Foto: for mother syria

Foto: for mother syria

LiputanIslam.com — Perancis adalah salah satu negara yang turut ‘bermain’ dalam konflik Suriah. Bahkan, faksi pemberontak Free Syrian Army menggunakan bendera hitam-putih –hijau dengan tiga bintang. Bendera tersebut adalah bendera Suriah ketika berada di bawah mandat Perancis. [1] Mungkin, antara kerinduan yang besar ingin kembali mencengkramkan kukunya di Suriah, dan peluang itu datang seiring dengan meletusnya Arab Spring.

Skenarionya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia usai jatuhnya Bung Karno, dan kemudian Freeport dkk masuk ke Indonesia. Seandainya Assad jatuh, maka mereka bisa mengeruk kekayaan alam Suriah, sebagaimana yang mereka lakukan di Libya. Hanya saja, Perancis dkk kecele, karena Assad bertahan hingga kini.

Kemarin, dunia heboh oleh tragedi di Perancis yang telah menelan ratusan korban jiwa. ISIS mengaku bertanggung jawab atas tindakan tersebut. Dibalik duka para korban, ataupun amarah Hollande, penulis sepakat dengan analis-analis yang sudah banyak beredar, bahwa serangan ini merupakan false flag, sebagaimana yang ditulis Pepe Escobar,

“Setelah membaca sangat banyak berkas laporan, saya menemukan bahwa berdasarkan info dari seorang warga Denmark, salah satu penyerang di kafe Paris adalah orang yg sangat profesional, berpakaian hitam kepala hingga ujung kaki, bawa AK-47, sangat terlatih. Ini bukan penampilan biasa orangnya al-Zawahiri (=pimpinan Al Qaida); ini penembak jitu. Orang satu ini meninggalkan tempat kejadian dengan bebas; dan bertentangan dengan klaim polisi Prancis, orang ini mungkin belum ditangkap. Selain itu, dia tidak memakai rompi bunuh diri.

Intel Perancis bersumpah mereka memonitor sedikitnya 200 warga Perancis yang kembali dari “Syria-Iraq”. Sungguh pekerjaan mereka buruk sekali. Padahal Paris adalah kota yang dikontrol ketat oleh polisi. Sungguh mengejutkan ada 8 orang (minimalnya) jihadis bisa berkeliaran di Jumat malam dengan bebas, dengan berpakaian seperti pembunuh profesional.

Para teroris memilih sebuah restoran Kamboja kecil, murah dan nyaman, di mana pelanggannya kebanyakan kaum muda. Mereka memilih tempat yang didatangi orang berbagai bangsa. Ini artinya para teroris telah meneliti secara berhati-hati tempat itu selama berbulan-bulan.

Kombinasi lokasi-lokasi pembunuhan yang mereka pilih pun sangat simbolik. Ada pertandingan Perancis-Jerman yang disaksikan oleh Presiden; di stadion di mana semua batasan etnis dan agama larut jadi satu. Pertandingan ini simbol sejati multikulturalisme.

Ada band Amerika yang sedang manggung di sebuah gedung konser yang penuh dengan kaum muda.

Ada juga kafe kelas menengah yang tenang, didatangi orang-orang muda yang bebas dan sekuler.

Pemilihan lokasi ini memiliki konsep dan terukur; dan dengan hati-hati telah dipetakan oleh orang Perancis sendiri (mungkin mereka jihadis yang kembali dari “Syria-Iraq”).

Waktu yang dipilih pun sangat krusial (penting). Teror ini tak lama setelah AS dan Inggris mengumumkan mereka telah melenyapkan Jihadi John (penjagal ISIS asal Inggris). Dan beberapa jam sebelum perundingan tentang Suriah di Wina.”

Selanjutnya, Pepe menulis, “Kematian Kami Lebih Suci daripada Kematianmu” untuk menyindir sikap AS dan Uni Eropa yang mengutuk terorisme di Paris; tetapi diam saja saat ISIS mengebom Beirut awal pekan ini (40 warga sipil tewas dan 200 terluka). Penyebabnya adalah karena Beirut “basis” Hizbullah. [2]

Apa tujuan dari false flag tersebut?

Perancis tengah berada dalam krisis ekonomi. [3] Dan tentu saja, mereka butuh uang. Di masa depan, jika Suriah berhasil dijatuhkan, maka tak diragukan lagi Perancis akan ikut ‘mencicipi’ hasilnya. Di saat yang sama, perang Suriah juga membantu mereka mendapatkan uang dari jual beli senjata. Sejak tahun 2012, menurut Francois Hollande, Perancis telah mengirim senjata ke Suriah. Selain itu, Qatar berkali-kali dilaporkan membeli peralatan militer di Perancis, dan kita tahu, Qatar juga ikut menyuplai senjata kepada pemberontak di Suriah. [4] [5]

Dengan pengakuan ISIS bahwa mereka-lah pelaku terorisme di Perancis tersebut, maka bisa dipastikan hal ini akan dijadikan justifikasi bagi Perancis (dan sekutunya) untuk melakukan perang global melawan terorisme. Siapa targetnya? Tak diragukan lagi: negara-negara di Timur Tengah. Perang akan semakin lama dan berlarut-larut yang akan semakin memperlemah negara-negara di kawasan. Namun bagi para pembuat senjata, perang berkelanjutan adalah hal yang menguntungkan mereka.

Serangan di Perancis, untuk kesekian kalinya akan semakin memperburuk citra Islam. Seolah-olah, Islam mengajarkan kekerasan, pembunuhan dan pembantaian. Islam sudah sangat dirugikan dalam kasus Charlie Hebdo, dan di tahun yang sama, lagi-lagi dipertontonkan aksi keji atas nama Islam.

Islam perlu dijelek-jelekkan, dan hal ini bukannya tanpa sebab. Mengutip ulasan dari Professor Chossudovsky, “Minyak buminya ada di tanah Islam. Perang melawan terorisme dan kampanye kebencian yang ditujukan kepada orang Muslim berhubungan langsung dengan pertempuran demi minyak Timur Tengah. Bagaimana cara terbaik untuk menaklukkan cadangan-cadangan minyak yang luar biasa besar yang terletak di negeri Muslim? Buatlah konsesus politik terhadap negara-negara Muslim, gambarkan negara-negara ini tidak beradab, rendahkanlah budaya dan agama mereka, implementasikanlah pemetaan profil etnis terhadap Muslim di negara-negara Barat, dan kobarkanlah kebencian dan rasisme pada penduduk penghasil minyak bumi.”

Sejak kemarin, perundingan untuk masa depan Suriah telah dimulai di Wina. Dalam perundingan sebelumnya yang menghasilkan deklarasi Wina, di bagian akhir disebutkan bahwa ‘proses politik akan diserahkan kepada rakyat Suriah, yang berhak sepenuhnya atas Suriah dan mereka yang menentukan masa depan Suriah’. Bisa kita ambil kesimpulan, prospek perdamaian di Suriah sudah mulai terbuka lebar. Namun setelah terorisme di Perancis ini, akankah perdamaian Suriah akan terwujud, atau malah sebaliknya — Suriah (dan mungkin negara lainnya di kawasan Timur Tengah) akan diserang dengan kekuatan penuh oleh koalisi AS-NATO, atas nama perang melawan terorisme? (ba)

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Flag_of_Syria
[2] Status Dina Y. Sulaeman, di tautan ini: http://on.fb.me/1HQRVl0
[3] http://www.tribunnews.com/internasional/2014/08/28/prancis-sedang-hadapi-krisis-ekonomi-dan-politik
[4] http://www.dailystar.com.lb/News/World/2015/May-06/297025-france-delivered-weapons-to-syria-rebels-book-reveals.ashx
[5] http://english.alarabiya.net/en/News/world/2014/03/27/France-says-Qatar-to-buy-22-military-helicopters.html
[6] Buku Skenario Perang Dunia Ketiga, halaman 90-91

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL