LiputanIslam.com –  Semula tampak bahwa serangan terhadap Suriah seperti yang terlontar dalam ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan dilancarkan oleh segi tiga AS, Inggris, dan Perancis. Namun, setelah Israel mengancam akan menghabisi Presiden Suriah Bashar Assad dan tentaranya jika Iran sampai menyerang Israel dari wilayah Suriah maka terlihat perkembangan baru di mana Israel juga bernafsu untuk terlibat dalam serangan ke Suriah, dan tidak tertutup pula kemungkinan Iran dan Hizbullah juga tercantum dalam daftar sasaran serangan.

Israel menerapkan status siaga untuk mengantisipasi balasan Iran terhadap serangan Israel ke lanud T-14 di provinsi Homs, Suriah, yang juga menewaskan tujuh orang Iran. Israel bisa jadi juga mengantisipasi serangan balasan dari Suriah dan Hizbullah karena Israel juga berperan besar dalam intimidasi baru AS terhadap Suriah, terutama setelah Menteri Permukiman Israel Yoaf Galant mengatakan, “Sudah tiba saatnya untuk membunuh Assad,” dan Presiden Rusia Vladimir Putinpun menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengingatkan kepada Israel agar tidak ikut terlibat dalam serangan ke Suriah.

Trump sengaja mengangkat narasi adanya serangan senjata kimia di Ghouta Timur untuk membenarkan keinginannya mengobarkan perang besar di Suriah, bukan sekedar serangan rudal, untuk mengalihkan perhatian dunia dari kekalahannya dalam perang proksi dan dari posisinya yang terjepit di AS setelah penyidikan menjangkau kantor dan para penasehat hukumnya dalam kasus korupsi dan kasus kecurangan dalam pilpres.

Pernyataan-pernyataan panas telah dilontarkan Trump melalui halaman Twitternya. “Rusia mengatakan akan menembak jatuh semua rudal yang ditembakkan ke Suriah. Bersiaplah Rusia, karena rudal pintar akan berdatangan. Kalian seharusnya tidak bersekutu dengan binatang pengguna gas yang menewaskan rakyatnya,” tulisnya.

Cuitan ini merupakan pernyataan perang total dari seorang presiden yang kalah perang proksi sekaligus tergoyang kasus-kasus pelanggaran hukum . Dia berobsesi memulihkan kepemimpinan AS di dunia yang belakangan tergeser oleh pengaruh Rusia dan Cina akibat kesibukannya memeras miliaran USD dari para pemimpin Arab Teluk dan akibat berbagai skandal seksual dan politiknya.

Presiden Assad bisa jadi akan meninggalkan istananya yang menjadi salah satu target serangan AS. Tapi dia tidak akan meninggalkan Suriah seperti  dalam isu yang dihembus oleh berbagai bocoran Israel, AS, dan Barat.  Dia tidak meninggalkan istana ketika beberapa rudal jatuh di lokasi beberapa meter dari istananya. Dia bertahan dalam posisinya selama tujuh tahun masa perang, termasuk ketika dia kehilangan 60% wilayah Suriah. Karena itu tidak mungkin dia akan meninggalkan Suriah ketika sekarang dia berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah negerinya, termasuk Ghouta Timur, dengan bantuan tiga sekutunya; Rusia, Iran dan Hizbullah Lebanon.

Ancaman Israel untuk menghabisi Assad dan tentaranya bukanlah sesuatu yang baru. Ancaman demikian sudah berusia 20 tahun namun Israel tak pernah membuktikan ancamannya. Sebaliknya, Israel sendiri yang terancam musnah dari peta dunia. Ratusan ribu rudal Poros Resistensi bisa jadi tidak akan menyentuh AS, tapi sudah pasti akan menjangkau semua kota, kawasan permukiman, dan lapangan udara Israel di lebih dari satu front.

Perang tidak akan berjalan di satu arah. Perang yang pernah dikobarkan AS dan sekutunya terhadap Irak tidak membuatnya lenyap dari peta. Sebaliknya, dalam waktu relatif cepat, Irak membaik dan dapat memulihkan kekuatan dan posisinya. Suriah eksis di muka bumi sejak 8000 tahun silam, sedangkan Israel usianya tidak lebih dari 70 tahun dan tidak pernah menang dalam peperangan selama 35 tahun terakhir.

Bagaimanapun hasilnya perang yang mungkin berkobar, resistensi Suriah adalah kehormatan bagi bangsa-bangsa Arab dan Muslim karena lawannya adalah kubu imperialis AS, Israel, dan para sekutunya yang tak henti-hentinya mencari-cari dalih untuk menundukkan negara yang tak patuh kepada mereka di Timteng. Naifnya, sebagian negara Arab malah berpihak kepada kubu imperialis. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*