Washington, LiputanIslam.com–Perusahaan media raksasa Facebook mengakui bahwa platform media sosialnya tidak mencegah tindak penghasutan kekerasan dan penyebaran kebencian di Myanmar di tengah peristiwa persekusi terhadap Rohingya.

Dalam sebuah laporan 62 halaman dari organisasi non-profit, Business for Social Responsibility (BSR), ditemukan bahwa di Myanmar, “Facebook telah menjadi sarana bagi mereka yang ingin menyebarkan kebencian dan menyebabkan bahaya, dan unggahan di sana berkaitan dengan kekerasan offline.”

Laporan itu juga menjelaskan bahwa Facebook telah “menciptakan lingkungan yang mendukung proliferasi pelanggaran HAM di Myanmar.”

Unggahan kebencian yang tersebar di Facebook terdiri dari berbagai macam, seperti pembunuhan karakter, penyebaran rumor, dan ujaran kebencian terhadap individual dari kelompok minoritas.

Proporsi terbesar dari ujaran kebencian ini ternyata ditargetkan kepada kaum Rohingya di Rakhine state.

Pada April lalu, media Guardian juga melaporkan bahwa ujaran kebencian di akun-akun Facebook warga Myanmar melonjak selama krisis Rohingya.

PBB pun mengiyakan peran besar Facebook dalam memperbesar sentimen anti-Muslim. Pada September lalu, PBB merilis laporan yang mengkritik respon “lamban dan tidak efektif” dari Facebook dalam mencegah situasi tersebut. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*