dr brantlyAtlanta, LiputanIslam.com — Seorang dokter asal AS yang tertular virus ebola di Liberia, akhirnya dikembalikan ke negara asalnya. Kini ia tengah menjalani perawatan intensif di Atlanta, Georgia.

Dr Kent Brantly tiba di AS dengan menggunakan pesawat khusus di pangkalan militer Dobbins, sebelum dibawa Emory University Hospital, Sabtu (2/8). Demikian lapaoran BBC News.

Rekan Brantly yang juga terjangkit virus ebola di Afrika, Nancy Writebol, direncanakan segera menyusul kembali ke AS.

Ebola telah merenggut 728 nyawa di negara-negara Afrika barat seperti Guinea, Liberia dan Sierra Leone sejak mewabah bulan Februari lalu. Virus ini menjadi salah satu virus mematikan dengan tingkat kematian mencapai 90% dari semua orang yang terjangkit. Virus menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh korban.

Departemen Kesehatan AS telah mengeluarkan peringatan untuk tidak bepergian ke negara-negara terjangkit di Afrika barat. Selain itu sebanyak 50 tenaga ahli tambahan telah dikirimkan AS ke wilayah-wilayah terjangkit.

Para pejabat kesehatan AS percaya, mereka mampu merawat pasien terjangkit virus ebola tanpa khawatir terjadi penularan. Unit khusus perawatan penyakit yang merawat Dr Brantly didirikan 12 tahun lalu untuk menangani pekerja-pekerja kesehatan yang tertular penyakit paling berbahaya.

Dalam segi penyebaran, virus ebola dianggap tidak terlalu mengkhawatirkan karena tidak menyebar melalui udara.

Badan pencegahan penyakit menular AS (US Centers for Disease Control and Prevention) sebelumnya tidak pernah memperkirakan akan merawat pasien virus ebola.

Organisasi dimana Dr Brantly bergabung, Samaritan’s Purse, telah mengumumkan pihaknya memindahkan 60 staff yang tidak terlalu penting dan belum tertular virus, kembali ke AS.

Organisasi ini juga menyebutkan bahwa Dr Brantly telah mendapatkan penawaran untuk menjalani ujicoba serum dari darah seorang anak yang berhasil selamat dari virus ebola, namun ia menolak dan memilih untuk dipulangkan.

Istri Brantly, Amber Brantly, mengatakan dalam pernyataannya bahwa dirinya masih berharap suaminya akan sembuh dari penyakit mematikan tersebut.

“Ini rumah sakit yang baik. Saya senang para pasien datang. Kita tidak bisa membiarkan mereka di Afrika untuk meninggal padahal mereka datang ke sana untuk menolong sesama manusia,” kata seorang staff rumat sakit yang merawat Brantly.

Institut Kesehatan AS mengatakan akan memulai ujicoba vaksin virus ebola bulan September mendatang.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL