Mantan Perdana Menteri Qatar Hamad Bin Jasim Bin Jabir al-Thani berbicara blak-blakan mengenai krisis yang melanda negaranya akibat pemutusan hubungan diplomatik oleh Arab Saudi dan beberapa negara Arab lain yang berpihak kepada Arab Saudi. Dia berterus terang bahwa negaranya akan mengundang Iran dan Turki jika memang dirasa mendesak demi membela diri.

“Inikah yang mereka kehendaki dari Qatar? Kedaulatan bagi kami adalah yang terdepan. Inilah yang akan kami pertahanan hingga detik terakhir,” tegasnya dalam wawancara dengan channel PBS milik Amerika Serikat (AS), seperti dilansir al-Alam, Rabu (14/6/2017).

Hubungan Dengan Iran

Dia mengatakan bahwa semua orang di Qatar terkejut karena setelah Emir Qatar Tamim Bin Hamad al-Thani ikut serta dalam pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump belum lama ini secara lisan telah diputuskan bahwa Iranlah yang akan dikucilkan, tapi dalam praktik justru Qatar yang menjadi sasaran. Qatar dinyatakan memiliki hubungan spesial dengan Iran serta menyokong dan mendanai teroris. Padahal, di sektor perdagangan taraf kerjasama Qatar dengan Iran tak sampai “seperserbu” taraf hubungan negara-negara Teluk Persia lainnya dengan Iran.

Sembari mengakui bahwa Qatar berselisih dengan Iran dalam masalah Suriah, Bin Jasim mengatakan, “Memang, kami mencapai kerja berdasarkan kerjasama yang baik dengan Iran karena ia merupakan negara tetangga dan kami sama-sama bekerja di ladang gas, dan ini merupakan perkara yang wajar. Tapi apakah hubungan kami dengan Iran bertujuan anti-negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC)? Ini tentu tidak benar.”

Dia lantas menyoal, “Siapa yang berusaha mengisolasi Iran di Teluk? Apakah mereka memutuskan huhubungan diplomatik dengan negara ini atau mengusulkannya di GCC lalu kami menentangnya? Silakan mereka mengajukan usulan ini ke GCC dan kami akan menjadi bagian darinya. Tapi ini sampai sekarang tidak terjadi, dan mereka malah melakukannya terhadap Qatar.”

Ditanya mengenai dukungan Qatar kepada Iran dia menjawab, “Anggapan bahwa Qatar mendukung Iran adalah lelucon besar. Tak ada peristiwa apapun di mana kami mendukung Iran. Kami memiliki hubungan yang normal dengan negara ini tapi kami bukan berada di tangga teratas dalam daftar negara yang menjalin hubungan baik dengan Iran. Sebab jika tidak demikian maka kami tidak berhadapan dengan Iran di Suriah. Masalahnya bukan ini, melainkan bahwa ada sebagian negara ingin mendektekan kebijakannya terhadap negara-negara lain. Tapi kami adalah negara yang berdaulat, dan berhak menjalankan kebijakannya sendiri selagi tidak menyalahi undang-undang internasional.”

Mengenai tuduhan bahwa Qatar mensponsori terorisme, dia mengingatkan bahwa selama ini negaranya bermitra dengan AS sejak tragedi 11 September 2001, sebagaimana terlihat dari kedatangan tentara AS ke Qatar serta  tersedianya fasilitas istimewa untuk mereka di Qatar. Dan sejak itu Qatar bermitra dengan AS dalam perang di Afghanistan, Irak, dan Yaman.

“Tak ada dasar yang kuat bagi tuduhan ini terhadap Qatar… Kami ingin kondisi tertentu di mana tak ada yang siapaun mengatakan di Si A mendanai Si B,” tuturnya.

Daftar Teroris

Mengenai daftar nama tokoh dan organisasi teroris yang dirilis oleh negara-negara pengisolasi Qatar dia menyoal, “Apakah mereka mengirimkannya kepada kami lalu kami menolak berinteraksi dalam masalah ini? Kami sama sekali tidak pernah melihat daftar ini sebelumnya. Bisa jadi beberapa orang yang namanya tercantum memang harus dikejar, tapi apakah begini cara yang benar dalam menyikapi masalah ini? Mana undang-undang internasional? Mereka memboikot bahan makanan, menolak pertemuan dengan keluarga-keluarga yang ada di dua negara, memboikot pesawat-pesawat sipil dan kapal. Blokade demikian telah diterapkan terhadap Gaza. Anda dan lain-lain saat itu mengatakan bahwa ini tidak baik.”

Perang Suriah

Mengenai Suriah dia mengatakan, “Semua telah berbuat kesalahan di sana setelah peluncuran ‘Revolusi Suriah’, termasuk AS… Kami mengetahuinya di dua ruang operasi (militer). Satu di Yordania, dan yang lain di Turki. Banyak yang terlibat di dua ruang ini, termasuk Saudi, Uni Emirat Arab, AS, dan para sekutu lainnya. Hal yang sama juga terjadi di Turki. Kami kemudian mengetahui ada sebagian faksi yang memiliki aneka agenda sehingga kami menjauhi mereka satu demi satu.”

Dia lantas menyoal kepada PBS, “Anda terkadang menyokong faksi-faksi yang salah, sedangkan kami apakah sengaja melakukannya? Ini tidak benar.”

Dia kemudian memastikan bahwa seandainya aksi para teroris di Suriah sukses niscaya mereka juga mendatangi negara-negara Arab Teluk Persia. Negara-negara ini sama sekali bukan berada di luar zona bahaya teroris.

Ikhwanul Muslimin

Mantan Perdana Menteri Qatar mengatakan, “Ia (Ikhwanul Muslimin/IM) merupakan nama besar dan mencakup banyak kalangan. Ada yang merupakan bagian dari komponen negara di mana mereka berada, dan berpartisipasi di parlemen sebagian negara. Ada pula yang menggunakan cara kekerasan, dan kami tidak setuju dengan mereka. Sebagian dari mereka adalah penempuh cara damai.

“Anda mengetahui saya pribadi anti semua kelompok ini. Tapi berkenaan dengan Qatar, bagaimana kami mendukung mereka? Rakyat telah memilih mereka di Mesir, tapi El-Sisi dan tentara Mesir mendepak mereka. Baiklah, bukankah Emir Qatar adalah orang yang pertama kali mendukung el-Sisi? Tapi mereka (pemerintah Mesir) rupanya perlu menimpakan kesalahan pada seseorang akibat banyaknya problema dalam negeri mereka… Apakah Anda mengira Qatar dapat mendorong Mesir kepada kondisi ekonomi yang kini dideritanya meskipun miliaran USD sudah diberikan kepada negara ini?”

Dia lantas menyebutkan bahwa Qatar juga merupakan negara yang paling banyak mendukung Tunisia meskipun pemerintahannya bukan Ikhwanul Muslimin.

Hamas

Bin Jasim mengatakan bahwa Qatar membantu Hamas di Gaza di sektor listrik, dan ini transparan sehingga diketahui semua orang, termasuk Israel. Qatar juga membantu mendirikan sebagian rumah yang hancur pada tahun 2005, sebagaimana juga membangunkan rumah-rumah sakit. Menurutnya, negara-negara Arab dan Teluk lainnya juga mengalokasikan dana untuk Gaza.

“Sebelum diselenggarakan pemilu pertama di Palestina, AS meminta kami berbicara dengan Hamas untuk mendorongnya berpartisipasi dalam pemilu,” imbuhnya.

Rakyat Qatar

Bin Jasim memastikan rakyat Qatar sekarang mendukung penuh emirnya karena sekarang mereka mengetahui kejujuran dan upayanya menjalin hubungan istimewa dengan negara-negara jiran sejak dia bertahta.

Menurutnya, negara-negara pengisolasi Qatar telah merendahkan rakyat Qatar dan mayoritas rakyat Teluk yang telah menolak blokade ataupun boikot terhadap Qatar.

Kondisi GCC

Dia mengaku pessimis terhadap masa depan GCC jika negara anggotanya yang terbesar ternyata berbuat semaunya sendiri pantang mundur.

“Perlakuan terhadap Qatar ini akan mengubah banyak keadaan dalam negara-negara GCC, karena apa yang menimpa Qatar sekarang bisa saja menimpa negara anggota lainnya. Ini berarti siapapun pemimpin di antara negara-negara Teluk bisa bangun pagi dan memutuskan untuk menutup perbatasan dengan pihak lain entah dengan atau tanpa sebab.”

Dia lantas menyayang sikap AS yang menurutnya tidak jelas dalam bertindak untuk mengatasi krisis, padahal negara ini bermitra dengan kedua pihak yang bertikai. Tapi dia juga optimis bahwa AS pada akhirnya akan mengambil sikap yang benar, dan melalui mediasi Kuwait dan AS akan terlihat ketidak benaran tuduhan terhadap Qatar. (mm/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL