shaath_nabilRamallah, LiputanIslam.com — Pemimpin kelompok pejuang Palestina Fatah, menolak tuntutan PM Israel untuk mengakui Israel sebagai negara yahudi sebagai prasyarat dilakukannya perundingan perdamaian.

Nabil Shaath, pemimpin gerakan Fatah, pada hari Selasa (4/3) mengatakan, bahwa tuntutan Benjamin Netanyahu tersebut, juga kengototan Netanyahu untuk tetap mempertahankan pasukan Israel di Lembah Yordan pada saat negara Palestina telah terbentuk, sebagai “ditolak sepenuhnya”.

Sebelumnya pada hari yang sama, Netanyahu mengatakan di hadapan pertemuan American Israeli Public Affairs Committee (AIPAC) bahwa Israel menginginkan perdamaian dengan Palestina dengan syarat Palestina mengakui Israel sebagai negara yahudi, tuntutan yang selama ini ditolak Palestina.

Pada hari Minggu (2/3), Shaath telah menyerukan kepada Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman yahudi di wilayah pendudukan dan melepaskan warga Palestina yang dipenjara, sebagai syarat dilanjutkannya perundingan perdamaian. Berdasar skema perundingan perdamaiana yang digagas menlu Amerika John Kerry, kedua pihak sudah harus mencapai kesepakatan pada akhir bulan April mendatang.

Sejak dimulaiknya putaran perundingan langsung kedua negara bulan Juli 2013, Palestina menyatakan keberatan atas beberapa isu, termasuk pembangunan pemukiman yahudi di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Putaran perundingan sebelumnya mengalami kegagalan tahun 2010 setelah Israel menolak menghentikan pembangunan pemukiman yahudi.

Pada hari Senin (3/3), Biro Statistik Israel merilis data yang menunjukkan Israel telah membangun 2.534 unit pemukiman yahudi pada tahun 2013, atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 1.133 unit.(ca/press tv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*