iran usa iraqLiputanIslam.com – Sudah satu minggu lebih Negeri 1001 Malam, Irak, diacak-acak oleh gerombolan bersenjata yang menamakan dirinya Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIS/ISIL) beserta beberapa kelompok pendukungnya yang juga berkepentingan dengan kerusuhan Irak. Dalam satu pekan ini terjadi berbagai perkembangan pesat, baik di gelanggang pertempuran maupun di pentas politik regional.

Tentang ini, media analisis online terkenal di Timur Tengah Rai al-Youm pimpinan jurnalis senior Arab asal Palestina, Abdel Bari Atwan, dalam editorialnya mengangkat tiga perkembangan yang dinilainya sangat krusial bagi konstalasi politik atau bahkan juga militer di seluruh kawasan Timur Tengah, bukan hanya Irak dan Suriah, sebagai berikut;

Pertama, pendekatan Iran-Amerika Serikat (AS) serta komunikasi dan political spin antara keduanya, yang bukan tidak mungkin akan menghasilkan sebuah kolaborasi utuh dan total di Irak, termasuk untuk mengantisipasi pergerakan kelompok-kelompok bersenjata menuju Baghdad dan kota-kota lain.

Kedua, statemen Menteri Luar Negeri (Menlu) AS pada Senin (16/6/2014) bahwa salah satu opsi utama Presiden AS Barack Obama untuk beberapa hari ke depan ialah penggunaan pesawat nirawak (drone) di Irak untuk mencegah pergerakan militan, khususnya ISIS.

Ketiga, menguatnya kekuasaan otoritas Kurdi Irak atas kota Kirkuk, yaitu hal yang belum pernah dapat ia lakukan selama ini. Hal ini dapat menjurus pada proklamasi kemerdekaan atau disintegrasi wilayah Kurdistan dari Irak, walaupun ini pasti terbengkalai oleh status Kirkuk sebagai kota multiras serta wilayah yang kaya akan cadangan minyak di bagian utara Irak. Di mata pemimpin wilayah Kurdistan Irak, Masoud Barzani, Kirkuk adalah kota yang “paling suci”.

Pelibatan Iran dan Marginalisasi Arab

Menurut Rai al-Youm, hal yang paling krusial di antara tiga perkembangan itu terletak pada poin pertama dimana AS secara tidak langsung telah memarginalisasi posisi negara-negara Arab ketika Washington memilih menjalin komunikasi dengan Iran dan menggalang kesefahaman dengannya mengenai mekanisme penuntasan serangan ISIS dan pengembalian wilayah-wilayah yang diambil alih ISIS ( secara tendensius AS menyebutnya pengambil alihan oleh ‘koalisi Sunni pimpinan ISIS’) kepada pemerintah Irak. Tindakan Washington ini tak ubahnya dengan pengakuan secara terbuka AS terhadap Iran sebagai kekuatan besar regional dan bahkan sebagai mitra strategisnya di Timur Tengah.

Rai al-Youm menambahkan bahwa poros Iran-Suriah terbukti telah mencapai kemajuan di depan poros negara-negara Arab Teluk Persia yang notabene getol, total dan terbuka dalam mendukung apa yang mereka sebut “revolusi” Irak utara terhadap pemerintahan Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki.

Rai al-Youm memperkirakan bahwa seandainya sudah terjadi apa yang disebutnya “kordinasi Iran-AS” maka ini tidak akan berhenti di Irak melainkan juga akan merambah ke Suriah dan bisa jadi pula ke kawasan-kawasan lain, serta menjadi pukulan telak bagi poros yang selama ini mengasuh dan membesarkan oposisi Suriah dengan dukungan dana, militer dan media propaganda.

Diakui atau tidak, tulis Rai al-Youm, Iran telah meraih kemenangan demi kemenangan di gelanggang politik maupun militer, di pentas regional maupun global, karena Teheran memiliki konsep dan menejemen yang matang serta konsisten menyokong para sekutunya. Faktor lain yang lebih dari segalanya ialah karena Iran memiliki segala jenis perlengkapan militer buatan dalam negeri sehingga Iran menjadi negara yang berwibawa dan disegani di kancah global. Keperkasaan Iran ini membuat rezim Washington terpaksa berunding dengan Teheran, melunak dan merunduk terhadap sebagian besar syarat-syarat Teheran, dan secara bertahap menganulir sanksi-sanksi yang selama ini diterapkan terhadap Iran. “Kita di sini ,” tulis Rai al-Youm, “sedang membicarakan fakta-fakta yang ada dan tidak boleh kita masa bodohkan, kita sepelekan, dan jangan sampai pula kita membenamkan kepala kita ke dalam pasir seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain.”

Penggunaan Drone

Mengenai pengggunaan pesawat nirawak oleh AS di Irak terhadap pihak lawan dengan label perang melawan teroris, Rai al-Youm membacanya sebagai ambisi AS untuk kembali bercokol di Irak, tetapi secara tidak langsung, yakni tidak dengan mendaratkan lagi marinirnya agar kerugian jiwa di pihak AS dapat dihindari. Cara ini sama persis dengan apa yang selama ini dilakukan AS di Yaman, Afghanistan, Libya dan hampir pula di Suriah.

Jika mampu maka AS bermaksud menguasai udara, sedangkan darat dibiarkan dikuasai oleh Irak sendiri dan “sekutu barunya”, Iran. Namun, kebijakan baru AS ini cenderung memaksakan diri, di samping juga tidak jelas hasilnya, dan bisa jadi justru kontraproduktif. Alih-alih dapat menumpas terorisme, keterlibatan AS dalam konflik Irak justru dapat memberikan “warna Islami” pada terorisme dan memperpanjang barisan di belakang terorisme, baik dari orang-orang Irak sendiri maupun dari negara-negara Arab atau bahkan Islam secara keseluruhan, sebagaimana pernah terjadi ketika AS menduduki Irak pada tahun 2003. Sentimen anti AS hingga kini masih sangat kental di tengah bangsa-bangsa Muslim.

Di Yaman, AS sudah mengoperasikan dronenya selama lebih dari 10 tahun, namun hasilnya tidak seberapa dalam upaya penumpasan Organisasi al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), walaupun tentara Yaman sudah dibebani misi ini serta didukung senjata dan amunisi yang memadai, pelatihan secara modern dan dibekali pula dengan informasi-informasi Dinas Rahasia AS (CIA).

Menurut Rai al-Youm, hal yang sama juga terjadi di Afghanistan. Meski sudah 13 tahun AS mengoperasikan drone untuk mengebom milisi Taliban serta berhasil menghabisi para tokoh kuncinya, Taliban justru semakin kuat dan kian luas wilayah yang dikuasainya. Belakangan ini Obama bahkan tunduk pada tuntutan Taliban supaya membebaskan lima tokoh terkemukanya dari penjara Guantanamo sebagai tebusan untuk pembebasan seorang tentara AS. Padahal AS sudah pernah bersumpah untuk tidak akan pernah bernegosiasi dan tunduk kepada permintaan mereka.

Kemudian, pengoperasian drone juga telah menewaskan 5,000 orang Afghanistan yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak kecil. Drone AS sudah berulang kali mengebom lokasi-lokasi acara dan pesta pernikahan serta gedung-gedung sekolah. Hal yang sama juga terjadi di Yaman, dan pasti juga akan terjadi di Irak. Penggunaan drone adalah tindakan amoral, ilegal dan menjadi salah satu bukti kebodohan dan arogansi pemerintah AS.

Isu Sektarian

Rai al-Youm menilai resep yang manjur harus ditempuh melalui kanal politik dengan membentuk kongres nasional yang melibatkan semua kelompok Irak yang terlibat konflik, karena menurut media ini krisis Irak mengakar pada “kebijakan marginalisasi, eksklusivisasi dan diktatorisme atas nama demokrasi”. Di Irak harus dibentuk pemerintahan yang dapat mengakomodir semua golongan di bawah kepemimpinan figur yang memang negarawan dan terjauh dari sektarianisme. Menurut media ini, di Irak sekarang sebenarnya ada banyak figur demikian.

Bersambung…

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL