LiputanIslam.com –  Menlu Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo beberapa hari lalu membuat pernyataan berisi tekanan terhadap Iran agar menerima 12 syarat supaya selamat dari “sanksi historis”. Pernyataan ini tak pelak menjadi ancaman terbesar  bagi Iran selama ini, dan merupakan pendahuluan untuk blokade terbesar yang berpotensi menjurus pada perang terbuka.

Pompeo mengatakan bahwa strategi baru AS terdiri atas empat poros mengenai perlakuan terhadap Iran, dan semuanya mengerucut pada satu tujuan utama, yaitu “mengubah rezim” Iran seperti yang pernah dilakukan terhadap Irak dan Libya, dan dalam tempo yang kecepatannya bisa diluar dugaan kebanyakan orang.

12 syarat yang dinyatakan Pompeo itu dapat diringkas dalam empat poin yang harus dipenuhi Iran sebagai berikut;

Pertama, menghentikan proyek rudal balistik kemudian menghancurkan semua arsenalnya.

Kedua, menghentikan dukungan kepada”teroris”, yaitu kelompok-kelompok bersenjata semisal Hizbullah di Lebanon, Hamas dan Jihad Islam di Palestina, dan relawan al-Hashd al-Shaabi di Irak.

Ketiga, berhenti campur tangan dalam berbagai konflik Timteng. Ini berarti bahwa Iran harus mengabaikan isu Palestina, Lebanon, Suriah dan Irak.

Keempat, keluar sepenuhnya dari Suriah dan menyudahi eksistensi militernya di negara ini.

Semua persyaratan ini jelas bercorak Israel dan semata-mata ditujukan untuk melicinkan dominasi Israel di Timteng dan membendung ancaman Iran terhadap Israel. Jadi, Pompeo berbicara seakan sebagai jubir Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menhannya, Avigdor Lieberman.

AS melontarkan “sanksi historis” manakala belakangan ini sering mengulang pernyataan bahwa pemerintahan Trump tidak akan mengulangi kesalahan Obama yang dinilai lunak terhadap Korut sehingga Korut dapat mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik yang dapat menjangkau AS.

Pompeo dalam pernyataan panasnya juga memberikan pesan bahwa AS tidak akan membiarkan Eropa dan para sekutu besar untuk terus bekerjasama ekonomi dengan Iran. Dengan cara ini AS bermaksud menghentikan 20 persen ekspor minyak Iran yang mengalir ke Eropa, menyudahi kerjasama perbankan Iran dengan Eropa, dan menutup semua pelabuhan udara dan laut Eropa bagi Iran.

Tekanan AS ini mulai menemukan hasil. Perusahaan minyak raksasa Perancis Engie menyatakan akan menghentikan kerjanya di Iran pada November mendatang. Perusahaan minyak Total mengikuti langkah ini ketika menyatakan tidak akan merampungkan proyeknya di sektor migas Iran jika AS tidak “mengamnesti” Iran, dan jelas AS tidak mungkin akan mengamnestinya.

Tidak jelas bagaimana reaksi Eropa, Rusia, Cina, dan Iran sendiri terhadap eskalasi AS terhadap Iran ini. Minyak  Iran mengalir ke Cina sebanyak 3.6 juta barel/tahun, dan volume perdagangan Iran-Cina  mencapai US$ 60 miliar/tahun.  Apakah Cina dan lain-lain akan bersedia mengorbankan kepentingan perdagangannya demi AS?

Sedangkan Rusia, reaksinya hingga kini belum jelas. Dalam pertemuan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Sochi pekan lalu Presiden Rusia Vladimir meminta semua pasukan asing keluar dari Suriah tanpa mengecualikan pasukan Iran. Rusia juga belum memberikan semua sistem S-300 kepada Iran sesuai perjanjian, sebagaimana juga belum memberikannya kepada Suriah sehingga cenderung mengiyakan desakan Israel.

Mengenai Eropa, Iran sendiri kuatir mereka akan mengikuti tekanan AS. Menlu Iran Mohammad Javad Zarif usai pertemuan dengan Utusan Eropa Urusan Energi Miguel Arias di Teheran beberapa hari lalu mengatakan, “Janji Eropa untuk menyelematkan perjanjian nuklir tidak cukup sehingga harus menempuh langkah tambahan, sebab dukungan politik belumlah cukup.”

Di tengah kencangnya tekanan AS ini belum jelas apakah Iran akan kembali memperkaya uraniuam seperti yang pernah dikatakan oleh pemimpin besarnya, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, ataukah masih meninjau sikap Rusia, Cina, dan sebagian negara Eropa.

Yang jelas, Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa bangsa negara ini sama sekali tidak menggubris ancaman Amerika Serikat (AS), dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarifpun menilai ancaman AS terhadap Iran belakangan ini hanyalah bagian dari kebiasaan lama AS. (mm/rayalyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*