LiputanIslam.com — Tahun 2015 adalah tahun penuh tantangan bagi Arab Saudi. Raja Abdullah mangkat, dan digantikan oleh Salman bin Abdul Aziz. Naiknya Raja Salman dari klan Sudairi, dibarengi dengan dijungkalkannya keluarga kerajaan lainnya dari kekuasaan satu persatu. Sebut saja Pangeran Muqrin, yang awalnya diangkat sebagai Wakil Putera Mahkota, hanya selang beberapa bulan diganti oleh Pangeran Mohammad bin Nayef.

Arab Saudi juga gigit jari atas kegagalan demi kegagalan yang diderita dalam mewujudkan ambisinya di kawasan. Sebut saja upayanya untuk menggulingkan Bashar al-Assad, yang menemui jalan buntu. Perang Yaman juga membawa banyak kesulitan bagi negara agresor ini.

Namun sayangnya, Arab Saudi tidak belajar. Dengan angkuhnya, negara ini kini menciptakan konflik baru di benua Afrika. Pembantaian Muslim Syiah yang terjadi baru-baru ini, ditenggarai merupakan pesanan khusus dari Arab Saudi.

Baca juga: Ada Tangan Saudi di Balik Pembantaian Syiah Nigeria

Setidaknya, inilah empat masalah yang dinilai menyulitkan Arab Saudi pada tahun 2016, seperti dikutip dari Alalam, (23/12/2015):

Perang Suriah

Arab Saudi sedang putus asa dalam menghadapi Bashar al-Assad yang merupakan sekutu Iran, namun tteap tidak mau mengirimkan tentaranya untuk turut berperang. Meski demikian, sekitar 2.500 warga Arab Saudi telah bergabung dengan ISIS.

Arab Saudi merupakan importir nomor satu dunia untuk persenjataan dan sistem pertahanan. Kerajaan monarkhi ini menghabiskan sekitar $6,5 miliar untuk membeli pertahanan militer tahun lalu. Lalu, rezim Saudi juga mengrimkan misil TOW kepada kelompok Free Syrian Army (FSA). Arab Saudi juga setuju untuk menjamu AS yang melatih pemberontak Suriah. Pentagon berharap bisa melatih setidaknya 5.000 pemberontak Suriah untuk memerangi ISIS. Ada cukup banyak klaim di atas meja, namun tidak cukup kuat untuk mengubah permainan.

Baca juga: Kegagalan “Plan B” Arab Saudi di Suriah

Perang Yaman

Serangan Arab Saudi dalam menghadapi ‘kaum sarungan’ Yaman, jauh dari kata sukses. Kelompok revolusioner Ansarullah telah berhasil mengambil alih ibukota Yaman, dan tentu saja, rezim Saudi tidak akan menerima hal ini. Ia pun memimpin koalisi 10 negara Arab, menggunakan sekitar 100 pesawat tempur dan menyiapkan 150.000 tentara untuk melumpuhkan kebangkitan rakyat Yaman.

Apa hasilnya? Sekitar 21 juta rakyat Yaman, atau sekitar 80% dari keseluruhan populasi, kini bergantung dari bantuan kemanusiaan untuk bisa bertahan hidup.

Serangan Arab Saudi atas Yaman, hari ini telah memasuki hari ke 271. Dan tentu saja, superioritas dalam militer tidak berarti bisa menang mudah. Justru, yang menjadi korban sebagian besar adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Meskipun rezim Saudi mengklaim bahwa yang digempur adalah posisi Ansarullah, namun nyatanya, serangan mereka telah meluluh-lantakkan fasilitas umum dan rumah penduduk.

Akhirnya pada 22 Desember 2015, sebuah rudal balistik diarahkan ke Aramco, perusahaan minyak raksasa milik Arab Saudi. Tujuh kapal perang Arab Saudi juga berhasil dihancurkan oleh pasukan Yaman.

Baca juga: Kapal Perang Saudi Tenggelam Dirudal Pasukan Yaman

Jatuhnya Harga Minyak

Kembalinya Iran ke dalam pasar minyak dunia mungkin dianggap sebagai ancaman terbesar bagi Arab Saudi. Iran diprediksi bisa menjual sekitar 1,5 juta barrel minyak per hari hingga akhir 2016. Menurut majalah Time, dunia kini bersiap untuk menghadapi berlimpahnya minyak Arab Saudi. Untuk menghadapi para pesaingnya, Arab Saudi telah membiarkan jumlah pasokan minyak melimpah ruah sehingga harga minyak menjadi jeblok, dari $111 per barrel pada tahun 2014, menjadi sekitar $40 per barrel pada kinggu ini.

Tetapi, upaya Arab Saudi ini memiliki efek buruk di sisi lain, baik secara finansial dan politik. Minyak menyumbang sekitar 80% dari anggaran pendapatan Saudi. Nilai ekspor 90% berasal dari penjualan minyak. Dengan cadangan sekitar $640 miliar, Saudi bisa memainkan pola lama, yaitu menggunakan minyak untuk melumpuhkan lawan. Namun tidak demikian halnya dengan anggota OPEC lainnya seperti Venezuala dan Aljazair. Akibatnya, terjadi ketegangan dan pertengkaran di anatar negara anggota OPEC.

Baca juga: Wacana Kudeta Raja Salman, Kehancuran Arab Saudi di Depan Mata?

Suksesi Wakil Putera Mahkota

Sejarah terbesar dalam politik dalam negeri Arab Saudi adalah naiknya Mohammad bin Salman, pangeran berusia 30-an tahun sebagai Menteri Pertahanan dan Wakil Putera Mahkota. Artinya, ia berada di baris kedua pewaris takhta.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Arab Saudi, suatu kekuasaan dimonopoli oleh satu klan, padahal jumlah anggota keluarga kerajaan mencapai kurang lebih 15.000 orang. Akibatnya, terjadi goncangan besar dalam struktur kekuasaan Arab Saudi, dan banyak anggota keluarga yang marah.

Baca juga: Mengapa Ad Diyar, Media Milik Pangeran Al-Waleed Mengungkap Tragedi Mina?

Sementara itu, Mohammad bin Nayef, 55 tahun, adalah ‘kekasih’ dari pemerintah Barat, yang telah menjadi ujung tombak bagi Barat untuk “memerangi terorisme” di Timur Tengah.

Raja Salman sendiri secara aktif telah melakukan reshuffle dalam posisi kabinet demi mengokohkan kekuasaannya. Dengan demikian, tahun 2016 akan menjadi tahun semakin menguatnya pertarungan perebutan kekuasaan di internal keluarga kerajaan Arab Saudi. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL