ISIS Arab Saudi 2LiputanIslam.com — Mei 2015 lalu, kelompok teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syria (IS/ISIS/ISIL) menyatakan bahwa mereka ingin ‘membersihkan’ Semenanjung Arab dari Muslim Syiah — dan menyeru kepada para pemuda Arab Saudi untuk turut bergabung. Dua serangan diarahkan kepada masjid Muslim Syiah pada 22 dan 29 Mei, yang telah menelan 25 korban jiwa di kawasan timur Arab Saudi. [1]

Dalam rekaman sepanjang 13 menit, ISIS menyerukan kepada seluruh pengikutnya dimanapun mereka berada untuk membunuh musuh-musuh Islam, terutama orang-orang Syiah. “Mereka kafir dan murtad. Darah mereka halal ditumpahkan, harta mereka halal untuk diambil. Merupakan kewajiban bagi kita untuk membunuh mereka…”

Tentu saja, di hadapan publik internasional, Raja Salman mengecam penyerangan tersebut. Ia mengungkapkan simpatinya, dan berjanji akan menegakkan keadilan.

Namun bukankah, di saat yang sama, Arab Saudi juga memimpin Pasukan Koalisi Arab untuk menyerang Yaman. Ribuan penduduk Yaman telah gugur dan yang masih tersisa, tetatp terancam bom dan rudal yang sewaktu-waktu bisa menghantam rumah mereka. Narasi yang dikobarkan oleh Arab Saudi dan pendukungnya, serangan ini dilakukan untuk melindungi rakyat Yaman – atau lebih jelasnya — melindungi rakyat Yaman dari pengaruh Syiah. Mereka juga menuduh, Iran telah menyuplai pejuang Ansarullah Yaman dengan senjata.

Salah satu ulama yang dipuja-puji ISIS, Syekh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisy, menulis buku yang berjudul ‘Awan Gelap di Atas Ka’bah, Membongkar Kekafiran Saudi’, yang mengulas bahwasanya pemerintah Arab Saudi bukanlah pemerintahan yang berdasarkan hukum Islam. [2] Penulis membeberkan data-data bahwa pemerintah Arab Saudi menjalankan aturan/ hukum buatan manusia, baik untuk kebijakan dalam negeri ataupun luar negerinya. Gagasan ‘Kekafiran Saudi’ ini, tentu saja didukung oleh ISIS.

Bahkan Abu Bakar Al-Baghdadi, dalam rekamannya mengajak para pemuda Arab Saudi untuk bergabung dengan mereka dalam melawan Syiah yang dianggap mengancam Sunni. Ia juga menuding bahwa pemerintahan Arab Saudi yang dipimpin oleh King Salman merupakan anjing penjaga kepentingan Barat dan Israel. “Musuh-musuh Islam, termasuk Syiah, merupakan aliansi setan,” tambahnya.

Benar, akhirnya ISIS terus menerus meneror Muslim Syiah yang berada di kawasan Arab Saudi, menyerang ketika mereka tengah beribadah.

Mengingat Kembali Ucapan Terimakasih Mc Cain

“Terima kasih Tuhan, untuk Arab Saudi dan Pangeran Bandar, juga untuk sahabat-sahabat kami di Qatar,” ucap John Mc Cain, kepada reporter CNN, Candy Crowley pada Januari 2014. [3]

Mc Cain memuji Pangeran Bandar bin Sultan, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Intelejen Arab Saudi, yang telah mendukung pasukan pemberontak di Suriah. Free Syrian Army (FSA), kelompok yang oleh Barat disebut sebagai kelompok moderat, menerima banyak dukungan dana dan persenjataan dari Arab Saudi dan Qatar.

Kemudian, seorang pejabat senior Qatar mengungkapkan, “ISIS meruapakan bagian dari proyek Arab Saudi.”

Tentu saja, Arab Saudi membantah hal ini, sebagaimana mereka membantah tuduhan dari aktivis lokal bahwa pasukan keamanan tidak cukup melakukan upaya untuk mencegah serangan kepada Muslim Syiah. Mereka juga membantah ketika mantan Perdana Menteri Irak, Nouri Al-Maliki menuduh bahwa Arab Saudi mendukung ISIS. Namun di lapangan, terjadi transformasi faksi-faksi pemberontak secara berkelanjutan. Ketika ISIS semakin menguat, dan faksi lainnya — katakanlah FSA—mulai terdesak, maka pilihan mereka adalah bergabung dengan ISIS. Secara langsung maupun tidak langsung, Arab Saudi memiliki peranan penting dalam mensponsori teroris ISIS.

Mengingat Kembali Anjloknya Harga Minyak

Jatuhnya harga minyak disebabkan karena Arab Saudi memproduksi minyak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga stok minyak di pasar melimpah. Harga minyak pun jatuh. Tentu saja, yang sangat dirugikan oleh situasi ini adalah Rusia, Iran, dan Venezuela selaku negara penghasil minyak.

Prediksi Arab Saudi, jika harga minyak jatuh, maka Iran akan mengalami kesulitan ekonomi, dan menjadi tidak berdaya untuk mendukung Suriah. Hanya saja, strategi ini bak senjata makan tuan, karena Arab Saudi pun akhirnya mengalami defisit dan kesulitan ekonomi.

Persekutuan yang Unik

Arab Saudi, terang-terangan menyatakan anti-ISIS, dan ikut bergabung dengan Pasukan Koalisi anti-ISIS yang dipimpin Amerika Serikat (AS). [4] Sedangkan ISIS, juga terang-terangan menentang pemerintahan Arab Saudi. Namun uniknya, Arab Saudi dan ISIS berduet untuk menghancurkan – atau melemahkan Iran dan Syiah. Jika rezim Arab Saudi melibas penduduk Yaman, dan dengan segala cara berusaha melemahkan Iran, maka ISIS juga melakukan hal yang serupa. Serangan terhadap masjid-masjid Muslim Syiah di Arab Saudi oleh ISIS menimbulkan tanda tanya besar. Tidak cukup mampukah pihak keamanan Arab Saudi untuk mendeteksi adanya penyusup, atau adanya teroris dengan senjata dan bom di teritorial mereka? Bukankah pada seranga ISIS bulan Agustus lalu, misalnya, masjid yang diserang berada di kompleks kepolisian Arab Saudi?

Dalam buku The Art of War, Jenderal Sun Tzu menuliskan banyak strategi untuk menghadapi musuh. Misalnya, ia menulis, “Pinjam tangan seseorang untuk membunuh/ bunuh dengan pisau pinjaman.” Jika kekuatan kita minim, atau tidak ingin menggunakan kekuatan sendiri untuk mengalahkan musuh, maka carilah sekutu, atau perdayalah orang lain untuk mengalahkan musuh.

Tak perlu ditanyakan lagi, betapa bencinya Arab Saudi kepada Iran, dan ketakutannya jika mazhab Syiah semakin memiliki pengaruh. Jika Arab Saudi menggunakan ‘pisaunya’ sendiri untuk meredam pengaruh Iran dan Syiah di Irak, Yaman, maupun Bahrain — maka apakah untuk meredam pengaruh Syiah di dalam negerinya sendiri, Arab Saudi menggunakan ‘pisau’ pinjaman, yaitu dengan menunggangi ISIS? (ba)

—–

Referensi:

[1] http://www.reuters.com/article/2015/05/30/us-saudi-security-idUSKBN0OF0IU20150530
[2] http://kdimedia.cf/2014/04/17/awan-kelam-di-atas-kabah-membongkar-kekafiran-saudi/
[3] http://theconversation.com/whats-behind-saudi-arabias-connection-to-islamic-state-44552
[4] http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/ini-dia-daftar-negara-yang-diklaim-as-terlibat-dalam-koalisi-anti-isis/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL