film muhammadLiputanIslam.com — Akhir bulan lalu media-media massa internasional ramai memberitakan pembatalan penayangan perdana film tentang Nabi Muhammad yang diproduksi oleh Iran. Film yang disebut-sebut berbiaya produksi sebesar $30 juta (sumber-sumber lain menyebut $18 juta) itu merupakan film terbesar yang pernah dibuat oleh Iran.

Kabar tersebut mengingatkan kembali publik dunia tentang persaingan antara Iran, negara yang menjadi representasi kaum Shiah sedunia, dan Qatar, negara kerajaan yang sangat berambisi untuk menjadi representasi kaum Sunni sedunia.

Kabar tentang persaingan itu pertama kali muncul ke permukaan setelah diberitakan oleh majalah Hollywood Reporter awal tahun 2013 lalu setelah sebuah perusahaan Qatar, Al-Noor Holdings mengumumkan produksi film kolosal berbiaya $1 miliar tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad.

Jika untuk 2 lukisan klasik hiasan museum saja Qatar sanggup membayar hampir $600 juta, biaya sebesar itu tentu saja bukan masalah serius.

“Mereka tentu memiliki uang untuk melakukannya,” kata produser film The Lord of the Rings, Barrie Osborne, yang ditunjuk sebagai penasihat dalam proyek tersebut. Anggota tim penasihat lainnya adalah termasuk Sheikh Yusuf al-Qaradawi, ulama terkemuka kaum Sunni Arab.

“Bisa dimengerti kalau mereka sangat berhati-hati (dalam proyek ini),” tambah Osborne kepada Hollywood Reporter.

Tentu saja hal itu karena penggambaraan tentang Nabi Muhammad merupakan hal yang sangat sensitif di mata ummat Islam. Pada tahun 1977, ketika film tentang sejarah awal Islam “The Message” ditayangkan, sekelompok ekstremis menyandera 150 orang di Washington, D.C., AS, dan membunuh 2 orang di antaranya serta menembak calon walikota New York, Marion Barry.

Namun hal itu tidak menghentikan sutradara Iran, Majid Majidi, pembuat film “The Song of Sparrows” dan “Children of Heaven”, untuk menyutradarai film tentang Nabi Muhammad dengan biaya $30 juta, yang sebagiannya adalah bantuan pemerintah Iran.

Kedua proyek tersebut, menjadi sisi lain persaingan antara Iran dan Qatar yang secara intensif terlibat persaingan politik di kawasan, terlebih lagi di Suriah dan Palestina.

“Ini benar-benar seperti pertarungan politik, pada saat keduanya memiliki pandangan berbeda tentang Islam,” kata pengamat perfileman Iran di University of Toulouse, Philippe Ragel.

Dikabarkan bahwa pemimpin Universitas Al Azhar, sekolah Islam Sunni terbesar tempat Qardhawi pernah menuntut ilmu dan mengabdi, telah menyerukan kepada Majidi untuk membatalkan pembuatan filmnya karena dianggap telah melanggar ketentuan agama.

Dalam film Majidi disebut-sebut bahwa nabi Muhammad digambarkan dalam bentuk manusia utuh hanya dengan wajah yang disamarkan. Hal itu masih dianggap melanggar syariat bagi umat Islam Sunni umumnya. Sementara dalam film garapan Qatar hampir dipastikan sosok Nabi Muhammad tidak akan ditampilkan sama sekali.

“Orang-orang Sunni lebih ketat dalam hal penggambaran Nabi dibandingkan orang-orang Shiah,” tambah Ragel.

Film buatan Majidi tersebut rencananya ditayangkan pertama kali pada festival film internasional Fajr di Teheran, hari Minggu (1/2) lalu, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Revolusi Iran ke-36. Namun secara mendadak rencana itu dibatalkan.

Mehdi Heydari, produser eksekutif film tersebut menyebutkan alasan pembatalan itu. “Kopi akhir dari film ‘Muhammad, the Messenger of God’, telah siap, namun alasan di balik penundaan penayangan perdana film ini di Festival Film Fajr ke-33 adalah karena Majid Majidi, sang sutradara, harus pergi ke Jerman untuk menyelesaikan tahap akhir teknis.”

Meski tidak diakui, diduga kuat penundaan itu terkait dengan sentimen umat Islam di dunia yang tengah terluka oleh penayangan gambar Nabi Muhammad yang berujung pada penyerangan kantor majalah Charlie Hebdo di Paris bulan Januari lalu.

Menurut rencana, film ini merupakan bagian pertama dari trilogi film biografi Nabi Muhammad yang menggambarkan kehidupan Nabi dari lahir hingga usia remaja. Pertama kali diumumkan ke publik pada tahun 2011, penggarapannya sudah dimulai sejak tahun 2007 dengan draft awal skenarionya selesai dibuat pada tahun 2009.

Sebagian besar pengambilan gambarnya dilakukan di kota Qom, Iran dan sebagian lainnya di Afrika Selatan. Sinematografi film ini digarap oleh Vittorio Storaro dari Italia dan musiknya digarap oleh A. R. Rahman dari India. Penyanyi Sami Yusuf juga dilibatkan dalam film ini. Untuk mendukung keontetikan cerita, Majidi juga dibantu oleh tim penasihat yang terdiri dari para ulama dan sejarahwan Islam dari berbagai negara, baik yang bermazhab Sunni maupun Shiah.

Dalam pengumumannya tentang film ini pada bulan Oktober 2011, Majidi menyebut film ini sebagai “proyek film paling ambisius dan mahal” sepanjang hidupnya, yang akan “memberikan kebanggan bagi warga dan bangsa Iran”.

Dalam sebuah pernyataan di hadapan awak media internasional tentang film ini, Majidi mengatakan bahwa tujuan pembuatan film tersebut adalah untuk “memerangi pandangan yang tidak tepat tentang Islam pada masyarakat barat”.

Tentang penentangan Al Azhar terhadap proyeknya, Majidi mengatakan, “Saya mengajak sahabat-sahabat di Universitas Al-Azhar untuk melihat film ini terlebih dahulu, baru kemudian kita berdiskusi. Namun menurut saya secara umum Islam masih kurang melakukan karya budaya dan ini adalah sebuah ketidakadilan bagi umat Islam,” kata Majidi.

Majidi juga mengkritik satu-satunya film tentang Nabi Muhammad yang telah dibuat, “The Message” seperti tersebut di atas yang disutradarai oleh sutradara asal Suriah Moustapha Akkad. Menurutnya film tersebut lebih menekankan pada sisi kekerasan.

Pemahaman yang dominan tentang Islam di dunia saat ini tidak memperhatikan sisi keindahan dalam agama ini. Demikian Majidi menyebutkan. Pandangan ini sesuai dengan pesan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang disampaikan kepada generasi muda barat paska terjadinya serangan Charlie Hebdo bulan lalu. Ayatollah Ali Khamenei mengajak para pemuda-pemudi barat untuk mencoba memahami Islam secara lebih adil sembari mengecam media-media barat yang mendestruksi Islam.

Sementara itu untuk film garapan Qatar, belum banyak informasi bisa diperoleh. Bahkan situs wikipedia hanya menyebutkanna sekilas pada tag “Muhammad in film”, tanpa ada kaitan (link) apapun.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL