tengah. Sebuah email tentang Suriah yang ditembuskan kepada Hillary Clinton mengandung bagian yang sangat mengganggu: ‘Runtuhnya Istana Assad juga dapat memicu perang sektarian antara Syiah dan mayoritas Sunni yang secara bertahap dapat menyeret Iran, yang menurut para komandan Israel tidak akan menjadi hal yang buruk bagi Israel dan sekutu Baratnya,” tulis Maupin.

Maupin yang juga aktivis Fight Imperialism kemudian menjelaskan kerukunan antarumat beragama di Iran, Suriah dan Yaman yang menjadi sasaran serangan kubu AS, Israel dan Arab Saudi.

“Di Republik Islam Iran, yang dipimpin oleh Muslim Syiah, kaum Muslim Sunni bebas menjalankan keyakinan mereka secara terbuka, demikian pula Kristen, Zoroastrian, dan Yahudi.  Kebebasan beragama semua orang yang meyakini monoteisme dijamin di bawah konstitusi Iran, meskipun pemerintah menganut faham Syiah dan dipimpin oleh ulama Syiah,” tulisnya.

Dia melanjutkan bahwa di Suriahpun kaum Muslim Syiah di Hizbullah dan Garda Revolusi bahu membahu dengan kaum Kristen Suriah, ateis komunis dan nasionalis Kristen ortodoks Rusia dalam perang melawan kelompok teroris ISIS, dan -sebagaimana diakui internasional- mayoritas  tentara Pasukan Arab Suriah yang loyal kepada pemerintahan Bashar al-Assad adalah orang-orang Sunni.
Di Yaman, menurutnya,  kelompok Syiah Ansarullah yang juga dikenal sebagai Huthi juga berada di satu barisan dengan kalangan Sunni dan kaum sekuler dalam Komite Revolusi untuk melawan serangan koalisi pimpinan Arab Saudi. Karena itu dia menilai sebenarnya di Timteng tidak ada perang Sunni dan Syiah.

“Muslim Syiah tidak mendorong sektarianisme agama di Timteng, termasuk di negara-negara yang paling Sunni. Seruan kekerasan terhadap orang dengan latar belakang keagamaan dan etnis berasal dari kelompok fanatik Sunni tertentu yang mengantongi banyak uang. Kampanye kekerasan, terutama yang menargetkan Muslim Syiah tidak sepenuhnya dapat disebut sebagai  konflik Sunni-Syiah. Pada kenyataannya, ini adalah perang peradaban yang dilancarkan oleh kelompok fanatik Wahabi. Memang, target kelompok fanatik Wahabi adalah Muslim Syiah, tapi kenyataannya juga banyak Sunni dan Kristen yang mereka bantai. Ketika teroris Wahabi menguat maka  bahaya besar bukan hanya mengarah terhadap  Syiah, melainkan juga orang-orang Kristen, Druze, Yazidi, dan bahkan kaum moderat Sunni,” papar Maupin.

Dengan subjudul “Minyak Besar dan Wahabisme”, Maupin kemudian menuliskan ihwal relasi minyak antara AS dan rezim Saudi. Dia antara lain menyebutkan  bahwa perusahaan-perusahaan minyak raksasa dunia yaitu British Petroleum, Royal Dutch Shell, Exxon-Mobile, and Chevron mendapat pasokan minyak dari Arab Saudi, sementara lembaga Hillary Clinton dan Dewan Hubungan Luar Negeri AS yang posisinya sangat strategis bagi CIA secara terbuka didanai oleh  Exxon-Mobile dan korporasi minyak raksasa lainnya.

Di bagian akhir, Maupin menjelaskan kaum Muslim Syiah adalah kalangan yang sebenarnya gigih memerangi ketidak adilan karena terinspirasi oleh perjuangan Imam Husain ra, cucunda Nabi Muhammad saw.

“Republik Islam Iran muncul dengan slogan-slogan antara lain ‘Tidak Timur dan tidak pula Barat’, ‘Tidak Kapitalisme, tapi Islam’, dan ‘Perang Kemiskinan Terhadap Kekayaan.’ Revolusi Islam di Iran menginspirasi kebangkitan Muslim Syiah di seluruh dunia . Dalam Arab Saudi, pekerja minyak Syiah bangkit dan berjuang melawan monarki minyak Wall Street, terinspirasi oleh teladan Iran. Syiah di Lebanon telah membentuk organisasi militan Hizbullah, yang bertindak hampir sebagai negara, peduli rakyat dan mempersenjatai mereka untuk membela diri. Hizbullah mencetak kemenangan besar melawan penjajah Israel pada tahun 2006.”

Dia menambahkan, “Di Nigeria, Pakistan, Lebanon, Iran, Irak, Arab Saudi dan di tempat lain, Muslim Syiah diwajibkan oleh iman mereka untuk berdiri bukan demi prinsip-prinsip agama semata, melainkan juga untuk keadilan sosial. Di Iran, orang dapat melihat ada pejabat pemerintah yang bahkan menghormati Malcolm X dan Gerakan Kebebasan Kulit Hitam AS. Pemerintah Iran juga datang membantu Pasukan Republik Irlandia karena berjuang melawan kerajaan Inggris pada 1980-an. Iran terus membantu rakyat Palestina dalam perjuangan mereka melawan Israel, meski banyak pemimpin Palestina yang sangat memusuhi mereka, dan mereka memiliki perspektif agama yang berbeda.”

Maupin lantas menyebutkan kesimpulan bahwa serangan terhadap Muslim Syiah dilakukan tak lain hanya demi melindungi “orang kaya dan penguasa”, dan Islam Syiah telah menjadi sebuah wahana perjuangan penegakan stabilitas dan keadilan sosial, sehingga siapapun yang menghargai keadilan dan menginginkan tergulungnya terorisme sudah sepatutnya sangat prihatin terhadap meningkatnya penganiayaan terhadap Muslim Syiah. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL