LiputanIslam.com –  Arab Saudi sangat terpukul oleh serangan 7 rudal Ansarullah (Houthi) di Yaman terhadap Riyadh, ibu kota Saudi, dan beberapa tempat lain. Jubir pasukan koalisi pimpinan Saudi yang sudah tiga tahun memerangi Yaman, Kolonel Turki al-Maliki, lantas menuding Iran telah menyelundupkan senjata ke Yaman, dan mengancam akan membalas Iran pada “tempat dan saatnya yang tepat.”

Media Saudi di dalam dan luar negeri ramai-ramai mengesankan bahwa peluncuran rudal Yaman itu merupakan bukti bahwa Ansarullah telah berubah menjadi “milisi” yang menyerupai kelompok Hizbullah di Lebanon dan al-Hashd al-Shaabi di Irak, sehingga sudah seharusnya koalisi Arab berusaha menumpas Ansarullah dan bahkan berbelanja senjata sampai 150 miliar USD dalam beberapa tahun terakhir.

Pertanyaan yang praktis mencuat sekarang ialah bagaimana dan kapan Saudi akan “membalas” atau bereaksi? Apakah melalui jalur politik yang akan meredakan krisis Yaman, ataukah dengan cara militer dengan dukungan dan bantuan Amerika Serikat (AS) seperti yang dilakukan terhadap Yaman?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, efektivitas sistem pertahanan udara Patriot buatan AS dalam menghadapi rudal Yaman layak dicermati. Beberapa laporan di media AS sendiri menyebutkan tidak atau kurang efektifnya rudal Patriot.

Majalah Newsweek mengutip pernyataan Jeffrey Lewis, Direktur Program Non-Proliferalis Nuklir pada Institut Midlebury, California, AS, bahwa melalui analisa beberapa video yang beredar terkait dengan proses penjatuhan tiga rudal Yaman yang mencapai Riyadh dapat disimpulkan bahwa dua rudal Patriot gagal membidik sasaran. Rudal pertama meledak di angkasa sebelum menghantam rudal sasaran, sedangkan rudal kedua malah tiba-tiba menukik ke darat secara tragis.

Keraguan terhadap efektivitas Patriot membuat Saudi melirik Rusia untuk membeli sistem pertahanan udara S-400, seperti yang dilakukan oleh sejumlah negara, termasuk Turki. Hanya saja, penyerahan sistem itu kepada Saudi bisa jadi memerlukan waktu paling cepat beberapa bulan. Perkembangan ini praktis menjadi pukulan bagi industri militer AS, terutama berkenaan dengan rudal penangkis serangan udara.

Adapun reaksi Saudi terhadap Ansarullah dan Iran bisa jadi akan dilakukan dalam dua skenario sebagai berikut;

Pertama, menahan diri dan bekerjasama dengan utusan khusus baru PBB untuk Yaman, Martin Griffiths,  berusaha menghidupkan kembali prakarsa PBB, dan kembali ke meja perundingan, terutama setelah Ansarullah menjadi kekuatan yang tak tertandingi oleh kelompok-kelompok lain di Yaman.

Kedua, mengupayakan pembentukan tim internasional untuk menyelidiki proses apa yang disebut Riyadh sebagai penyelundupan rudal Iran untuk Ansarullah di Yaman. Penyelidikan ini tak lain sebagai pendahuluan untuk eskalasi.

Perang terbuka Saudi dengan Iran sejauh ini masih kecil kemungkinannya. Yang ada hanyalah kemungkinan perang secara tidak langsung dalam beberapa pekan atau bulan mendatang. Rencana AS keluar dari perjanjian nuklir Iran bisa jadi mendukung kemungkinan ini. Tindakan Presiden AS Donald Trump memecat Rex Tillerson dari jabatan Menlu dan menggantinya dengan Mike Pompeo serta mengganti HR McMaster  dengan sosok bergaris keras John Bolton sebagai penasehat keamanan nasional bisa jadi telah merampungkan kabinet perang AS anti Iran.

Kerajaan Saudi terlibat perang politik dan propaganda dengan Iran dan para sekutunya; Hizbullah di Lebanon, pemerintah Suriah, dan kelompok pejuang al-Hashd al-Shaabi di Irak. Saudi bahkan gigih menyuplai senjata kepada kelompok-kelompok pemberontak Suriah. Namun, Saudi gagal mencapai tujuannya. Hizbullah makin tangguh, demikian pula al-Hashd al-Shaabi di Irak, sementara kelompok teroris Jaish al-Islam, sekutu utama Saudi di Ghouta Timur, sudah nyaris kalah total dihajar tentara Suriah.

Kepanikan yang terjadi di Saudi terhadap serangan rudal Ansarullah ke Riyadh bisa jadi menambah semangat Ansarullah untuk melesatkan lagi rudal-rudalnya jika Saudi tetap saja menyerang Yaman, dan bisa jadi pula akan mendorong Saudi untuk mengutamakan jalur dialog.

Alhasil, penembakan tujuh rudal Ansarullah tersebut menjurus pada dua kemungkinan yang kontras satu sama lain. Pertama, mempercepat solusi diplomatik. Kedua, menyulut perang besar, langsung atau tidak langsung, antara Saudi dan Iran. Keangkuhan sosok Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman memperberat kemudian yang kedua.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*