foto; the jakarta post

foto; the jakarta post

Jakarta, LiputanIslam.com — Grasi yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada aktivis Eva Susanti Hanafi Bande, masih menyisakan pertanyaan lain. Bagaimanakah nasib ratusan aktivis lainnya yang mengalami nasib serupa dengan Eva Bande?

Pada bulan September lalu, Perhimpunan Aktivis (PENA) 98 meminta pemerintahan Jokowi untuk memberikan amnesti dan grasi kepada aktivsi yang masih dalam tahanan. Adian Napitupulu, Sekjen PENA 98 dan sekaligus politisi PDI Perjuangan ini, menyatakan ada 140 aktivis yang ditahan di seluruh Indonesia.

“Dulu Jepang melalui people tribunal di Jepang, Jepang memberikan ganti rugi kepada semua perempuan yang menjadi korban jugun ianfu (perbudakan seks), bagaimana mungkin bangsa dan negara lain lebih bisa menghargai rakyat kita sementara kita tidak. Untuk itu kita meminta kepada Jokowi, ayo kita mulai pemerintahannya dengan niat baik dengan tidak mencurigai satupun rakyatnya sendiri. Caranya, bebaskan semua aktivis yang di tangkap jangan bebaskan koruptor, jangan bebaskan bandar narkoba,” kata Adian, Minggu, 28 September 2014, seperti dilansir portalkbr.com.

Adian Napitapulu menambahkan, ratusan aktivis yang masih di penjara diantaranya aktivis petani, nelayan dan HAM.

Seperti diketahui, Jokowi menandatangani Keputusan Presiden terkait grasi pada 19 Desember 2014. Eva Bande, menyatakan rasa syukurnya atas grasi yang diberikan. Grasi ini dianggap sebagai komitmen Presiden Jokowi untuk menyelesaikan konflik agraria secara beradab.

“Grasi ini keajaiban. Baru pertama kali aktivis petani diberikan grasi setelah sekian lama terus dikriminalisasi,” kata Eva dalam konferensi pers di kantor Walhi, Ahad, 21 Desember 2014, seperti dilansir tempo.co.

Semasa dibangku kuliah, Eva sudah akrab dengan dunia aktivis karena sering terlibat dalam gerakan mahasiswa. Latar belakang ini lah yang membuat Eva langsung bergerak ketika mendengar para petani di Desa Bumi Harapan, Kecamatan Toili Barat, Banggai, Sulwesi Tengah, diperlakukan semena-mena oleh PT Kurnia. Dia turut mengadvokasi petani untuk memprotes tindakan perusahaan kelapa sawit itu.

Unjuk rasa yang semula damai berakhir ricuh. Warga tidak bisa membendung kemarahan. Mereka membakar sejumlah aset dan fasilitas milik perusahaan. Ujungnya, Eva ditangkap dan ditahan pada 15 Mei 2010 karena dituduh sebagai penghasut. Dalam persidangan, Eva kemudian divonis 4 tahun. Vonis ini lebih tinggi dari tuntutan jaksa 3 tahun 6 bulan. Eva kemudian mengajukan banding namun ditolak. Ia kemudian dieksekusi pada 15 Mei 2014 di Yogyakarta setelah sebulan masuk dalam Daftar Pencarian Orang. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL