a-10 warthogLiputanIslam.com — Hari Selasa (19/5) sebuah insiden serius terjadi di Laut Cina Selatan ketika kapal perang AS nyaris terlibat bentrokan dengan kapal perang Cina.

Insiden ini mengisyaratkan bahwa konflik perebutan wilayah di kawasan itu telah mencapai tahap serius, dimana Cina yang tengah terlibat konflik dengan negara-negara tetangga di kawasan, tidak lagi berhadap-hadapan dengan negara-negara tetangganya yang lebih lemah, namun kini harus berhadap-hadapan langsung dengan lawan yang sepadan, yaitu AS.

Secara logika apa yang dilakukan AS dan Cina dalam konflik di Laut Cina Selatan itu tidaklah sepadan. Cina ‘hanya’ mengamankan halaman rumahnya, sedangkan Amerika harus berlayar separoh dunia untuk ‘menggertak’ Cina yang tengah bertengkar dengan sekutu-sekutu Amerika itu.

Risiko yang ditempuh AS itu sangatlah besar, yaitu perang terbuka melawan Cina, negara yang jumlah penduduk dan personil militernya terbesar di dunia dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika. Dan satu lagi, Cina juga memiliki persenjataan nuklir yang semestinya menjadi pertimbangan AS untuk tidak ‘menggertak’ Cina di halaman rumahnya.

Apakah Amerika sudah kehilangan akal, atau ini justru menjadi pilihan yang risikonya disadari sepenuhnya oleh Amerika?

Sementara itu di ujung dunia lainnya, di Ukraina, Amerika secara provokatif mendukung ‘kudeta’ terhadap pemerintahan terpilih sekutu Rusia, Presiden Victor Yanukovych, bulan Februari 2014. Kini bahkan pasukan Amerika telah berada di perbatasan Rusia di Ukraina timur.

Apa yang dilakukan Amerika di Ukraina bahkan lebih provokatif lagi. Ukraina, meski secara administratif adalah negara berdaulat, secara kultural-historis tidak bisa dilepaskan dari Rusia karena selama berabad-abad telah menjadi bagian integral dari Rusia. Sebagian penduduk Ukraina, terutama di wilayah Ukraina timur bahkan masih berbahasa Rusia. Campur tangan Amerika di Ukraina tidak bisa tidak akan dianggap sebagai menantang perang terhadap Rusia.

Rusia pun bertindak sigap. Tidak lama setelah penggulingan Yanukovych, Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea yang selama ratusan tahun menjadi pangkalan laut Armada Laut Hitam Rusia. Kemudian, Rusia pun membantu gerakan separatis Ukraina timur untuk bergabung dengan Federasi Rusia.

Namun, seperti yang dilakukan Cina, apa yang dilakukan Rusia hanyalah mengamankan ‘halaman rumah’-nya. Sementara AS kembali harus berlayar separoh dunia untuk menantang Rusia. Kabar terakhir Amerika bahkan akan mengirim pesawat pembom nuklir B-52 Stratofortress ke Swedia bulan Juni mendatang setelah sebelumnya pada tanggal 30 April mengirim pesawat-pesawat serbu-darat A-10 Warthog ke Estonia. Ini menyusul serangkaian langkah agresif Amerika di Eropa timur yang berdekatan dengan perbatasan Rusia, seperti penggelaran ratusan latihan militer dalam setahun terakhir serta pembentukan pasukan gerak cepat NATO untuk menghadapi Rusia.

Perjanjian gencatan senjata Misk I dan Misk II yang ditandatangani pihak-pihak yang bertikai untuk mengakhiri konflik bahkan menjadi mentah kembali setelah Amerika terus memprovokasi para pemimpin Ukraina untuk terus melanjutkan ‘kebijakan perang’ di Ukraina dan bukannya memilih jalan damai. Dalam bentuk yang paling provokatif, Amerika bahkan mengirimkan penasihat-penasihat militernya ke Ukraina untuk melatih pasukan Ukraina menghadapi para pemberontak separatis Ukraina timur yang didukung Rusia.

Baik Rusia maupun Cina adalah negara-negara yang tidak takut dengan Amerika. Ketika belum memiliki senjata nuklir, Cina bahkan pernah menantang Amerika dengan mengerahkan pasukannya menyerang pasukan-pasukan Amerika dalam Perang Korea awal dekade 1950-an. Konon, ketika pemimpin Uni Sovyet (Rusia) Joseph Stalin mengingatkan pemimpin Cina Mao Tse Tung tentang risiko dinuklir Amerika, Mao menjawab tegas: Rakyat Cina tidak akan habis meski dibom nuklir, tapi rakyat Amerika yang habis dinuklir Uni Sovyet.

Lalu, lagi-lagi mengapa Amerika menempuh risiko berperang dengan Rusia, negara yang bahkan memiliki hulu ledak nuklir yang lebih besar daripada Amerika? Federation of American Scientists memperkirakan Rusia memiliki 4.650 hulu-ledak nuklir, sementara Amerika hanya 2.468 hulu-ledak nuklir.

Don DeBar, aktifis anti-perang dan wartawan AS dalam sebuah wawancara dengan media Iran Press TV tanggal 20 Mei lalu, mengatakan bahwa Amerika tidak melihat alternatif lain untuk mempertahankan dominasinya di dunia, kecuali perang. Hal ini setelah Amerika melihat fakta bahwa kekuatan ekonominya sudah hampir dilampaui Cina, sementara kekuatan pengimbang negara-negara BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan) tumbuh semakin kuat.

“Tampaknya Amerika menyadari bahwa kekuatan ekonominya di dunia terus mengalami penurunan, dan dengan munculnya kekuatan negara-negara Selatan dan negara-negara BRICS, melihat perang sebagai satu-satunya jalan untuk mempertahankan dominasinya,” kata DeBar.

Sebagaimana dilaporkan Business Insider bulan Oktober 2014, pada akhir tahun 2014 GDP Cina menyamai AS pada angka $17 triliun. Selanjutnya ekonomi Cina pun meninggalkan Amerika sebagai negara dengan GDP terbesar di dunia.

Dunia selalu diwarnai dengan peperangan-peperangan besar ketika sebuah imperium besar terancam oleh pengaruh imperium pesaingnya, seperti persaingan imperium Yunani dengan Persia, Romawi dengan Khartago, Inggris dengan Jerman dalam Perang Dunia I, Amerika dengan Jepang dalam Perang Dunia II dan Amerika dengan Rusia dalam era Perang Dingin.

Maka apa yang terjadi dengan kondisi saat ini dengan ketegangan-ketegangan politik di Laut Cina Selatan dan Ukraina sama sekali tidak bisa diremehkan.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL