iran usa iraqTanggapan Tentang Isu Sektarian

Analisis Rai al-Youm ini mengenai biang krisis terorisme di Irak tidak sepenuhnya tepat apabila dikaitkan dengan isu Sunnah-Syiah. Sebab, kendati memang ada indikasi kuat ketidak loyalan pemerintah dan aparat di wilayah utara Irak yang sempat dikuasai sepenuhnya oleh ISIS dan mayoritas penduduk wilayah itu bermazhab Sunni , namun itu tidak serta merta menjadi cerminan bahwa ISIS yang berfahamkan Salafi/Wahabi mewakili kelompok Sunni. Buktinya, selain banyak warga dan bahkan tokoh agama Sunni yang juga menjadi korban kebengisan milisi ISIS akibat menolak berbaiat kepada ISIS, organisasi ulama Sunni Irak juga turut mengeluarkan fatwa perang atau jihad melawan ISIS, menyusul fatwa Lembaga Fatwa Mesir yang mengharamkan umat Islam menjadi anggota ISIS dan kelompok-kelompok radikal lainnya.

Menyusul fatwa-fatwa itu, ribuan warga Sunni dari berbagai ras dan suku ikut berduyun-duyun mendaftarkan diri sebagai relawan untuk membantu tentara Irak menumpas ISIS. Apa yang dilakukan ISIS selama ini adalah melakukan tindakan-tindakan provokatif atas nama Ahlussunnah. Karena itu kalangan Ahlussunnah, baik di dalam maupun di luar Irak, justru dibuat geram oleh aksi mereka hingga keluarlah fatwa-fatwa jihad terhadap mereka.

Ketua Jamaah Ulama Irak, Syeikh Khalid al-Mala, di Baghdad Sabtu (14/6/2014) menegaskan, “Jamaah Ulama Irak yang bermarkas di Baghdad telah mengeluarkan fatwa yang menyerukan kepada segenap warga supaya mengangkat senjata melawan ISIS dan pasukan bayaran.”

Di Mesir, Lembaga Fatwa Mesir (Darul Ifta’ al-Masriyyah) mengeluarkan fatwa haram bagi siapapun menjadi anggota organisasi ekstrim seperti ISIS. Lembaga ini menyebut ISIS sebagai organisasi yang merusak negara serta mencoreng citra Islam di dunia.

“Apa yang dilakukan oleh kelompok ISIS berupa teror, pembunuhan dan pengrusakan di Irak, Suriah dan berbagai negara lain adalah tindakan yang menguntungkan musuh-musuh Islam, membawa kehancuran bagi negara-negara Arab dan Islam serta dapat menjadi alasan bagi intervensi asing,” ungkap juru bicara Lembaga Fatwa Mesir, Ibrahim Nagm, di Kairo Jumat (13/6/2014), sebagaimana dilansir berbagai media di Timur Tengah.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Guru Besar Universitas al-Azhar, Syekh Dr. Alawi Naim (Selasa 17/6/2014). Dia menegaskan, “AS berada di balik barisan ISIS, sedangkan Zionisme internasional menggerakkan kelompok yang mengaku Islam itu, padahal Islam berlepas diri dari mereka sebagaimana serigala berlepas diri dari dosa anak-anak Nabi Ya’kub as.”

Dalam perkembangan terbaru di Irak sendiri, aliansi “al-Muttahidun” yang merupakan blok Sunni terbesar di bawah pimpinan Osama al-Nujaifi, ketua parlemen Irak, Selasa (17/6/2014) menegaskan bahwa ISIS merupakan kelompok takfiri yang tidak mengenal bahasa apapun kecuali kekerasan.

Juru bicara aliansi ini, Zafir al-Ani, mengatakan, “Kami tidak meragukan bahwa ISIS merupakan sebuah organisasi teroris takfiri yang tidak mengenal bahasa apapun kecuali kekerasan. Organisasi ini sama sekali tidak mewakili kelompok dan mazhab apapun. Sebaliknya, ISIS tak lain adalah alat perusak yang menyasar semua kalangan tanpa terkecuali.”

Dengan demikian, tidak cukup alasan untuk menyebut krisis terorisme di Irak mengakar para isu sekterianisme. Yang ada hanyalah ketidak puasan faksi-faksi politik tertentu sehingga menyurutkan semangat perlawanan sebagian kalangan terhadap kebengisan kelompok ISIS, yang kemudian berujung pada disloyalitas kepada pemerintah ketika negara diserang gerombolan ISIS. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Irak untuk mengatasinya agar di masa mendatang kejadian serupa tidak terulang lagi dan semua elemen bangsa Irak dapat semakin solid menghadapi gerombolan ISIS dan semisalnya.

Isu Kerjasama Iran-AS

Belakangan ini, media internasional memang ramai memberitakan soal kerjasama Iran-AS dalam kasus Irak. Para petinggi Barat terlihat penuh manuver dalam isu ini, walaupun Teheran sudah berulangkali menegaskan hanya akan siap bekerjasama dengan pemerintah Irak apabila ada permintaan resmi dari pemerintah dan rakyat Irak, itupun bukan dalam konteks militer dan tidak boleh pula keluar dari rel hukum internasional.

Menanggapi berita-berita yang beredar, Jubir Kemlu AS Marie Harf semula mengatakan tidak ada pembicaraan apapun antara Iran dan AS soal Irak. Katanya, Washington dan Teheran hanya konsisten membahas masalah nuklir. Belakangan, sikap AS itu berubah. Senator AS Lindsay Graham tiba-tiba mengatakan bahwa AS perlu bekerjasama dengan Iran untuk mencegah kejatuhan pemerintah Irak. Karena itu dia berpendapat AS harus segera berkomunikasi dan berdialog dengan Iran dalam masalah ini.

“Ada kemungkinan kita memerlukan bantuan mereka (Iran) untuk menjaga Baghdad. Meski ini tidak seberapa menarik bagi AS, namun ini sulit dihindari.” ujar Graham, sebagaimana dikutip FNA Rabu (18/6/2014)

Pada puncaknya, ungkapan senada juga dilontarkan oleh Menlu AS John Kerry. Dia mengatakan, “AS siap berdialog dengan Iran soal Irak, dan kami tidak menganggap tertutup kemungkinan opsi kerjasasama militer dengan Iran untuk memerangi milisi ISIS.”

Pernyataan para petinggi AS mendapat tanggapan sinis dari para pejabat Iran. Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Samkhani, misalnya, mengatakan, “AS ingin menjalankan kebijakan militer terbuka, ingin membidani dan mengasuh kelompok-kelompok teroris lain yang serupa dengan ISIS.”

Sembari menyinggung kerjasama pendanaan, intelijen dan logistik beberapa negara sekutu AS dalam menjalankan kebijakan tersebut, Samkhani menambahkan, “AS menjalankan kebijakan militer terbuka dengan tujuan menciptakan ketakutan, instabilitas, dan perlawanan bersenjata dan penuh kekerasan terhadap aspirasi dan kehendak rakyat yang sudah terwujud dalam pemilu untuk menentukan nasib negaranya.”

Mengenai kemungkinan kerjasama Iran-AS dalam masalah Irak, Samkhani menegaskan, “Semua isu ini berfungsi sebagai perang psikologis dan sama sekali tidak faktual. Sebagaimana sudah kami umumkan, kami hanya akan mempelajari masalah bantuan dalam kerangka hukum internasional apabila ada permintaan resmi dari pemerintah Irak. Jadi ini sepenuhnya bersifat bilateral dan sama sekali tidak berkaitan dengan negara ketiga.”

Pertanyaannya sekarang ialah mengapa isu kerjasama Iran-AS terus didengungkan oleh Barat? Ada dua hal yang tergambar untuk menjawab pertanyaan ini; satu berkonteks lapangan, dan yang lain berkonteks propaganda.

Dalam konteks lapangan, AS berobsesi supaya Iran terlibat langsung di gelanggang militer Irak. Mengapa demikian? Jawabannya perlu ditelusuri dari status Iran yang selama ini dikenal sebagai poros resistensi terhadap Barat serta kedudukannya sebagai kekuatan politik yang eksis di dunia serta memiliki rekam jejak yang cemerlang dalam perang melawan terorisme kelompok-kelompok takfiri.

Iran sangat kontras dengan rekam jejak AS yang telah meninggalkan Afghanistan dalam kondisi negara ini masih diwarnai eksistensi Taliban. Sedangkan para sekutu Iran dalam poros perlawanan terhadap teroris di Suriah terbukti sukses besar.

Di samping itu, citra AS di mata publik juga sama sekali tidak mendukung keterlibatannya di Irak. AS masih dipandang sebagai kekuatan agresor, antagonis dan berorientasikan pendudukan militer. Iran tidak memiliki citra demikian. Meski pernah berperang dengan Irak di era rezim Saddam Hossein, Iran tidak pernah tercitrakan sebagai agresor. Karena itu, Iran jauh lebih diterima di mata publik Irak dibanding AS.

Sedangkan dalam konteks propaganda, faktor kebersikukuhan AS pada isu pelibatan Iran patut ditengarai dari obsesi lama AS untuk mengobarkan pertikaian antara Sunnah dan Syiah di Timur Tengah. Dalam hal ini, harus diakui bahwa AS telah mencapai banyak kemajuan, termasuk terkait aksi-aksi ISIS.

Dalam konteks ini, seandainya AS dapat menggandeng Iran maka keberhasilannya dalam mengobarkan pertikaian antara Sunni dan Syiah akan sempurna. Artinya, Iran sebagai komunitas Syiah yang paling eksis di dunia yang selama ini getol memerangi antagonisme AS dan menyerukan persatuan Islam ujung-ujungnya justru ikut menjadi sekutu AS. Citra Iran akan ambruk seandainya hal itu terjadi.

AS tidak berhenti berangan-angan menyaksikan kobaran sengit konflik antara Sunni dan Syiah, dan dalam rangka ini jebakan yang dipasang AS tentu sangat luas. Washington sama sekali tidak keberatan menebar opini di tengah kalangan Ahlussunnah bahwa Iran yang Syiah telah menjadi sekutu dan antek AS yang kafir. AS malah akan semakin puas jika opini demikian beredar dari mimbar-mimbar kaum takfiri. Hanya saja, banyak indikasi bahwa Republik Islam Iran tidak akan semudah itu terkecoh oleh jebakan AS, sebagaimana terlihat dari berbagai pernyataan para pejabat Teheran. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL