LiputanIslam.com –Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan penasihat keamanan nasional John Bolton berhasil mendorong Presiden Donald Trump sehingga “mengambil langkah besar ke arah perang” melawan Iran, dengan membujuknya agar memasukkan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi (IRGC) dalam daftar organisasi teroris asing.

Demikian disebutkan berbagai kantor berita yang berorientasikan poros segi tiga Amerika Serikat (AS)-Israel-Arab reaksioner, dan bahkan media yang tergolong netral, sembari mengutip pernyataan para analis, termasuk yang bersimpati kepada Iran. Para analis itu, sadar atau tidak, telah berkontribusi pada perang psikologis segi tiga itu terhadap Iran, perang yang justru membuktikan betapa segi tiga itu ompong dan kehabisan akal di depan bangsa Iran sehingga hanya cara itulah yang dapat mereka lakukan setelah berbagai cara lain dikerahkan namun sia-sia.

Pengalaman sejarah sudah terlampau jelas membuktikan bahwa AS dan Rezim Zionis Israel tak pernah ragu dan segan barang sesaat untuk melakukan agresi apapun  dan sebrutal apapun demi melemahkan musuhnya, termasuk dengan melancarkan invasi, atau melangkahi hukum dan keputusan internasional, dan bahkan mengabaikan segala etika dan norma kemanusiaan, terlebih ketika dua negara antagonis itu memandang musuhnya lemah.

Sejak Republik Islam Iran berdiri 40 tahun silam sampai sekarang berbagai macam cara untuk menekuk negeri Persia ini sudah ditempuh oleh AS, termasuk perang proksi, pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, penerapan embargo ekonomi secara komprehensif, pengobaran konflik sektarian dan rasial, pembentukan aliansi militer dan politik anti-Iran, pelanggaran konvensi dan perjanjian internasional, perang psikologis, dan kini pencatuman IRGC dalam daftar organisasi teroris. Semua itu mencerminkan satu fakta, yaitu tak adanya nyali AS dan Israel untuk berkonfrontasi militer dengan Iran.

Sebagaimana disaksikan oleh Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) dan Dinas Rahasia AS (CIA) sendiri, agresi militer terhadap Iran merupakan tindakan yang lebih menyerupai aksi konyol dan gila. Pengalaman perang AS di Irak, negara yang jauh tak sebanding dengan Iran, sudah cukup menjadi pelajaran telak bagi AS.

Posisi Irak pada tahun 2003 sangatlah lemah karena dikuasai oleh sosok sediktator Saddam Hossein sehingga Negeri 1001 Malam ini seolah penjara raksasa bagi rakyatnya, berbagai jenis senjata terlarangpun digunakan oleh Saddam dalam menindas rakyatnya, dan dia juga sama sekali tidak menjalin hubungan baik dengan negara-negara jirannya maupun dunia. Betapapun demikian, AS tetap gagal membujuk negara-negara sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk begitu saja menginvasi Irak.

Kemudian, invasi AS ke Irak yang sedemikian lemah, terkucil dan terblokade itupun telah membebani AS dengan dana sebesar US$ 7 triliun. Celakanya lagi, sekira 5000 nyawa tentara AS melayang di Irak. Dan belakangan, sembilan tahun pasca invasi militer itu, tentara AS masih harus terpaksa angkat kaki dengan penuh rasa frustasi yang pahitnya masih dirasakan oleh AS sampai sekarang, dan itu terjadi hanya lantaran berhadapan dengan kelompok-kelompok militan kecil yang senjatanya masih tergolong primitif. Sedemikian getirnya pengalaman itu sehingga Donald Trump bahkan tak berani terang-terangan berkunjung ke Irak. Dia hanya berani datang diam-diam di tengah kegelapan malam. Itupun hanya sesaat, tanpa sambutan, tanpa seremoni, dan tanpa pertemuan dengan para pejabat Irak.

Karena itu, dapat dibayangkan betapa runyamnya AS dan Israel jika suatu saat bertindak nekat melancarkan serangan militer terhadap negara sebesar Iran yang berbasis kerakyatan, menjalin hubungan baik dengan banyak negara dunia, bertumpu pada kebijakan yang arif dan logis sehingga sedikit banyak dapat menyudutkan AS bahkan di depan negara-negara sekutu AS sendiri di Uni Eropa dan NATO, dan memiliki daya prefentif yang bahkan dapat menjungkir balik situasi Timteng jika Teheran menghendakinya.

Dengan demikian, apa yang dapat dilakukan oleh dua boneka bayaran Zionis dalam pemerintahan Trump, yaitu Pompeo dan Bolton yang telah mengubah AS menjadi posko murahan bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, paling banter hanyalah membujuk Trump agar pada sisa jabatannya yang tinggal satu setengah tahun lagi sedapat  mungkin melakukan tekanan terhadap Iran agar Teheran setidaknya berhenti menghadang sepak terjang dan agenda-agenda kotor kekuatan segi tiga tersebut, terutama dalam upaya mereka menutup berkas perkara Palestina. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*