Bu RismaSurabaya, LiputanIslam.com—Dolly, lokalisasi pelacuran terbesar di Asia Tenggara itu, kini resmi ditutup. Dolly yang didirikan pada tahun 1967 oleh seorang wanita Belanda, Dolly Khavit, pada 18/6/2014 ditutup oleh seorang wanita pula, Tri Rismaharini.

Acara deklarasi penutupan Dolly dilakukan di Islamic Center, Jl Raya Dukuh Kupang, Surabaya, dengan dihadiri sejumlah pejabat, antara lain Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, dan Gubernur Jatim Soekarwo alias Pakde Karwo.

Seperti dilaporkan Detikcom, acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al Quran oleh sejumlah anak asal Putat Jaya, sebuah kelurahan di Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Gang Dolly sendiri berada di kawasan Putat Jaya ini.

Selanjutnya sekitar 100 warga Putat Jaya membacakan deklarasi penutupan, antara lain berbunyi, “Kami warga kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan Kota Surabaya berkeinginan agar pertama wilayah Putat Jaya menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib dan bebas dari lokalisasi prostitusi.”

Warga Putat Jaya juga meminta aparat menindak tegas pelaku tindak kejahatan perdagangan orang, pelaku perbuatan asusila dan penggunaan bangunan untuk perbuatan maksiat sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Dalam kesempatan itu, Kementerian Sosial melalui Menteri Salim Segaf Al-Jufri juga memberi sumbangan 7,3 milyar kepada eks-PSK Gang Dolly. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada perwakilan PSK yang menggunakan topeng.

Langkah tegas Walikota Surabaya ini mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak. Para Capres, baik Prabowo, maupun Joko Widodo, juga Mahfud MD, PKS, Partai Demokrat, dan sejumlah tokoh lain telah menyatakan apresiasi mereka. Bahkan Wakil Walikota Surabaya, Wisnu Sakti Buana, yang sering diberitakan menolak penutupan Dolly, sejak awal Juni lalu telah menyatakan akan berdiri di belakang Risma, seperti diberitakan Republika (3/6/2014).

Risma mengatakan bahwa deklarasi penutupan bukan pekerjaan pekerjaannya selesai. Masih banyak tugas lain yang harus dilakukan pemerintah kota dalam mengatasi permasalahan di Dolly. Antara lain, membangun sentra perekonomian yang halal dan memakmurkan warga, serta memberikan konseling psikologi kepada anak-anak yang tinggal di Dolly.

“Ini PR berat, tapi kita harus putus mata rantai itu,” kata Risma. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL