LiputanIslam.com –  Pernyataan penasehat presiden Amerika Serikat (AS) John Bolton kepada saluran CBS belum lama ini mengisyaratkan bahwa perang AS mendatang dan mungkin dalam waktu dekat ini di Timteng akan menyasar Iran.

Dalam pernyataan itu Bolton yang dikenal sangat membenci Islam dan Muslimin sehingga paling getol menyokong ambisi Israel di Timteng memastikan bahwa yang menjadi problema strategis bagi negaranya bukan Presiden Suriah Bashar Assad melainkan Iran. Menurutnya, bahaya Iran terletak bukan hanya pada ambisi nuklir dan pengembangan persenjataan rudalnya, melainkan juga pada “dukungan besarnya yang kontinyu kepada terorisme internasional serta keberadaan tangan-tangan revolusionernya di kawasan Timteng.”

Pernyataan blak-blakan ini tergolong pertama kalinya dan mencerminkan terjadinya perubahan strategi AS di Timteng yang intinya ialah mengganyang apa yang dianggap sebagai biang ancaman bagi AS dan Israel yang tak lain adalah pemerintahan Iran sebelum kemudian para sekutunya di Suriah, Lebanon, Irak, Jalur Gaza, dan bahkan Afghanistan.

Asumsi ini didukung oleh beberapa perkembangan sebagai berikut;

Pertama, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melumpuhkan Iran dengan embargo total yang bahkan mengecilkan embargonya terhadap Korut.

Kedua, tekanan Trump terhadap Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi agar meningkatkan volume produksi minyak Saudi hingga ke level maksimal dengan menambah 2 juta barel/hari sehingga menjadi 12 juta barel/hari untuk menutup kekurangan di pasar minyak akibat perang yang mungkin segera terjadi terhadap Iran maupun akibat terserangnya fasilitas dan sumur-sumur minyak Saudi, atau juga akibat pemblokiran ekspor minyak Irak ke Cina, India, Turki, Perancis, Perancis, Italia, dan Yunani untuk mengeringkan sumber-sumber keuangan Iran dan memperparah tekanan terhadap bangsa Iran.

Ketiga, pernyataan niat Trump untuk menarik pasukannya dari Suriah dan imbauannya supaya negara-negara Arab sekutunya di kawasan Teluk Persia agar mengirim pasukan untuk menggantikan pasukan AS di seberang timur Sungai Furat Suriah. AS akan menarik pasukannya dari Suriah demi menghindari resiko mendapat serangan dari pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi dan Hizbullah Irak serta gerakan-gerakan militer Irak lain semisal Harakah al-Nujaba jika AS jadi mengembargo dan memerangi Iran.

Keempat, AS berlepas tangan dari kelompok-kelompok bersenjata di Suriah selatan. Para komandan kelompok-kelompok ini secara resmi telah mengumumkan melalui Pusat Operasi Militer AS di Yordania bahwa AS tidak akan campur tangan untuk melindungi mereka dari serangan Pasukan Arab Suriah (SAA) yang telah merangsek maju hingga provinsi Daraa dan Suwaida untuk merebut kembali keduanya dan membuka kembali pintu-pintu perbatasan Suriah-Yordania.

Kelima, AS bersikukuh mempertahankan pangkalan militer Tanf di wilayah perbatasan Irak-Suriah dekat perbatasan Yordania serta upayanya mencegah keberadaan pasukan Suriah dan sekutunya di timur Sungai Furat demi memutus jalur logistik darat Iran kepada pasukan sekutunya di Irak, Suriah, dan Lebanon.

Hal yang prinsipal dalam strategi AS tersimpul dalam keyakinan para peletaknya bahwa jika tekanan militer ataupun ekonomi ataupun keduanya secara bersamaan dalam upaya menggulingkan pemerintahan Iran maka penggulingan pemerintahan akan mudah dilakukan di Suriah dan bisa jadi pula di Irak, dan demikian pula penumpasan para sekutu Iran, terutama Hizbullah di Lebanon.

Secara teori strategi AS itu cukup solid, sebab AS memang negara adidaya yang kebetulan juga didukung oleh Israel dan sebagian negara Arab. Tapi di tataran praktik strategi itu sangat berpotensi menimbulkan celaka bagi pengusungnya. Pasalnya, Iran bukan seperti Irak pada tahun 2003. Bukan saja karena Iran semakin tangguh, melainkan juga karena ia merupakan bagian penting dalam sistem regional dan internasional dan kesolidannya tak dapat dipandang dengan sebelah mata.

Pada tahun 1991 dan 2003 Irak diblokade oleh Arab, AS, dan Eropa, sedangkan Rusia yang notabene sekutu Irak dipimpin oleh presiden yang tercundangi lobi-lobi Zionis, dan Negeri Beruang Merah ini juga sedang melintasi tahap transisi penuh kekacauan dan secara politik dan ekonomi mengekor kepada Barat. Karena itu, blokade, serangan, dan pendudukan atas Irak menjadi mudah.

Tapi kondisi Iran sekarang jelas tidak demikian, dan tak dapat dibandingkan dengan kondisi Irak dan konstalasi politik internasional saat itu. Secara militer, arsenal Iran, Suriah, Hizbullah, dan Hamas disesaki dengan ratusan ribu rudal yang dapat menghujani Isral dan sekutunya di kawasan Teluk. Bolton dan para neo-konservatif sekutunya bisa jadi pernah berhasil menghancurkan dan menduduki Irak, tapi untuk Iran tidak akan demikian. Sebaliknya, akan sangat mahal resiko yang harus ditebus oleh AS dan sekutunya jika nekat menyerang Iran. (mm/rayalyoum)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*