Foto: http://mirajnews.com/

Foto: http://mirajnews.com/

Gaza, LiputanIslam.com—Serangan brutal Zionis Israel dalam agresi militer yang disebut Operation Protective Edge terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza telah merengut ratusan korban jiwa.  Menurut laporan Press TV , yang mengutip pernyataan  Kementerian Kesehatan Palestina, jumlah korban tewas selama delapan hari serangan Israel telah mencapai 195 orang.  Sedangkan  1.400 warga Gaza lainnya juga telah terluka akibat serangan demi serangan yang masih memborbadir Gaza. Data PBB menunjukkan, 80 persen korban jiwa adalah warga sipil.

Seperti apakah kondisi Gaza terkini? Berikut ini adalah wawancara yang dilakukan oleh Tim Koresponden Mi’raj Islamic News Agency (MINA) dengan dr. Sa’id Shalah, Kepala Gabungan Rumah Sakit di Gaza Utara, yang berada di bawah Kementerian Kesehatan.

MINA: Bagaimana kondisi rumah sakit di wilayah utara Jalur Gaza setelah agresi Israel terbaru?

dr. Sa’id Shalah : Wilayah Jalur Gaza utara memiliki beberapa rumah sakit di antaranya Rumah Sakit Bait Hanun, Rumah Sakit Pelayanan Masyarakat, Rumah Sakit AlAudah, dan yang terbesar adalah Rumah Sakit Kama ‘Udwan yang berkapasitas 100 tempat tidur.

Selain itu juga terdapat Rumah Sakit Indonesia, yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Rumah Sakit Indonesia dengan Spesial Traumatologi, yang sangat diperlukan bagi warga Jalur Gaza utara. Kami berharap dalam waktu dekat Rumah Sakit Indonesia dapat segera beroperasi.

MINA: Bagaimana kondisi Rumah Sakit Kamal ‘Udwan selama perang ini?

dr. Sa’id Shalah : Kami sebagai warga Palestina dan sebagian tenaga medis berusaha melakukan tugas kami sesuai kemampuan kami. Kami insya Allah mengerahkan segala hal yang kami miliki dalam melayani warga kami tanpa memandang siapa mereka. Dan sebagaimana yang sudah diketahui secara umum bahwa kami mengalami kekurangan dari segi obat-obatan dan peralatan medis.

Untuk itu, kami meminta kepada masyarakat di kawasan Arab dan dunia untuk membantu kami dari segi ini.

merc-rsi-nowSelain itu, kondisi pintu perbatasan Rafah yang kembali tutup, menambah masalah tersendiri bagi kami. Kami kesulitan kembali menerima barang-barang kebutuhan untuk masuk ke Jalur Gaza, terutama kebutuhan medis. Kami mendesak kepada seluruh kalangan untuk bisa membantu kami agar pintu Rafah dibuka kembali secara normal.

Selama enam hari agresi ini, secara rutin Rumah Sakit Kamal ‘Udwan menerima pasien antara 60-70 pasien. Dalam waktu sepekan terakhir rumah sakit menerima 16 syuhada dan 350 korban luka, baik luka parah atau ringan. Dalam pemeriksaan ditemukan pasukan Zionis Israel mengarahkan serangannya pada kepala, dada dan perut korban dengan senjata rudal. Sehingga banyak korban meninggal dalam kondisi fisik mengenaskan.

Namun, para pasien yang masih bisa ditangani, kami usahakan semaksial mungkin. Adapun pasien yang tidak dapat kami tangani, segera kami rujuk ke Rumah Sakit utama di Jalur Gaza, yaitu Rumah Sakit Asy-Syifa.

Untuk perawatan inap, rumah sakit belum memungkinkan melakuan rawat inap terlalu lama bagi pasien, karena banyaknya menyusul pasien berikutnya. Sehingga petugas medis harus menangani pasien baru.

Masalah ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Rumah Sakit Kama ‘Udwan. Namun terjadi juga di seluruh rumah sakit di Jalur Gaza, apalagi pada saat-saat perang seperti saat ini.

MINA : Pesan Anda untuk Indonesia, karena tadi Anda menyebutkan RS Indonesia?

dr. Sa’id Shalah: Warga Indonesia adalah saudara-saudara kami, keluarga kami dan bagian dari kami. Mereka dapat merasakan perih seperti yang kami rasakan. Kami hanya dapat katakan “Jazaakumullaahu khairaa “(Semoga Allah membalas dengan pahala kebaikan).

Kami sangat membutuhkan dukungan moral dan mental, sebagaimana yang selalu mereka lakukan ketika kami dalam kondisi diserang seperti ini. Kami tahu, kaum muslimin di Indonesia selalu keluar dari rumah masng-masing mengadakan demonstrasi turun-turun ke jalan mengecam serangan Zionis Israel. Ini sebuah dukungan moral luar biasa bagi kami.

Terima kasih untuk seluruh masyarakat dunia terutama rakyat Indonesia untuk terus melakukan demo positif itu, dalam rangka menunjukkan kepada dunia bahwa seluruh dunia menolak agresi barbar Zionis Israel terhadap warga di Jalur Gaza, Palestina.

Terakhir, khusus untuk RS Indonesia di Gaza Utara, kami harapkan bisa segera beroperasi menangani warga kami yang memerlukan pengobatan. Tentu saja, ini perlu terus didukung secara materi oleh mayarakat di Indonesia. Apa lagi pada saat kondisi seperti saat ini, jika bisa difungsikan RS Indonesia itu, maka akan sangat bermanfaat bagi warga di sini.

Klik untuk memperbesar

Klik untuk memperbesar

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) lembaga kemanusiaan yang mendapat amanah membangun RS Indonesia di Gaza hingga kini terus mengupayakan segera beroperasinya RS tersebut, untuk dapat membantu merawat korban serangan Zionis Israel.

Prioritas utama tahap pembangunan saat ini agar segera beroperasi adalah melengkapi alat kesehatan (alkes) di ruang gawat darurat agar dapat segera digunakan untuk merawat korban yang berjatuhan. Untuk alat kesehatan dianggarkan sekitar 65 miliar rupiah, donasi dari masyarakat Indonesia.

RS Indonesia bertipe traumatologi dan rehabilitasi, berstatus wakaf dari Pemerintah Palestina seluas 16.261 meter persegi dengan kapasitas 100 tempat tidur, juga memiliki dua lantai serta satu lantai basement.

Selain itu, RS Indonesia juga memiliki IGD, empat buah kamar operasi, intensive care unit (ICU), laboratorium, instalasi radiologi, poliklinik, rehabilitasi medis seperti farmasi, dapur rumah sakit, laundry dan ketel uap. (L/K01/K02/K03/P03/R2/R1)

[ba]

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL