AfghanistanLiputanislam.com — Beberapa media internasional, termasuk Voice of Russia, baru-baru ini melaporkan keberadaan dokumen rahasia yang dikumpulkan oleh para pejabat inteligen Pakistan yang telah membongkar rahasia serangan-serangan drone Amerika, lengkap dengan lokasi dan waktu serangan dan korban-korbannya. Dokumen tersebut juga membuka fakta bahwa sejak tahun 2006, Amerika telah melakukan serangan drone setidaknya sebanyak 330 kali di wilayah Pakistan. Namun demikian terdapat keganjilan, dimana dokumen tersebut tidak mencatat korban sipil yang tewas sejak tahun 2008.

Sejauh ini tidak ada komentar resmi dari pemerintah Amerika maupun Pakistan tentang bocoran dokumen tersebut. Program serangan-serangan drone Amerika yang dijalankana oleh dinas inteligen CIA diperkirakan telah menewaskan setidaknya 2.300 jiwa, menurut perkiraan sebagian analis.

Para analis berita mengatakan bahwa dokume-dokumen yang bocor (atau sengaja dibocorkan) tersebut dibuat berdasarkan informasi yang dikumpulkan setiap hari oleh sekretariat FATA (Federally Administered Tribal Areas). Namun demikian, informasi tersebut bukan satu-satunya yang menjadi dasar laporan yang dibuat otoritas Pakistan.

Meski awalanya dokumen melaporkan secara rinci korban-korban sipil, sejak tahun 2008 laporannya berkurang dan hampir tidak ada lagi mulai tahun 2009. Bahkan kasus-kasus kematian sipil akibat serangan drone yang telah mendapatkan pemberitaan luas pun dikesampingkan begitu saja. Kasus ini termasuk setidaknya 2 kasus serangan drone dimana FATA telah mengakui kepada publik tentang tewasnya penduduk sipil.

Di antara kematian penduduk sipil yang tidak diabaikan dalam dokumen adalah serangn paling terkenal selama hampir 2 tahun terakhir, yaitu yang terjadi pada bulan Oktober 2012 yang menewaskan Mamana Bibi, seorang wanita lanjut usia saat ia berada di tengah ladang bersama cucu-cucunya.

“Jika sebuah kasus yang terdokumentasi dengan baik seperti Mamana Bibi, maka muncul pertanyaan tentang kredibilitas laporan itu,” kata Mustafa Qadri, seorang peneliti di Amnesty International, yang juga pernah menerbitkan laporan tentang serangan-serangan drone tersebut tahun lalu

Pada bagian pertama laporan, tercatat sebanyak 746 korban tewas dimana sebanyak 147 di antaranya adalah penduduk sipil dan 94 di antaranya adalah anak-anak. Sejak 2009 hingga September 2013, dokumen memperkirakan jumlah tewas akibat serangan mencapai 1.625.

TBIJ, sebuah organisasi pengawas media massa yang berbasis di London menekankan bahwa beberapa bagian dalam dokumen menunjukkan ambiguitas, dengan kemungkinan sebagian laporan kematian penduduk sipil telah disembunyikan.

Sementara itu dalam sebuah laporan lain yang dibuat bulan Agustus 2011, koran terkenal Amerika “New York Times” mengutip pernyataan seorang pejabat Amerika yang tidak bersedia disebutkan namanya bahwa serangan-serangan drone Amerika sejak tahun 2001 telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan 50 penduduk sipil. “New York Times” mengklaim bahwa rasio sipil-teroris yang tewas tersebut sebagai “tingkat kematian tak diharapkan yang rendah berdasarkan standar serangan udara umumnya”.

Pemerintah Afghanistan Curigai Serangan Amerika

Sementara itu dikabarkan Presiden Afghanistan Hamid Karzai mencurigai Amerika sebagai pelaku berbagai “serangan teroris” yang terjadi di Afghanistan.

Media Amerika “The Washington Post” dengan mengutip keterangan seorang pejabat yang dekat dengan Presiden Karzai menyebutkan bahwa presiden telah memiliki daftar serangan-serangan teroris yang diduga dilakukan oleh Amerika, termasuk serangan berdarah di sebuah restoran di Kabul baru-baru ini yang menewaskan 20 orang termasuk 13 warga asing.

Serangan yang terjadi tgl 17 Januari lalu itu disebut-sebut dilakukan oleh Taliban. Namun Presiden Karzai mencurigai serangan tersebut dirancang oleh Amerika dalam upayanya melemahkan pemerintah Afghanistan di tengah-tengah perdebatan tentang perjanjian keamanan kedua negara yang belum juga ditandatangani Karzai. Dalam perjanjian tersebut disebutkan bahwa Amerika akan mempertahankan sebagian pasukannya di Afghanistan paska penarikan tahun 2014 ini.

Menurut pejabat yang dikutip “The Washington Post” kecurigaan Presiden Karzai terhadap keterlibatan Amerika adalah berdasarkan bukti-bukti dan pola serangan yang sama, dimana serangan selalu terjadi tidak lama setelah terjadi serangan drone Amerika yang menewaskan warga sipil di area yang berbeda. Menurutnya, serangan-serangan tersebut ditujukan untuk mengalihkan perhatian dari seragan drone Amerika.(ca/voice of russia/press tv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL