Gaza, LiputanIslam.com–Penulis Norman Finkelstein dalam wawancara di program ‘Going Underground RT menyebut Gaza sebagai “penjara terbuka” yang tengah berada di “ambang kehancuran” dan tak layak ditinggali oleh warga Palestina.

Finkelstein, yang merupakan penulis buku ‘Gaza: An Inquest into its Martyrdom,‘ menilai bahwa kawasan Palestina itu “tak dapat lagi dikembalikan seperti semula”

“Tujuh puluh persen rakyat Gaza adalah pengungsi. Lebih dari setengahnya adalah anak-anak. Mereka terperangkap, tidak ada jalan kaluar,” ucapnya kepada pembawa acara Afshin Rattansi.

“95% air di Gaza tidak layak untuk konsumsi manusia. Setiap hari, di saat seorang anak meminum air, anak itu meracuni diri sendiri, namun mereka tidak bisa meninggalkan tempat itu. Mereka dipenjara. Seperti yang disebutkan oleh mantan Perdana Menteri David Cameron, Gaza adalah ‘penjara terbuka’.” paparnya.

Menurut Finkelstein, perbedaan antara Gaza dan kawasan lain di dunia, adalah bahwa  penduduk di kawasan lain “punya pilihan untuk untuk mengungsi” ketika menghadapi situasi yang buruk. Contohnya adalah warga sipil Suriah yang bisa meninggalkan negara mereka ketika terjadi perang.

“Rakyat Gaza, mereka di bawah kewajiban hukum hanya untuk berleha-leha dan mati? Mereka tidak punya hak untuk melawan? Tidak, itu tidak masuk akal bagi saya,” imbuhnya.

Ketika sang penulis ditanya tentang seorang warga Palestina yang melawan penjajahan, yaitu aktivis muda Ahed Tamimi, Finkelstein menilai bahwa “tidak ada harapan untuknya untuk mendapat pengadilan yang adil.”

Tamimi (17) ditahan di penjara Israel karena menampar seorang tentara Israel, setelah tentara itu memasuki halaman rumahnya tanpa izin. Tak lama sebelumnya, tentara Israel menembak sepupu Ahed di kepala dengan peluru karet. (ra/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*