LiputanIslam.com –  Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan sejumlah besar tokoh papan atas Partai Kongres Nasional, termasuk wakilnya, Arif Al-Zuka, serta Brigjen Tarek Saleh, kemenakan yang juga komandan pasukan pengawal terbunuh di tangan gerakan Ansarullah (Houthi), Senin 4 Desember 2017. Yasser Al-Awazi, sekjen Partai Kongres Nasional dan orang ketiga di partai pimpinan mendiang Saleh ini adalah satu-satunya orang yang selamat dalam serangan Ansarullah tersebut.

Dengan terbunuhnya mereka, Ansarullah praktis menjadi kekuatan sentral politik dan militer di Yaman, dan setelah menguasai penuh Sanaa, ibu kota Yaman, dan beberapa provinsi tidak mustahil gerakan ini akan menjadi poros yang menyatukan berbagai kekuatan adat dan militer di negara ini.

Partai Kongres Nasional yang menjadi payung politik Saleh kini berhadapan dengan pilihan yang serba sulit, dan terancam perpecahan internal yang akut. Jika benar informasi bahwa Al-Awazi memimpin fraksi terbesar dalam partai ini dan masih akan terus berkoalisi dengan Ansarullah dalam memerangi koalisi Arab maka menguaplah angan-angan pasukan pimpinan Saudi ini untuk menciptakan kekuatan internal Yaman yang dapat menandingi dan melemahkan Ansarullah.

Abdullah Saleh telah melakukan banyak kesalahan besar dalam hidupnya, sebagaimana umumnya politisi ulung ketika sudah mencapai tampuk kekuasaan. Namun, kesalahannya yang besar bisa jadi ketika dia keliru memperhitungkan kekuatan rivalnya setelah semula konsisten bermitra dengannya dalam sebuah koalisi tangguh yang bahkan berhasil menimbulkan tekanan internasional terhadap pasukan koalisi Arab agar menghentikan serangan dan blokadenya terhadap Yaman.

Informasi yang ada sangat minim mengenai detail kudeta yang dipimpin Saleh terhadap Ansarullah, demikian pula mengenai negosiasinya dengan Arab Saudi melalui Uni Emirat Arab (UEA) sehingga dia nekat menggalang kudeta. Negosiasi itu setidaknya telah membuat  julukan Saleh sebagai “presiden terguling” berubah menjadi “mantan presiden.” Yang jelas, kudeta itu pada akhirnya menjadi bumerang yang mematikan bagi Saleh dalam tempo yang singkat.

Dalam perang disintegrasi Yaman pada tahun 1994 dia mengaku menang karena tidak didukung oleh Saudi, berbeda dengan lawannya. Dia juga mengaku kalah dalam peperangan sebelumnya justru karena didukung oleh Saudi. Naifnya, di hari-hari atau minggu-minggu terakhirnya dia malah melupakan ucapannya itu. Dia memilih meninggalkan Ansarullah dan balik bergabung dengan koalisi pimpinan Saudi.

Saleh terguling dari kursi kepresidenan yang telah didudukinya selama 33 tahun akibat gelombang unjuk rasa pada tahun 2011. Namun belakangan namanya kembali melejit dan popular karena penggantinya, Abd Rabbuh Mansour Hadi yang didukung Saudi, ternyata tidak lebih baik dari dia, apalagi Saleh memilih berpihak pada kubu yang melawan agresi Saudi dan sekutunya terhadap Yaman. Saleh saat itu turut lantang memekikkan perlawanan.

Tapi rupanya dia tidak menyadari bahwa berbalik dari perlawanan beresiko kehilangan dukungan dari mayoritas rakyat Yaman, atau dari sejuta massa yang pernah berhasil dia kerahkan di Al-Sabin Square dalam peringatan HUT ke-35 Partai Kongres Nasional pada Agustus 2017.

Perpecahan bisa jadi menimpa partai ini dalam beberapa hari atau minggu mendatang. Namun nasib yang sama juga berkemungkinan menimpa koalisi Arab, sebab Sudan berpotensi keluar dari koalisi militer pimpinan Saudi ini.

Gerakan Ansarullah dan pendukungnya di Teheran kini semakin berada di atas angin. Terbunuhnya Saleh di tangan Ansarullah, keberhasilan mereka menguasai beberapa posisi yang semula dikuasia kubu Saleh di Sanaa, dan ada kemungkinan bergabungnya sebagian satuan militer Yaman ke barisan Ansarullah, semua ini akan berperan kunci dalam perjuangan Ansarullah mematahkan ambisi dan sepak terjang Saudi dan UEA untuk mengusir mereka dari Sanaa dan Pelabuhan Hudaydah yang menjadi urat nadi mereka untuk tetap dapat bertahan.

Ansarullah kini menjadi semakin tangguh untuk memegang inisiasi, melalui jalur damai maupun kanal perang, sebab mereka telah bebas dari dualisme kepemimpinan sehingga mereka lebih leluasa dalam menentukan alur negosiasi, ataupun jalannya perang karena mereka selama ini terbukti solid di front pertempuran, baik di wilayah perbatasan utara di mana mereka terus menggempur dan menekan tentara Saudi maupun di Sanaa dan kota-kota lain semisal Taiz dan Hudaydah, dan memiliki rudal-rudal balistik jenis cruise yang bisa menjangkau Riyadh, Khamis Mushait, dan kota-kita lain di semua penjuru Saudi.

Yang jelas, perang Yaman sudah terlalu jauh berlarut dan cukup sebagai bukti bahwa krisis di negara ini tak dapat diselesaikan dengan cara militer dan membeli orang. Karena itu, semua pihak sudah seharusnya mengedepankan kanal dialog yang mengindahkan kesetaraan dan prinsip saling hormat.  (mm)

Sumber: Ray Al-Youm

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL