ErdoganLiputanIslam.com — Saat Erdogan keluar dari mobilnya, merapikan jasnya, memandang sekeliling, dan kemudian melambaikan tangannya sambil melangkah, ia tampak sebagai seorang negarawan sejati yang dicintai rakyatnya yang tengah berduka oleh bencana tambang batubara di Kota Soma tanggal 13 Mei lalu.

Namun pemandangan berubah drastis ketika Erdogan meninggalkan tempat itu dengan tergopoh-gopoh. Orang-orang mendorong-dorong mobilnya sembari memaki-makinya. Beberapa orang bahkan menendang pintu mobilnya. Orang lain melompati kap mobil dan menendang kaca depan mobilnya. Erdogan seperti seorang kepala gangster yang terjebak di wilayah gangster lain.

Bahkan kemudian laporan-laporan lain memperkuat kesan tersebut. Erdogan dan ajudannya terlibat baku pukul dengan para demonstran yang kecewa dengan kepemimpinan Erdogan, terutama terkait dengan musibah yang menewaskan sekitar 300 orang itu.

Rakyat sangat beralasan untuk marah, karena bukannya menyampaikan simpati dan permintaan ma’af pemerintah yang telah lalai menjalankan funginya sehingga terjadi musibah, Erdogan justru terkesan mengecilkan kesedihan rakyat atas musibah itu. Dalam pidatonya di hadapan para pekerja tambang, ia mengatakan bahwa musibah seperti itu sudah biasa terjadi.

Tentu ia tidak mengatakan bahwa beberapa minggu sebelum musibah terjadi, partai oposisi di Parlemen telah mengingatkan risiko bencana di tambang batubara Soma mengingat kondisinya keamanan yang jauh dari standar. Namun partai Partai Keadilan yang dipimpinnya menolak inisiatif untuk dilakukannya penyelidikan tentang masalah keamanan tersebut.

Insiden perkelahian antara Erdogan dengan pekerja tambang tersebut merupakan puncak dari berbagai tindakan tidak terpuji Erdogan sebagai seorang pemimpin. Lihat saja bagaimana ia membuat skenario “Kudeta Kelompok Ergenoken” untuk memenjarakan pesaing-pesaing politiknya terutama para jendral berpengaruh, wartawan dan cendekiawan, yang ternyata tidak terbukti, namun berhasil membunuh kharakter dan kehidupan ratusan orang tak bersalah. Lihat juga bagaimana ia memberangus Twitter dan YouTube karena telah membongkar kejahatan-kejahatannya.

Namun yang paling menghancurkan dasar-dasar kehidupan negara modern adalah, Erdogan juga menguasai sistem peradilan. Ketika polisi dan jaksa berusaha membongkar jaringan bisnis kotor kroni-kroni Erdogan, Erdogan langsung memecat ratusan polisi dan jaksa, kemudian memaksakan undang-undang baru yang menetapkan lembaga penyidikan berada di bawah kendali kementrian hukum. Selanjutnya, Erdogan pun dengan santai mengumumkan bahwa kroni-kroninya bebas dari jeratan hukum.

Ketika orang-orang memprotes kebijakannya membongkar Taman Taksim untuk dijadikan kawasan superblok bagi kroni-kroninya, ia memaki-maki mereka dengan bahasa yang tidak pernah digunakan seorang pemimpin. Bahkan ketika seorang remaja pejalan kaki akhirnya meninggal akibat tembakan granat asap polisi, Erdogan mengutukinya sebagai “teroris”.

“Kau antek Israel”! Demikian teriak Erdogan kepada orang yang dipukulnya dalam insiden kerusuhan di tambang batubara di Soma. Sementara di tempat yang jauh darinya, ajudan Erdogan menendangi berkali-kali seorang demonstran yang tidak berdaya di bawah kaki 2 orang polisi.

Lalu bagaimana bisa seorang pemimpin yang lebih mirip seorang gangster ini bisa terpilih menjadi pemimpin negara berpenduduk 80 juta jiwa selama 2 periode, dan kini dengan percaya diri mengincar jabatan Presiden? Apakah Erdogan memiliki ilmu hipnotis tingkat tinggi?

“Jawabannya adalah karena sebagian besar rakyat Turki tidak pernah melihatnya (keburukan-keburukan Erdogan). Sangat mudah, ia (Erdogan) mengontrol media konvensional, dan sangat jelas mereka tidak pernah menampilkannya di televisi dan bahkan koran. Mereka semua dimiliki oleh para konglomerat yang pada akhirnya dimiliki oleh para oligarkh (Erdogan),” tulis Melik Kaylan, jurnalis Forbes dalam laporannya tanggal 15 Juni.

Menurut Kaylan hanya sebagian kecil rakyat yang mengerti keburukan-keburukan Erdogan dan partai serta kroni-kroninya. Mereka adalah generasi muda yang “melek” internet dan teknologi, yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi di negerinya, termasuk mengerti bagaimana Erdogan dan teman-temannya merencanakan aksi biadab menyeret Turki ke dalam konflik berdarah Suriah dengan merancang serangan bom sendiri terhadap Turki, kemudian menyalahkan Suriah dan menyerangnya.

Di atas itu semua, kejahatan terbesar Erdogan adalah Erdogan membiarkan sebagian besar rakyatnya terlibat dalam tindakan korupnya dan bahkan turut menikmatinya. Maka ketika ratusan orang tewas akibat bencana ledakan tambang batubara di Soma, Erdogan dan para pendukungnya pun tidak meresa bertanggungjawab dan menyesal.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL