LiputanIslam.com –  Penasehat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton telah menghubungi negara-negara Arab dan mengimbau mereka supaya mengirim pasukan ke bagian timur laut Suriah untuk menggantikan pasukan AS yang berjumlah sekira 2000 personil dan akan segera ditarik dari Suriah akibat besarnya resiko mereka dalam beberapa pekan mendatang menyusul adanya ancaman pembalasan kubu Iran atas serangan rudal AS, Inggris, dan Perancis ke Suriah.

Presiden AS Donald Trump tampak akan memenuhi janjinya saat kampanye pemilu April 2016 untuk menarik pasukan negara ini dari Suriah. Tiga pekan lalu dia kembali menegaskan janji itu sembari mengabakan peringatan para jenderalnya dan balik mengingatkan bahwa AS telah menghabiskan dana US$ 70 miliar di Suriah tanpa mendatangkan manfaat apapun.

Trump sekarang dicemaskan oleh laporan dinas rahasia AS, CIA, bahwa kelompok-kelompok milisi dukungan Iran yang berhasil menumpas ISIS atau memblokirnya di kawasan hanya sepanjang 15 kilometer di timur Sungai Furat dan selatan kota Hasakah sekarang bersiap-siap menyerang pasukan AS melalui perang gerilya.

Brigade al-Baqir, salah satu milisi utama yang turut berperang membantu tentara Suriah melawan kelompok-kelompok ekstremis bersenjata, memiliki pasukan yang jumlahnya diperkirakan 5000 orang. Kelompok yang didukung Iran ini, demikian pula komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Qasem Soleimani, secara resmi mengumumkan dimulainya perang gerilya melawan pasukan AS di Suriah dan Irak.

Bersamaan dengan ini, gerakan al-Nujaba yang merupakan komponen utama pasukan tangguh relawan al-Hashd al-Shaabi yang berperan besar dalam penumpasan ISIS di Iran juga menyatakan akan melakukan hal serupa dalam beberapa pekan mendatang. Gerakan ini menyatakan sudah memulai persiapan untuk ini, dan mereka memiliki pasukan sekira 15.000 personil, satu stasiun televisi, dan pimpinan militer dan politik di Irak.

Dan jangan lupa, pasukan Hizbullah yang berbasis di Lebanon dan turut andil besar dalam penumpasan kelompok-kelompok teroris di Suriah pasti juga memiliki misi yang sama.

Surat kabar Wall Street Journal yang dekat dengan Gedung Putih telah menimbulkan kehebohan ketika melaporkan bahwa Trump menginginkan pengiriman dan penempatan pasukan Arab, terutama negara-negara “poros moderat”, yakni Mesir, Arab Saudi, Qatar,  Uni Emirat Arab, dan Yordania sebagai ganti pasukan AS di Suriah, dan  menyatakan bahwa negara-negara yang enggan mengirim pasukan hendaknya membayar US$ 4 miliar untuk mendanai pasukan tersebut.

Menlu Saudi Adel Al-Jubeir kemudian mengejutkan banyak orang ketika menyatakan negaranya siap berpartisipasi dalam pasukan yang diharapkan akan dikirim ke Suriah itu. Tapi dia mengajukan syarat bahwa pasukan itu harus berada dalam koalisi pimpinan AS apabila koalisi ini hendak dikembangkan.

Mesir yang menolak mengirim pasukan ke Yaman sulit diharapkan akan memenuhi imbauan John Bolton yang telah menghubungi  ketua badan intelijen Mesir Abbas Kamil dan memintanya mengirim ke Suriah suatu pasukan yang berpotensi mendapat serangan dalam perang gerilya kelompok-kelompok milisi dukungan Iran terhadap pasukan AS, apalagi di kawasan yang berada di luar kendali pemerintah Suriah sehingga terkesan mendukung separatisme Kurdi Suriah.

Tak jelas apa alasan Al-Jubeir ketika menyatakan negaranya yang sudah tiga tahun memerangi Yaman siap mengirim pasukan ke Suriah. Dalam perang Yaman itupun Saudi tidak mengirim pasukan kecuali dalam jumlah yang sangat terbatas, itupun hanya bercokol di kawasan selatan.

Jadi, mana mungkin Saudi benar-benar akan mengirim pasukan ke Suriah. Demikian pula halnya dengan Uni Emirat Arab yang merupakan sekutu Saudi dalam perang Yaman, dan apalagi Qatar yang justru ketir-ketir terhadap kemungkinan serangan empat negara pemboikotnya, yaitu Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir, ke Doha untuk menggulingkan rezim Tamim bin Hamad al-Thani.

Karena itu, paling banter negara-negara itu hanya akan siap patungan untuk membayar US$ 4 miliar yang diminta Trump, atau menggunakannya untuk membayar pasukan Blackwater seperti yang terjadi di Yaman, atau di Irak untuk membantu pasukan AS.

Pemimpin perusaan jasa keamanan Blackwater, Erik Prince, mengaku telah memulai komunikasi dengan para petinggi negara-negara Arab Teluk Persia dan menyatakan pihaknya siap mengisi kekosongan yang akan terjadi pasca penarikan pasukan AS dari Suriah. Dengan demikian, masalahnya hanyalah keuangan, dan mereka pasti siap, apalagi tak terbayang siapa di antara mereka yang dapat berkata “tidak” ketika sudah ada perintah dari presiden AS.

Alhasil, pernyataan Trump mengenai penarikan pasukan AS dari Suriah dan penggantiannya dengan pasukan Arab ataupun pasukan bayaran dengan dalih memerangi ISIS dan mencegah ekspansi pasukan Iran merupakan sebentuk pengakuan atas kekalahan AS di Suriah dan bisa jadi juga sekaligus merupakan keputusan untuk mundur teratur dari Timteng serta menyerahkannya kepada persekutuan Rusia-Iran.

Karena itu, serangan AS, Inggris, dan Perancis ke Suriah bisa jadi pula sengaja dilakukan untuk memperkuat alasan bagi penarikan pasukan AS dari Suriah dan membiarkan kelompok-kelompok pemberontak serta negara-negara Teluk sekutunya maupun Turki  menangani sendiri nasib masing-masing di masa mendatang. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*