sorosJerusalem, liputanislam.com–Majalah Forbes Israel baru-baru ini merilis daftar orang-orang Yahudi terkaya di dunia. Yahudi terkaya adalah CEO Oracle, Larry Ellison, dengan kekayaan bersih diperkirakan sebesar $ 45 milyar Dollar. Hanya dalam setahun terakhir saja, dia menambah pundi-pundinya sebanyak 7 milyar dollar.

Tokoh-tokoh terkaya lain, antara lain adalah Walikota New York Michael Bloomberg, pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin. Pemilik Facebook, Mark Zuckerberg menempati posisi ke-16.
Sementara itu, George Soros, duduk di peringkat ke-7.

Soros menggunakan sebagian uangnya untuk mendanai berbagai gerakan revolusi di berbagai penjuru dunia. Dengan menggunakan organisasinya ‘Open Society’, Soros menggerakkan berbagai aksi oposisi yang bertujuan untuk menggulingkan rezim. Hal ini dinyatakan Kerry Raymond Bolton, seorang akademisi dari AS, dalam sebuah tulisan di Foreign Policy Journal berjudul ”Post-Qaddafi Libya: On the Globalist Road”.

Dalam tulisannya, Bolton menyebut, dalam setiap ”revolusi damai spontan” selalu akan ada seorang pria ataupun wanita yang sudah dipersiapkan untuk tampil dan mengambil alih.

Bolton menambahkan, orang-orang itu punya kesamaan latar belakang, sama-sama berpendidikan Barat, dan sejak awal memang sudah ”dipilih” oleh kalangan pemikir dan perencana (think tank) kelompok globalis.

Bolton mencontohkan tokoh revolusi di Ceko yang juga pemrakarsa kelompok perlawanan Piagam 77, Václav Havel. Kelompok Piagam 77 sendiri diketahui didanai organisasi nirlaba Amerika Serikat, National Endowment for Democracy. Seusai revolusi damai tahun 1989, Havel diketahui punya jasa sangat besar membawa Ceko masuk NATO. Dia pula yang menyokong ekspansi NATO ke seluruh kawasan Eropa Timur.

Kondisi sama juga terjadi di Myanmar. Kelompok globalis menyokong penuh Aung San Suu Kyi, yang bahkan juga mereka anugerahi dengan hadiah Nobel Perdamaian sebagai bentuk pengakuan negara Barat.

Dalam Arab Spring, Soros juga tak ketinggalan berperan. Di Suriah, misalnya, tangan Soros ikut berlumuran darah. Menurut pengamat politik Timur Tengah, Dina Y. Sulaeman, dalam bukunya Prahara Suriah, oposisi Suriah dan aksi penggulingan rezim Assad didukung oleh berbagai lembaga perencana (think-tank) AS, antara lain NED (National Endowment for Democracy), International Crisis Group, dan Brookings Institution. Dan Soros adalah donatur ICG. (by/jerusalempost/kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL