LiputanIslam.com –  Mengapa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba memancing gejolak hebat pada hubungan negaranya dengan Iran dan Turki sekaligus? Apakah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akan “bereaksi sengit” terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di Teluk Persia? Seriuskan warning senator Republikan AS Bob Corker bahwa Perang Dunia (PD) III sudah dekat?

Warning dari sosok moderat Corker yang mengetuai komisi luar negeri Majelis Senat AS tampaknya tidak berlebihan. Belum lama ini dia mengingatkan bahwa ancaman Trump terhadap negara-negara lain akan membuat AS tergiring pada PD III.  Corker mengaku prihatin dan menilai orang lain yang memikirkan keamanan AS juga sama prihatinnya atas perilaku Trump.

Setelah mengancam “akan menghancurkan Korut secara total”, Trump nyaris mengobarkan krisis dengan dua kekuatan besar regional Timteng, Iran dan Turki, bukan semata karena Teheran-Ankara merapat satu sama lain terkait dengan penolakan keduanya terhadap referendum Kurdistan Irak, melainkan juga dengan karena pendekatan keduanya berkenaan dengan isu Suriah.

Hubungan AS-Turki

Hubungan Turki-AS kian hari kian memburuk. AS menggugat tiga pengawal Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan tuduhan melakukan kejahatan terhadap para demonstran dalam kunjungan Erdogan ke AS pada Mei lalu. Trump meminta tiga orang itu diserahkan.

Selanjutnya, Trump mengeluarkan keputusan penundaan pemberian visa kepada warga Turki yang hendak berkunjung ke AS sebagai reaksi atas tindakan aparat Turki menangkap staf lokal Kedubes AS di Ankara dengan dakwaan terlibat aksi mata-mata untuk kepentingan agamawan Turki Fethullah Gulen yang tinggal di AS.

Erdogan membalas keputusan Trump itu dengan balasan yang lebih keras, yaitu menghentikan pemberian visa masuk kepada warga AS. Selain itu, Ankara meneken pembelian sistem pertahanan udara S-400 dengan Rusia sekira dua pekan lalu.

AS dan Turki sama-sama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Tapi aliansi ini terancam buyar karena AS memilih Kurdi sebagai sekutu “yang dapat dipercaya” ketika Erdogan menyilakan Trump memilih antara Kurdi dan Turki. Ada beberapa laporan yang mengkonfirmasi bahwa Trump diam-diam mendukung referendum Kurdistan, meskipun secara terbuka mengaku menentangnya .

Hubungan AS-Iran

Kemelut hubungan AS dengan Iran terkait dengan perjanjian nuklir kini memasuki krisis babak baru setelah Trump berpotensi menyatakan negaranya keluar dari perjanjian ini pada Minggu 15 Oktober mendatang. Hal ini kemudian diperburuk lagi dengan rencana baru Trump untuk mencantumkan IRGC dalam daftar hitam organisasi teroris.

Menanggapi hal ini, Panglima IRGC Mayjen Mohammad Ali Jafari menegaskan, “Jika benar kabar bahwa pemerintah AS akan melakukan tindakan bodoh mencantumkan IRGC dalam daftar teroris maka AS hendaknya menunggu reaksi sengit, dan IRGC akan memandang tentara AS di dunia, terutama Timteng, tak ubahnya dengan ISIS.” Lebih dari itu, Jafari juga menyarankan AS memindah pangkalan militernya di luar jangkauan rudal Iran, yaitu radius 2000-an km dari Iran.

Rencana Trump terhadap perjanjian nuklir Iran maupun IRGC mengundang keprihatinan pemerintah Perancis terhadap konsekuensinya, karena pasti menambah gejolak di Timteng. Presiden Perancis Emmanuel Macron mengimbau Iran menahan diri.

Perdana Menteri Inggris Theresa May adalah satu-satunya pemimpin Eropa yang mendukung “kebodohan” dan ancaman Trump. Juru bicara May mengatakan bahwa May dalam percakapan telefon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah bersepakat dengannya mengenai keharusan masyarakat internasional “menyadari ancaman Iran bagi kawasan Teluk Persia dan Timteng dan melanjutkan upaya mencegah sepak terjang Iran untuk mengacaukan kawasan ini.”

Luar biasa, Israel dipandang sebagai pihak yang mengobsesikan stabilitas Teluk Persia dan Timteng sehingga Inggris mendukungnya dan meminta khalayak internasional menganggap Iran sebagai sumber ancaman. Rezim Zionis yang telah mengobarkan sedikitnya delapan kali perang terhadap Arab selama kurun waktu 60 tahun silam diposisikan sebagai pihak yang mendambakan stabilitas regional, sedangkan Iran dipandang sebagai satu-satunya biang malapetaka!

Pernyataan Senator Corker,  kesepakatan Theresa May dengan Netanyahu bahwa Iran merupakan ancaman bagi Teluk Persia dan Timteng, dan keprihatinan Perancis, semua ini menandakan adanya rencana kolektif untuk memprovokasi Iran agar tergiring kepada perang. Dan jika perang ini berkobar maka kondisinya jelas akan berbeda dengan peperangan sebelumnya.

Langkah awalnya bisa jadi adalah keluarnya AS dari perjanjian nuklir. Selanjutnya adalah pemberlakukan lagi sanksi terhadap Iran, dan pada puncaknya ialah pembakaran sumbu ledak berupa pencantuman IRGC dalam daftar organisasi teroris.

Kebijakan “bodoh” Trump dan eskalasi provokasi Israel untuk melibatkan AS dalam perang baru di Timteng mungkin akan menjadi isu-isu utama pada tahap selanjutnya. (mm)

Sumber: Ray al-Youm

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL