LiputanIslam.com –  Media di Lebanon dan Israel serta diskusi politik di layar kaca kedua negara belakangan memberi kesan kuat betapa perang antara Rezim Zionis Israel dan Hizbullah akan segera berkobar. Berbagai indikasi serta analisis para pengamat militer, termasuk dari kalangan jenderal, mengarah pada momok mengerikan ini.

Kesan demikian diperkuat lagi oleh hajatan Hizbullah belum lama ini mengundang para wartawan dalam dan luar negeri ke wilayah Lebanon selatan. Dalam peristiwa yang tak lazim ini terjadi penampakan pasukan Hizbullah dengan semua persenjataannya di satu di antara dua lembah yang ada di sana dan di lokasi yang hanya berjarak beberapa meter dari perbatasan wilayah Israel alias Palestina pendudukan.

Pada momen ini Hizbullah seakan sengaja menebar pesan bahwa kelompok pejuang Muslim Syiah pimpinan Sayyid Hassan Nasrallah ini siap meladeni ancaman perang pasukan Zionis Israel.

Koran Jerussalem Post milik kelompok kanan Israel belum lama ini juga mengabarkan adanya penyiapan sebuah rencana evakuasi ratusan ribu warga Israel yang tinggal di Galilee dekat perbatasan Lebanon untuk mengantisipasi pecahnya perang besar. Keberhasilan Donald Trump melenggang ke Gedung Putih serta dukungannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sedang menghadapi tuduhan korupsi, kemudian upayanya memobilisasi negara-negara Arab, termasuk Mesir, Yordania dan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), supaya membentuk “NATO Timteng” anti-Iran, semua ini dinilai oleh kalangan akademikus Israel menambah kekuatiran terhadap kemungkinan berkobarnya perang besar.

Para pengamat militer Israel memastikan Hizbullah memiliki lebih dari 100,000 rudal dengan berbagai ukuran dan jarak tempuh. Menurut mereka, jika terjadi perang, maka dengan jumlah itu Hizbullah akan dapat menghujankan rata-rata 2000 pucuk rudal ke kedalaman wilayah Israel, sedangkan dalam perang Israel-Hizbullah pada Juli 2006 Hizbullah dapat melesatkan 150 rudal perhari.

Kalangan penabuh genderang perang Zionis menyatakan serangan pre-emptive perlu dilancarkan sebelum Hizbullah memiliki daya ofensif lebih besar, apalagi ketika Hizbullah terlibat dalam perang Suriah, dan juga terdapat perkiraan bahwa kerugian yang akan diderita Israel jika terjadi perang akan lebih besar apabila harus menunggu satu atau beberapa tahun lagi.

Satu faktor lagi yang menambah keresahan para petinggi Israel sekarang ini ialah eksistensi dan pergerakan Hizbullah di Suriah selatan dan tindakannya membuka front Golan. Faktor inilah yang disebut-sebut sebagai motivasi di balik pembunuhan dua martir Hizbullah Samir Kuntar dan Imad Mughniyah yang sama-sama memelopori pembukaan kembali front Golan.

Di pihak lain, Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dalam pidatonya telah berulangkali mengancam akan menggempur sasaran-sasaran strategis di Israel berupa tanki-tanki gas beracun ammonia di Haifa, reaktor  nuklir Demona, sumur-sumur gas dan kilang-kilangnya di Laut Tengah. Ancaman ini bukan sekedar dalam rangka meramaikan perang urat saraf, melainkan juga mencerminkan tingginya tingkat percaya diri pemimpin Hizbullah tersebut sehingga menimbulkan polemik dan kepanikan di tengah publik Israel.

Peristiwa serangan rudal Israel terhadap gudang yang disebut-sebut milik Israel pekan lalu bisa jadi merupakan tantangan terhadap Rusia dan Hizbullah, tekanan bagi para pemimpin Suriah, dan upaya provaktif Israel terhadap Hizbullah sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh pasukan udara Israel terhadap konvoi yang disebut-sebut membawa persenjataan Hizbullah dekat kota kuno Palmyra (Tadmur). Namun tiga serangkai ini memilih menahan diri dan tidak melakukan serangan balasan karena berbagai faktor yang masih menjadi teka-teki, namun ada yang mengatakan bahwa reaksi mereka selanjutnya akan strategis.

Perkembangan di front Lebanon dan Suriah sama-sama bersiap mementaskan perang. Kondisi tenang dewasa ini bisa jadi tidak akan lama. Parahnya, jika sampai terjadi perang maka kobarannya tidak hanya mengarah kepada Hizbullah, melainkan juga merupakan pendahuluan untuk perang melawan kubu Iran yang membentuk lingkar militer dan ideologis dari Mazar-e Sharif di Afghanistan barat hingga kawasan pantai Lebanon di Laut Tengah.

Semua “kubah besi” di dunia tak ada yang dapat menangkis 2000 rudal yang akan menghujani berbagai kota dan permukiman Zionis di Palestina pendudukan. Akan lebih fatal lagi jika Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina lainnya semisal Jihad Islam, Front Rakyat Pembebasan Palestina (PLFP), dan Pasukan Resistensi Rakyat dari arah selatan ikut menggempur Israel. Karena perang ini akan menjadi perang induk dan terbesar di mana pihak Arab dan Islam lebih berpeluang untuk menang hanya karena satu faktor sederhana, yaitu bahwa kalangan yang mewakili Arab dan umat Islam bukanlah tentara tradisional berperut gendut, melainkan faksi-faksi pejuang yang beriman dan siap menyongsong mati syahid.

Bukan tak mungkin perang ini akan dapat menyatukan dua kelompok besar umat Islam Sunni dan Syiah serta menghadang segala upaya tiada henti yang bertujuan mengubah Israel dari musuh dan menjadi sahabat. Tak ada isu yang dapat menyatukan umat Islam kecuali isu Palestina. (mm)

Sumber: Editorial Ray al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL